Warga berada di atas perahu tradisional dengan latar belakang jembatan Ampera Palembang nan tertutup kabut asap di area 16 ilir Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (23/8/2026).(ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/)
PENDERITA penyakit pernapasan kronis seperti asma diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi serangan asma akut akibat paparan asap kebakaran rimba dan lahan (karhutla). Langkah antisipasi medis dan penggunaan obat secara tepat menjadi krusial guna mencegah pemburukan kondisi kesehatan.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, menegaskan pentingnya konsultasi ke master untuk menyesuaikan jenis dan dosis obat selama periode tanggap paparan asap.
“Konsultasi ke master untuk jenis dan dosis obat. nan perlu diantisipasi tentu adalah serangan asma akut,” ujar Prof. Tjandra dikutip dari Antara, Selasa (25/8).
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini menjelaskan, pasien asma wajib mengonsumsi obat inhaler controller secara rutin sesuai petunjuk medis. Selain itu, obat reliever (pelega) kudu disiapkan dan digunakan dengan jeli andaikan mulai muncul indikasi spesifik seperti sesak napas.
Prof. Tjandra memaparkan bahwa asap karhutla mengandung partikel mikroskopis rawan seperti Particulate Matter (PM2.5) nan jika terhirup dapat memicu peradangan (inflamasi) pada saluran pernapasan.
Tak hanya itu, komponen asap juga memuat gas berbisa meliputi nitrogen dioksida (NO2), ozon, hidrokarbon aromatik, serta beragam senyawa organik hasil pembakaran vegetasi. Campuran ini membentuk unsur toksik kompleks nan membahayakan sistem organ manusia.
Gejala umum akibat paparan nan kudu diwaspadai mencakup batuk, batuk berdahak, sesak napas, hingga nyeri dada.
“Dampak akut seperti terjadi jangkitan saluran pernapasan akut alias ISPA. Dampak lanjutan seperti perburukan jangkitan paru, penyakit asma, dan penyakit lain seperti dapat menyebabkan peningkatan akibat gangguan kardio respirasi,” papar Direktur Pascasarjana Universitas YARSI tersebut.
Selain ancaman medis langsung, kebakaran rimba berskala besar dan berdurasi panjang berpotensi melumpuhkan sistem pelayanan kesehatan di wilayah terdampak. Bencana ini kerap mengganggu jaringan transportasi, kesiapan air bersih, hingga prasarana komunikasi.
Guna menekan akibat terpapar polutan tinggi, Prof. Tjandra membagikan sejumlah langkah pencegahan mandiri:
- Membatasi Aktivitas: Menghindari areal kebakaran aktif serta menunda perjalanan luar ruang nan tidak mendesak.
- Perlindungan Alat Pernapasan: Menggunakan masker berkualifikasi baik alias respirator jika terpaksa beraktivitas di sekitar letak karhutla.
(Ant/P-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·