Abu Vulkanik Anak Krakatau Meluas, Warga Diminta Terus Pantau Kualitas Udara

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH). terus memantau sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Plt Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH/BPLH, Noer Adi Wardoyo, meminta masyarakat tetap tetap tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan seiring dengan meluasnya sebaran abu vulkanik tersebut.

"Kondisi saat ini menuntut kita untuk lebih mawas diri seiring meluasnya abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Di tengah situasi ini, kepedulian terbesar kami di KLH/BPLH adalah memastikan Anda dan family tetap sehat dan aman," ujar Noer Adi melalui keterangan tertulis, Minggu (6/9/2026).

Hingga Minggu (6/9/2026) pukul 14.00 WIB, sistem Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menunjukkan perbedaan kondisi udara nan cukup signifikan antar-wilayah. Berikut rinciannya:

Kategori Sedang: Jakarta GBK (64), Serang Sumurpecung (85), Tangerang Pasir Jaya (65), Tangerang Selatan Serpong (78), Cilegon Pulomerak (63), dan Kabupaten Bogor Leuwiliang (83).

Kemudian di wilayah Sumatera Bagian Selatan, parameter kritis PM2.5 membikin kualitas udara di beberapa titik menyentuh level Sangat Tidak Sehat. Berikut rinciannya:

Kategori Sangat Tidak Sehat: Palembang Bukit Kecil (216), Kab. Penukal Abab Lematang Ilir (237), dan Kab. Ogan Ilir (213).

Kategori Tidak Sehat: Kab. Lahat (112), Kabupaten Musi Rawas (165), Kota Prabumulih (139), Kabupaten Musi Banyuasin Serasan Jaya (128), Kabupaten Tebo (169), Jambi Paal Lima (166), dan Kab. Tanjabtim Muara Sabak (114).

Kategori Sedang: Kabupaten Muara Enim (81), Bengkulu Singaran Pati (61), dan Bandar Lampung Talang (57).

Kategori Baik: Kabupaten Lampung Selatan Way Urang (30).

"Buruknya kualitas udara di Sumatera Bagian Selatan juga dipicu oleh akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla)," ucap Noer Adi.

"Selain itu, perlu kami sampaikan bahwa KLH/BPLH juga tetap memperdalam hubungan langsung peningkatan partikulat dengan erupsi GAK nan memerlukan kajian teknis lebih lanjut," sambung dia.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita