94 Warga Meninggal di Pengungsian Gempa NTT, DPR Desak Evaluasi Serius

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mendesak pertimbangan serius dalam penanganan para pengungsi atas kejadian 94 penduduk meninggal di pengungsian pascagempa besar di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus lalu.

Anggota Komisi VIII DPR, Hetifah Sjaifudian menilai kejadian tersebut tak boleh dianggap sepele. Apalagi, jumlahnya lebih banyak dibanding penduduk meninggal akibat terdampak langsung gempa.

"Besarnya nomor tersebut kudu menjadi perhatian serius dalam pertimbangan perlindungan dan pelayanan bagi masyarakat setelah bencana," ujar Hetifah saat dihubungi, Jumat (18/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hetifah menyampaikan duka cita terhadap para korban. Hasil verifikasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan BNPB mencatat sebagian besar korban meninggal merupakan golongan lanjut usia dengan penyakit kronis, seperti stroke dan glukosuria melitus.

Menurut dia, kebenaran bahwa kebanyakan korban adalah pengidap penyakit kronis justru menunjukkan urgensi sistem pengungsian nan bisa mengenali dan melindungi golongan rentan sejak hari pertama.

"Kita perlu memandang lebih dalam apa nan terjadi selama mereka berada di pengungsian. Apakah lansia dengan glukosuria memperoleh obatnya secara teratur? Ini nan perlu dievaluasi secara terbuka," kata politikus Golkar tersebut.

Hetifah memandang kondisi pengungsian bisa menjadi tantangan kesehatan nan berat. Jika kondisi itu itu berat bagi penduduk sehat, maka bakal lebih berat bagi lansia, bayi dan balita, ibu hamil, penyandang disabilitas, serta penduduk dengan penyakit kronis.

Sejumlah laporan dari lapangan sebelumnya menggambarkan keterbatasan di sebagian letak pengungsian, mulai dari selimut dan tempat berlindung hingga air bersih, obat-obatan dan akomodasi kesehatan.

"Kasus seorang balita nan kondisinya memburuk lantaran kedinginan sangat menyentuh hati saya. Bencana semestinya tidak berakhir kita tangani ketika penduduk sudah sukses dievakuasi," ujar Hetifah.

Oleh lantaran itu pihaknya mendorong BNPB, Kementerian Kesehatan, pemerintah wilayah dan unsur mengenai melakukan pertimbangan terhadap 94 kasus kematian tersebut. Evaluasi bukan untuk mencari pihak nan disalahkan, namun agar perlu ditangani bersama.

"Tujuannya bukan mencari siapa nan kudu disalahkan. Kita perlu mengetahui apakah ada kematian nan sebenarnya dapat dicegah. Kalau ada titik lemah dalam sistem kita, kudu diperbaiki sekarang agar tidak terulang pada musibah berikutnya," kata Hetifah.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan ada 94 pengungsi gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) nan meninggal bumi di pengungsian.

Hal itu disampaikan Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam konvensi pers secara daring pada Selasa (15/9) lalu.

"Korban nan meninggal secara langsung akibat gempa bumi itu 48 orang, tetapi secara tidak langsung nan ada di pengungsian ada 94 orang," kata Berton seperti dikutip dari Youtube BNPB pada Kamis (17/9).

Dengan demikian, total jumlah korban meninggal mengenai bencanagempa itu adalah 142 orang.

(thr/kid)

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional