9 Pernyataan "Asbun" Trump terkait Perang Iran dan Ekonomi AS

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah serangkaian pernyataannya mengenai perang dengan Iran dan kondisi ekonomi domestik dinilai makin jauh dari kekhawatiran nan dirasakan masyarakat Amerika.

Dalam kurun waktu hanya sekitar 24 jam, Trump melontarkan dua komentar nan memicu kontroversi. Pada Selasa (7/6/2026) pagi, dia meremehkan kejadian jatuhnya helikopter tempur Apache milik Angkatan Darat AS nan ditembak jatuh Iran saat gencatan senjata berlangsung. Kepada Wall Street Journal, Trump menyebut kejadian tersebut "bukan masalah besar".

Sehari kemudian, saat inflasi AS melonjak menembus 4% untuk pertama kalinya dalam 3 tahun terakhir, Trump justru merespons dengan kalimat nan mengejutkan.

"Saya menyukainya. Saya suka inflasi," kata Trump ketika ditanya mengenai info inflasi terbaru.

Rangkaian komentar tersebut, sebagaimana dirangkum CNN International, memperkuat kritik bahwa Trump semakin tidak peka terhadap kekhawatiran publik mengenai akibat perang Iran maupun tekanan ekonomi nan dirasakan rumah tangga Amerika.

Dalam beberapa bulan terakhir, Trump berulang kali dituding merespons keresahan masyarakat bukan dengan empati, melainkan dengan meremehkan alias apalagi menyangkal adanya masalah nan sedang dihadapi warga.

Kematian Tentara Disebut Bagian dari Perhitungan

Salah satu komentar nan menuai kritik muncul setelah laporan pertama mengenai tiga tentara AS nan tewas dalam bentrok Iran.

Ketika berbincang kepada NBC News, Trump tampak memasukkan korban jiwa tersebut ke dalam kalkulasi faedah dan biaya perang.

"Kami kehilangan tiga orang, tetapi kami memang memperkirakan bakal ada korban. Namun pada akhirnya ini bakal menjadi kesepakatan nan dahsyat bagi dunia," ujarnya.

Dalam pernyataan lain, Trump apalagi mengatakan, "Memang begitulah adanya," sembari memperkirakan bakal ada korban tambahan di masa mendatang.

Pernyataan tersebut langsung menuai kecaman dari Partai Demokrat nan menilai Trump kandas menunjukkan empati terhadap family korban.

Harga Minyak Naik Dinilai Menguntungkan

Trump juga beberapa kali berdasar bahwa kenaikan nilai minyak sebenarnya menguntungkan Amerika lantaran negara itu merupakan produsen minyak terbesar di dunia.

"Amerika Serikat adalah produsen minyak terbesar di dunia, jauh di atas negara lain, jadi ketika nilai minyak naik, kami menghasilkan banyak uang," tulis Trump di media sosial pada Maret lalu.

Namun kritik bermunculan lantaran sebagian besar penduduk AS tidak bekerja di sektor minyak dan justru merasakan beban akibat naiknya nilai energi.

Anak Tak Perlu Banyak Boneka dan Pensil

Komentar Trump mengenai akibat tarif impor terhadap konsumen juga sempat menjadi bahan perdebatan.

Pada April 2025, Trump mengatakan family Amerika bisa mengurangi jumlah peralatan nan dibeli untuk anak-anak mereka.

"Mungkin anak-anak bakal punya dua boneka, bukan 30 boneka," katanya.

Ia kemudian membikin pernyataan serupa mengenai perangkat tulis.

"Anda tahu, Anda bisa mengurangi produk tertentu. Anda bisa mengurangi pensil, lantaran di bawah kebijakan China, setiap anak bisa mendapatkan 37 pensil. Mereka hanya memerlukan satu alias dua saja," ujarnya.

Komentar tersebut dianggap mengabaikan realita bahwa kenaikan nilai peralatan konsumsi telah membebani banyak family kelas menengah dan pekerja.

Membanggakan Keuntungan Orang Kaya di Davos

Trump juga menuai kritik saat menghadiri Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pada Januari lalu.

Di tengah tekanan ekonomi nan tetap dirasakan sebagian penduduk AS, Trump justru membanggakan keberhasilan kebijakannya dalam memperkaya kalangan bisnis.

"Saya apalagi tidak lagi bertanya gimana keadaan Anda sekarang. Rasanya semua orang menghasilkan begitu banyak uang," kata Trump kepada para CEO nan hadir.

Ia menambahkan bahwa pemerintahannya telah menyediakan "platform" nan memungkinkan para pelaku upaya memaksimalkan keahlian mereka.

Pernyataan tersebut dianggap bertentangan dengan gambaran populis nan selama ini dibangun Trump sebagai pembela kelas pekerja.

Serangan Iran Dianggap Bukan Masalah Besar

Sikap Trump nan meremehkan ancaman Iran juga terlihat setelah Teheran meluncurkan serangan ke pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, dan airport Kuwait pekan lalu.

Trump menyebut serangan itu "bukan masalah besar" dan menggambarkannya sebagai corak pembalasan nan dapat dimengerti.

Pernyataan tersebut muncul meski ketegangan antara Washington dan Teheran saat itu tetap sangat tinggi.

Kenaikan Harga BBM Disebut "Recehan"

Pada bulan lalu, Trump juga meremehkan akibat kenaikan nilai bahan bakar.

"Ini hanya recehan," katanya kepada wartawan. "Saya menghargai semua orang nan bersedia menanggungnya untuk sementara waktu. Tidak bakal berjalan lama."

Padahal survei Reuters/Ipsos menunjukkan nyaris dua pertiga penduduk Amerika mengaku kenaikan nilai BBM telah memengaruhi kondisi finansial rumah tangga mereka setidaknya dalam tingkat tertentu.

Persoalan Keterjangkauan Disebut Tipuan

Sepanjang tahun lalu, Trump berulang kali menyebut rumor keterjangkauan biaya hidup sebagai "tipuan" alias "penipuan".

"Ini adalah penipuan. Saya pikir keterjangkauan adalah penipuan terbesar," katanya dalam salah satu kesempatan.

Pernyataan itu membingungkan banyak pihak lantaran selama kampanye Pilpres 2024, Trump justru menjadikan penurunan biaya hidup sebagai salah satu janji utama.

Sejumlah survei menunjukkan kebanyakan penduduk AS percaya keterjangkauan biaya hidup merupakan masalah nyata dan menilai pemerintah belum memberikan perhatian nan cukup.

"Saya Suka Inflasi"

Komentar terbaru Trump mengenai inflasi diperkirakan bakal terus menjadi sorotan menjelang pemilu sela AS 2026.

Saat ditanya mengenai lonjakan inflasi hingga 4,2%, nan sebagian dipicu kenaikan biaya daya akibat perang Iran, Trump justru menilai info tersebut positif.

"Angkanya sangat bagus," kata Trump. "Saya menyukainya. Saya suka inflasi."

Trump tampaknya berupaya berdasar bahwa tekanan nilai bakal mereda setelah bentrok berakhir. Namun pernyataan tersebut segera memicu kritik lantaran dianggap mengabaikan beban nan dirasakan masyarakat akibat kenaikan nilai kebutuhan sehari-hari.

"Saya Tidak Memikirkan Kondisi Keuangan Warga Amerika"

Dari seluruh komentar kontroversial nan muncul belakangan ini, salah satu nan paling banyak menuai kritik adalah pernyataan Trump mengenai kondisi finansial masyarakat.

Ketika ditanya bulan lampau apakah akibat ekonomi perang Iran memengaruhi upayanya mendorong perdamaian, Trump menjawab bahwa perihal tersebut sama sekali bukan pertimbangannya.

"Tidak sedikit pun," katanya. "Satu-satunya perihal nan krusial ketika saya berbincang tentang Iran adalah mereka tidak boleh mempunyai senjata nuklir."

Trump kemudian melanjutkan dengan pernyataan nan menuai kecaman luas.

"Saya tidak memikirkan kondisi finansial penduduk Amerika. Saya tidak memikirkan siapa pun. Saya hanya memikirkan satu hal: kita tidak boleh membiarkan Iran mempunyai senjata nuklir. Itu saja."

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News