Ada BYD-Wuling, 10.000 Kontainer 2 Minggu Tak Diangkut dari Priok

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebanyak 10 ribu kontainer dikabarkan bertumpuk di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama mengungkapkan penyebab masalah tersebut.

Dia menjelaskan masalah itu bukan lantaran proses manajemen kepabeanan. Namun penumpukan kontainer lantaran perusahaan importir membiarkan barangnya tetap berada di pelabuhan dalam waktu lama.

Para perusahaan itu dipastikan juga telah menyelesaikan manajemen di pelabuhan.

"Ketika kontainer-kontainer sudah mengalami pengeluaran, peralatan tetap terjadi penumpukan, lantaran para pelaku tidak segera melakukan pengeluaran," kata Djaka saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (15/6/2026).

Para perusahaan memanfaatkan akomodasi pelabuhan untuk membikin peralatan nan diimpor tidak langsung keluar pelabuhan selama tiga hari. Bahkan ada nan mencapai lebih dari 2 minggu.

"Contoh seperti BYD-Wuling tetap memanfaatkan akomodasi nan diberikan pelabuhan selama 3 hari setelah SPPB (Surat Persetujuan Pengeluaran Barang) keluar apalagi lebih dari 2 minggu tidak diangkat keluar, kemarin nyaris 10 ribu kontainer nan di pelabuhan," tegasnya.

Untuk menyelesaikannya, Direktorat Kenderal Bea Cukai (DJBC) telah melakukan pemaksaan agar peralatan tidak dibiarkan tertumpuk dalam waktu lama. Sebab perihal ini membikin dwelling time terganggu.

Djaka menjelaskan penyebab perusahaan menyimpan barang-barangnya berada di pelabuhan lantaran lebih murah, dibandingkan ditempatkan di luar pelabuhan.

Ke depannya, pihak Bea Cukai juga bakal mendorong para perusahaan untuk menempatkan peralatan nan dikirim di luar pelabuhan.

"Karena kesulitan tempat di luar, sehingga mereka dengan mengingat cost lebih murah dari luar mereka memanfaatkan itu. Mungkin kita bakal segera mendorong mereka ke lini dua, di tempat luar pelabuhan," tuturnya.

(mij/mij)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News