Ajaib! Ledakan Harga Plastik Belum Kerek Inflasi RI, Ini Penyebabnya

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, kenaikan nilai plastik di pasaran nan terjadi belakangan ini rupanya belum menjadi aspek utama nan mendorong inflasi di tingkat konsumen.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, pengaruh nilai plastik terhadap inflasi tetap sangat berjuntai pada keputusan produsen meningkatkan nilai produk akhirnya ke masyarakat.

Amalia mengatakan, masyarakat pada dasarnya tidak mengonsumsi plastik secara langsung dalam jumlah signifikan. Karena itu, kenaikan nilai plastik belum otomatis terasa di kantong konsumen.

"Mengenai plastik, masyarakat kita tentunya di dalam keranjang konsumsi masyarakat tidak mengonsumsi plastik secara signifikan. Karena jika kita lihat dari 20 terbesar komoditas, ataupun peralatan nan dikonsumsi oleh masyarakat, di situ nan nomor 17 adanya air kemasan," ungkap Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (18/5/2026).

"Sepanjang air bungkusan itu harganya tidak berubah, tergantung dari perusahaan produsen air kemasan, apakah dia meningkatkan alias meningkatkan harganya akibat dari nilai plastik meningkat alias enggak. nan dirasakan oleh konsumen adalah bukan nilai plastiknya, tetapi nilai air kemasannya. Nanti kita lihat di dalam inflasi nan bakal kami terbitkan di awal Juni 2026," sambungnya.

Perabot alias peralatan rumah tangga di area Pasar Jatinegara, Jakarta, Selasa (5/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Foto: Perabot alias peralatan rumah tangga di area Pasar Jatinegara, Jakarta, Selasa (5/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Menurut dia, akibat kenaikan nilai plastik baru bakal tercermin dalam inflasi andaikan produsen makanan dan minuman mulai meningkatkan nilai jual produknya akibat biaya bungkusan nan meningkat.

Amalia pun mencontohkan produk seperti air minum dalam bungkusan (AMDK) maupun makanan nan menggunakan pembungkus plastik. Namun, dia menegaskan berat produk-produk berbasis plastik di keranjang konsumsi masyarakat tetap relatif kecil.

"Kalau kita lihat botol minuman plastik, lemari plastik, ini bobotnya di dalam konsumsi keranjang masyarakat tuh relatif sangat-sangat kecil. Nah ini artinya transmisi kenaikan nilai plastik kepada konsumen itu berjuntai dari seberapa besar produsen-produsen makanan/minuman nan menggunakan plastik dalam pembungkusnya, seperti air bungkusan alias kue-kue dalam plastik itu kemudian meningkatkan nilai barangnya. Itulah nan kemudian kelak dirasakan oleh konsumen dan tercermin di dalam indeks nilai konsumen (IHK)," terang dia.

BPS justru memandang sumber utama tekanan inflasi berasal dari komponen lain, nan berat pengeluarannya jauh lebih besar dalam konsumsi rumah tangga masyarakat Indonesia.

Amalia membeberkan, pengeluaran terbesar masyarakat saat ini tetap berasal dari tarif listrik, bensin, hingga beras. Karena bobotnya besar dalam keranjang konsumsi, perubahan nilai pada komoditas tersebut bakal jauh lebih terasa terhadap inflasi nasional dibandingkan plastik.

"Mengapa nilai plastik nan di pasaran itu meningkat dan belum kemudian terasa secara langsung kepada konsumen, lantaran jika kita lihat memang berat terbesar dari keranjang konsumsi masyarakat pertama adalah tarif listrik. Artinya, dari sekian konsumsi masyarakat, memang proporsi terbesar dikeluarkan oleh masyarakat itu pengeluarannya untuk tarif listrik, bensin, beras, kemudian perjanjian rumah, sewa rumah, nasi dengan lauk, lampau biaya langganan internet, untuk pembayaran perguruan tinggi, sigaret kretek mesin, bahan bakar rumah tangga, mobil, tarif pulsa telepon," jelasnya.

Ia pun menyinggung gimana perubahan tarif listrik selama ini sangat memengaruhi inflasi nasional. Ketika pemerintah memberi potongan nilai tarif listrik, inflasi langsung melandai. Sebaliknya, saat tarif kembali normal, inflasi kembali naik.

"Karena memang tarif listrik itu berat di dalam keranjang konsumsi masyarakat adalah nan terbesar," kata Amalia.

Selain listrik, bensin subsidi juga dinilai menjadi salah satu aspek sensitif terhadap inflasi. Menurutnya, selama nilai bensin subsidi belum mengalami penyesuaian, dampaknya terhadap inflasi tetap relatif tertahan.

"Kedua bensin, seandainya ada penyesuaian nilai bensin terutama nan subsidi, ini bakal juga bisa memberikan kontribusi terhadap inflasi. Karena sampai saat ini bensin nan subsidi, nan sebagian besar masyarakat kita mengonsumsi bensin bersubsidi, sehingga belum terasa dampaknya secara signifikan ke dalam inflasi," ujarnya.

Ia menambahkan, kenaikan nilai BBM nan belakangan terjadi lebih banyak berasal dari bensin non-subsidi, sehingga efeknya terhadap inflasi belum terlalu besar.

Tak hanya itu, beras juga disebut menjadi salah satu komoditas paling menentukan terhadap arah inflasi nasional lantaran berat konsumsinya sangat besar di masyarakat.

"Ketiga beras, makanya kemudian dari sini beras bakal sangat berpengaruh terhadap inflasi lantaran memang bobotnya di dalam keranjang konsumsi masyarakat kita relatif tinggi," pungkas Amalia.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News