Pisolithus madagascariensis, jamur gasteroid (juga dikenal sebagai jamur bola pewarna, jamur batu kacang polong, alias jamur kotoran) nan baru dideskripsikan dan endemik di Madagaskar, adalah salah satu dari '10 jenis baru terbaik tahun 2024' jenis Kew.(Bryn Dentinger)
KECERDASAN buatan (artificial intelligence/AI) sekarang menjadi tumpuan angan baru dalam upaya menyelamatkan keanekaragaman hayati bumi. Para mahir botani terkemuka mengungkapkan teknologi AI dapat membantu manusia memenangkan pacuan waktu melawan kepunahan massal tumbuhan nan menjadi penopang ekosistem global.
Selama ini, metode konvensional untuk mengidentifikasi dan mengatalogkan jenis tumbuhan baru memerlukan waktu nan sangat lama. Spesies tumbuhan baru sering kali kudu menunggu rata-rata hingga beberapa dasawarsa di dalam lemari spesimen herbarium sebelum akhirnya sukses dideskripsikan secara resmi oleh para ahli. Masalahnya, dengan laju kerusakan alam nan masif akibat deforestasi dan perubahan iklim, banyak jenis tumbuhan diproyeksikan bakal punah apalagi sebelum intelektual sempat mendokumentasikan keberadaan mereka.
Untuk mengatasi krisis ini, para peneliti dari Royal Botanic Gardens, Kew, berbareng jaringan intelektual internasional, mulai melatih model AI berskala besar. Sistem komputer canggih ini dirancang untuk menganalisis jutaan gambar digital dari spesimen tanaman nan tersebar di herbarium seluruh dunia. AI bisa mengenali pola anatomi rumit secara instan, memprediksi status akibat kepunahan suatu tanaman, hingga mengidentifikasi jenis baru nan potensial dalam hitungan menit, sebuah tugas nan biasanya memerlukan waktu bertahun-tahun jika dilakukan secara manual oleh manusia.
Kecepatan ini sangat krusial bagi masa depan planet kita. Tumbuhan bukan hanya sekadar penghias alam, melainkan penyedia oksigen, sumber pangan, bahan baku obat-obatan, serta penyerap karbon utama nan menjaga stabilitas suasana bumi. Kehilangan satu jenis tumbuhan dapat memicu pengaruh domino nan merusak rantai makanan dan menakut-nakuti kelangsungan hidup satwa serta manusia di ekosistem tersebut.
Melalui integrasi teknologi kepintaran buatan ini, para mahir botani optimistis dapat memetakan wilayah-wilayah keanekaragaman hayati nan paling kritis dan mendesak untuk dilindungi. Peta digital berbasis info AI ini bakal membantu pemerintah dan organisasi lingkungan dalam mengambil kebijakan konservasi nan lebih cepat, tepat sasaran, dan efisien.
Teknologi ini bukan bermaksud untuk menggeser peran para ilmuwan, melainkan menjadi asisten super nan melipatgandakan kapabilitas kerja manusia. Dengan memanfaatkan AI untuk menangani pemrosesan info skala besar, para mahir botani dapat mengalihkan konsentrasi mereka langsung pada tindakan pengamanan di lapangan sebelum semuanya terlambat. (The Guardian/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·