Jakarta, CNBC Indonesia - Abu vulkanik dapat menjadi masalah mahal bagi maskapai lantaran gangguan penerbangan tidak serta-merta menghilangkan seluruh biaya nan melekat pada operasi pesawat. Bahkan ketika penerbangan dihentikan, sejumlah pengeluaran tetap berjalan.
Tekanan pertama datang dari pendapatan nan lenyap ketika penerbangan dibatalkan. Kursi nan sebelumnya sudah terjual tidak lagi menghasilkan pendapatan penerbangan, sementara proses refund dapat membikin arus kas maskapai ikut tertekan.
"Komponen terbesar biasanya berasal dari pendapatan nan lenyap akibat pembatalan. Secara kasar, kontribusinya bisa sekitar 50% sampai 60% dari total akibat finansial lantaran bangku nan sudah terjual tetapi penerbangannya tidak melangkah berarti revenue-nya hilang," kata Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto kepada CNBC Indonesia, Selasa (8/9/26).
Masalahnya, pembatalan penerbangan juga tidak menghapus biaya tetap perusahaan. Pesawat tetap mempunyai tanggungjawab leasing pesawat, sementara kru dan beragam kebutuhan operasional tetap kudu ditangani meskipun pesawat tidak terbang.
"Pesawat tetap mengalami depresiasi alias biaya leasing, crew tetap kudu dibayar, dan ketika penerbangan dialihkan justru muncul tambahan biaya fuel serta parkir di airport alternatif. Jadi dalam kondisi IROP (Irregular Operations), pendapatan turun tetapi sebagian besar biaya tetap berjalan," ujar Bayu.
Penanganan penumpang menjadi pos lain nan ikut membesar ketika gangguan berjalan berjam-jam. Maskapai kudu menyiapkan beragam jasa sesuai ketentuan nan berlaku, terutama ketika keterlambatan semakin panjang alias penerbangan kudu dibatalkan.
"Untuk penumpang, ada biaya makan, komunikasi, akomodasi untuk kondisi tertentu, sampai proses refund alias perubahan penerbangan. Kalau gangguan terjadi sampai malam dan penumpang memerlukan hotel, biaya jasa ini bisa meningkat cukup signifikan," kata Bayu.
Selain itu, terdapat potensi biaya teknis andaikan pesawat betul-betul terpapar abu vulkanik. Abu dapat menjadi persoalan serius bagi mesin pesawat sehingga pesawat nan melewati area terkontaminasi dapat memerlukan pemeriksaan tambahan sebelum kembali beroperasi.
"Kalau pesawat sampai terbang di area nan terkena abu, ada akibat maintenance. Pemeriksaan mesin, termasuk borescope check, dapat diperlukan dan biayanya bisa mencapai sekitar US$20 ribu sampai US$50 ribu per engine. Ini nan membikin maskapai sangat berhati-hati terhadap volcanic ash," tutur Bayu.
(hoi/hoi)
[Gambas:Video CNBC]
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·