Pendaratan perdana pesawat jumbo Airbus A380 Emirates di Bandara Soekarno-Hatta menjadi salah satu buletin terkenal kumparanBISNIS sepanjang Minggu (9/8). Selain itu, ada pula langkah Presiden AS Donald Trump nan menggelontorkan investasi USD 3 miliar untuk sektor pertambangan mineral kritis guna memutus ketergantungan dari China. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman buletin terkenal tersebut:
Pesawat 'Jumbo' Airbus A380 Emirates Mendarat Perdana di Soekarno-Hatta
Bandara Internasional Soekarno-Hatta mencatatkan tonggak sejarah baru dengan keberhasilan melayani pendaratan perdana pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380 milik maskapai Emirates, pada Minggu (9/8) pukul 22.25 WIB. Kehadiran armada berbadan lebar (wide-body) ini membuktikan kesiapan prasarana airport dalam menampung pesawat ultra-besar dengan kapabilitas angkut mencapai 600 penumpang dalam sekali penerbangan.
Langkah strategis Emirates ini merupakan ekspansi jasa menyusul kesuksesan operasional rute Dubai–Bali nan diluncurkan pada 1 Juni 2023 lalu. Saat ini, maskapai nan berbasis di Dubai tersebut tercatat sebagai operator dunia terbesar untuk jenis Airbus A380-800 dengan mengoperasikan sedikitnya 123 unit armada aktif. Rute baru ke Jakarta ini diharapkan memperkuat konektivitas udara dunia Emirates nan mencakup 144 destinasi di enam benua dengan agenda penerbangan harian dobel (double daily).
Demi Putus Ketergantungan dari China, Trump Guyur USD 3 M Sektor Tambang AS
Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump secara garang mengumumkan komitmen investasi senilai USD 3 miliar untuk memperkuat sektor pertambangan mineral kritis domestik. Langkah ekonomi makro ini sengaja diambil guna mengamankan rantai pasok industri strategis dari kekuasaan China, sekaligus memperkokoh kedaulatan sumber daya nasional menjelang rencana kunjungan kenegaraan Presiden Xi Jinping ke Washington pada September mendatang.
Alokasi biaya stimulus ini didistribusikan ke beragam proyek strategis, termasuk pinjaman senilai USD 1,4 miar kepada Sila Nanotechnologies Inc. untuk memacu produksi anoda silikon dan sel baterai lithium-ion.
Selain itu, Pentagon menyalurkan USD 400 juta kepada Sunrise Energy Metals Ltd. guna memperluas produksi skandium di Australia, serta support modal untuk produsen magnet inovatif Niron Magnetics sebesar USD 150 juta. Melalui skema pendanaan ini, AS menargetkan hilirisasi pertambangan nan mandiri, ditandai dengan pengoperasian kembali tambang rare earth pertama dalam 70 tahun terakhir dan pembangunan smelter aluminium baru pertama sejak 1980.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·