Hariyo menyebut, di tingkat tapak, masyarakat nan hidup berdampingan dengan rimba justru menyimpan pemahaman nan kuat tentang keseimbangan ini. Randi, penduduk Ranu Pani, memandang keberadaan macan tutul dari perspektif nan realistis sekaligus reflektif.
"Macan tutul itu satwa liar, jadi nalurinya memang begitu, apalagi jika dekat ternak warga. Tapi kami juga paham, mereka turun ke dekat kampung pasti ada sebabnya. Bisa jadi ekosistemnya sudah terganggu," kata dia.
Ia menekankan, solusi utama bukanlah mengusir, melainkan menjaga habitatnya.
"Kalau tempatnya aman, mereka tidak bakal turun ke warga. Jadi sebenarnya bukan soal mengusir, tapi gimana kita sama-sama menjaga agar manusia dan macan tutul bisa tetap hidup berdampingan," terang Hariyo.
Hal senada disampaikan Petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Tuangkat. Dalam kearifan lokal, kata dia, macan tutul bukanlah ancaman semata, melainkan bagian dari sistem kehidupan nan kudu dihormati.
"Macan tutul itu bukan untuk dilawan, tapi dijaga keberadaannya. Kami percaya, jika rimba tetap lestari, mereka tidak bakal turun ke pemukiman. Kuncinya sederhana ialah jaga hutannya, hormati alamnya. Dengan begitu, manusia dan macan tutul bisa hidup berdampingan, seperti nan sudah diajarkan oleh leluhur kami sejak dulu," tutur dia.
"Di tengah tekanan nan terus meningkat terhadap ekosistem pulau Jawa, pesan nan muncul justru sederhana namun mendasar: konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies, tetapi tentang menjaga relasi antara manusia dan alam," jelas Tuangkat.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·