Akibat Karhutla di Kalimantan, BNPB Minta Warga Kalteng dan Kalbar Pakai Masker

Sedang Trending 14 menit yang lalu
Petugas pemadam kebakaran Dinas Kehutanan Kalteng berupaya memadamkan api nan membakar lahan gambut di Kelurahan Bukit Tunggal, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (12/7/2026). Foto: Auliya Rahman/ANTARA FOTO

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat di wilayah terdampak kebakaran rimba dan lahan (karhutla), terutama Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng), menggunakan masker ketika intensitas asap mulai tinggi.

Warga juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan untuk menghindari akibat jangkitan saluran pernapasan akut (ISPA).

Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB, Brigjen Djohan Darmawan, mengatakan kondisi asap di sejumlah wilayah terdampak, khususnya Kalbar dan Kalteng, menjadi perhatian pemerintah.

Seorang penduduk setempat nan mengenakan masker saat melintasi kabut asap akibat kebakaran rimba dan lahan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (20/8/2026). Foto: REINA / AFP

“Khususnya di Kalbar maupun di Kalimantan Tengah nan sudah melampaui periode pemisah sehingga sudah ada warning dari (Kementerian) Lingkungan Hidup untuk menggunakan masker, khususnya lantaran asapnya sudah cukup tinggi khususnya di pagi hari,” tutur Djohan dalam konvensi pers daring, Sabtu (22/8).

Djohan mengatakan pemerintah wilayah dan pemerintah pusat turut membantu masyarakat dengan mendistribusikan masker di wilayah nan kondisi asapnya condong tinggi.

“Selanjutnya kami mengimbau kepada masyarakat, khususnya daerah-daerah nan terdampak, andaikan intensitas asap mulai tinggi agar menggunakan masker ataupun mengurangi aktivitas di luar ruangan untuk menghindari penyakit ISPA,” terang Djohan.

Selain paparan asap, kondisi lahan gambut menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla. Djohan menjelaskan api nan terlihat sudah padam di lahan gambut dapat kembali muncul ketika tertiup angin.

“Namun jika lahan gambut, mungkin pada saat penyelenggaraan pemadaman bisa padam, namun jika sudah kena angin dia bisa muncul kembali dengan kedalaman lahan gambut nan berbeda-beda di tiap provinsi,” jelasnya.

Menurut Djohan, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan nan dihadapi dalam penanganan karhutla di enam provinsi terdampak.

Di sisi lain, BNPB menyiagakan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan mempertimbangkan pertumbuhan awan di sejumlah wilayah.

Khusus di Kalbar, Djohan mengatakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan adanya pertumbuhan awan pada 23-27 Agustus.

“Jadi kita sudah menyiagakan OMC untuk melakukan penyemaian di lokasi-lokasi nan terdapat pertumbuhan awan, sehingga andaikan terjadi hujan dapat membantu tugas-tugas dari satuan darat dengan datangnya hujan buatan,” ucap Djohan.

Lebih lanjut, Djohan mengatakan pemerintah wilayah dan satuan teritorial terus mengoptimalkan support personel, peralatan, serta logistik untuk memperkuat Satgas Darat dalam penanganan karhutla.

“Pemerintah wilayah dan satuan teritorial terus mengoptimalkan, mendukung sumber daya personel, dan perangkat peralatan untuk penguatan Satgas Darat. Dalam perihal ini tadi kami sudah menyampaikan untuk penebalan-penebalan dalam support logistik perangkat peralatan Satgas Darat terus berlangsung,” tandas Djohan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan