9.242 Personel TNI-Polri Amankan 31 Aksi Demo di Jakarta

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Apel pelayanan unjuk rasa beberapa komponen golongan mahasiswa di Lapangan Presisi, Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Polda Metro Jaya menyiapkan 9.242 personel campuran untuk mengamankan 31 tindakan demo dan 16 aktivitas masyarakat nan berjalan di sejumlah wilayah Jakarta pada Selasa (18/8).

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, mengatakan ribuan personel tersebut terdiri dari 5.670 personel Polda Metro Jaya, 222 personel Polres jajaran, 1.500 personel TNI, dan 1.850 personel BKO Mabes Polri.

"Adapun personel nan sudah dipersiapkan 9.242 personel ini terdiri dari Polda Metro Jaya 5.670 personel, Polres jejeran 222 personel, TNI 1.500 personel, dan BKO Mabes Polri 1.850 personel" kata Budi usai apel kesiapan pengamanan di Lapangan Presisi Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat Selasa (18/8).

Budi mengatakan personel TNI-Polri diterjunkan untuk memberikan rasa kondusif sehingga masyarakat dapat menyampaikan aspirasinya dengan baik.

"Kehadiran petugas TNI-Polri dan pemerintah provinsi DKI memberikan rasa kondusif agar apa nan disampaikan tersampaikan dengan baik," ujarnya.

Menurut Budi, keberadaan massa tindakan juga perlu memperhatikan aktivitas masyarakat lain nan tetap berjalan, mulai dari aktivitas pendidikan, pekerjaan, perekonomian hingga jasa kesehatan.

"Ada Pasal 6 dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998, di mana para peserta tindakan juga kudu memperhatikan masyarakat lainnya. Di sekitar kita tetap banyak masyarakat nan melaksanakan aktivitas rutin, aktivitas kegiatan pendidikan, sekolah, kuliah, pendidikan perekonomian, pekerjaan rutin, dan kegiatan-kegiatan kesehatan ataupun aktivitas masyarakat lainnya.” kata Budi.

Apel pelayanan unjuk rasa beberapa komponen golongan mahasiswa di Lapangan Presisi, Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Lebih lanjut, Budi menambahkan pihaknya bakal menjalankan pengamanan secara ahli dan humanis lantaran peserta tindakan merupakan bagian dari masyarakat nan kudu dilayani dalam menyampaikan aspirasi.

"Kita sama-sama menyampaikan secara profesional, humanis, lantaran nan menyampaikan aspirasi adalah saudara-saudara kita bersama, termasuk nan melaksanakan pengamanan ini adalah bagian dari family besar kita," ujar Budi.

Sementara itu, mengenai rekayasa lampau lintas, polisi bakal memberlakukannya secara situasional, memandang kondisi di lapangan.

“Apabila ada kepadatan arus lampau lintas, dan kami jamin rekayasa lampau lintas sifatnya situasional,” kata Budi.

Budi mengatakan sejumlah area seperti Bundaran HI, Patung Kuda, Semanggi, dan Sudirman merupakan pusat aktivitas masyarakat di Jakarta. Karena itu, polisi mengimbau massa mempertimbangkan letak penyampaian aspirasi agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat lainnya.

Apel pelayanan unjuk rasa beberapa komponen golongan mahasiswa di Lapangan Presisi, Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

"Kita sama-sama mengetahui bahwa Bundaran HI, Patung Kuda, Semanggi, Sudirman ini merupakan center of gravity nan ada di wilayah Jakarta. Pusat perekonomian, perhotelan internasional, pusat aktivitas kegiatan masyarakat di mana pusat perbelanjaan, moda transportasi. Apabila tempat-tempat ini dijadikan tempat penyampaian aspirasi, bakal mengganggu aktivitas masyarakat lainnya,” ujar Budi.

Sementara itu, Karo Ops Polda Metro Jaya, Kombes Pol La Ode Aries El Fathar, menekankan agar seluruh personel menjalankan pengamanan dengan aman, tertib, humanis, sabar, dan terukur.

"Pengamanan unjuk rasa kudu melangkah aman, tertib dan tidak boleh menimbulkan kerusuhan maupun perusakan akomodasi umum. Kita semua nan bekerja jangan mudah terpancing emosi, kendalikan diri, laksanakan tugas dengan humanis, sabar, dan terukur, serta menjadikan tindakan norma adalah langkah terakhir, ultimum remedium," kata Aries.

La Ode juga meminta seluruh personel tidak bersikap garang ketika menghadapi massa. Personel diminta menjaga posisi memperkuat serta memberikan ruang bicara kepada perwakilan massa agar situasi di lapangan dapat dikendalikan dengan baik.

"Semua tindakan di lapangan kudu satu komando. Tidak boleh ada inisiatif sendiri tanpa instruksi," tegasnya.

Dia juga memastikan tidak ada penggunaan senjata api dalam pengamanan tindakan unjuk rasa. Pemeriksaan terhadap personel, termasuk kelengkapan perlengkapan dan telepon, diminta dilakukan secara ketat sebelum personil bertugas.

"Tidak ada penggunaan senjata api dalam corak apa pun, termasuk rekan-rekan nan berpakaian preman, baik pada Satgas Intel maupun Satgas Gakkum," ujar Aries.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan