Ilustrasi lansia.(Dok. Magnific)
SEIRING bertambahnya usia, tubuh manusia mengalami beragam perubahan fisiologis, termasuk penurunan massa otot secara alami. Protein memainkan peran krusial sebagai blok pembangun jaringan tubuh. Bagi lansia, kekurangan asupan protein bukan sekadar masalah nutrisi biasa, melainkan ancaman serius terhadap kemandirian bentuk dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Kondisi kekurangan protein pada lansia sering kali tidak disadari lantaran gejalanya muncul secara bertahap. Padahal, penemuan awal sangat krusial untuk mencegah kondisi nan lebih parah seperti sarcopenia (penyusutan otot ekstrem) alias akibat jatuh nan berakibat fatal.
Tanda-Tanda Lansia Kekurangan Protein
Berikut adalah beberapa parameter bentuk dan fungsional nan menunjukkan bahwa seorang lansia mungkin tidak mendapatkan asupan protein nan cukup dalam diet harian mereka:
1. Penurunan Massa dan Kekuatan Otot (Sarcopenia)
Tanda nan paling nyata adalah penyusutan otot. Anda mungkin memandang lengan alias kaki lansia tampak lebih mini alias kendur. Secara fungsional, mereka bakal merasa lebih sigap capek saat berjalan, kesulitan berdiri dari kursi, alias tidak kuat lagi mengangkat beban nan sebelumnya terasa ringan.
2. Luka nan Sulit Sembuh
Protein sangat dibutuhkan untuk proses regenerasi sel dan pembekuan darah. Jika luka gores, lecet, alias memar pada lansia memerlukan waktu berminggu-minggu untuk sembuh, ini bisa menjadi sinyal kuat bahwa tubuh kekurangan bahan baku untuk memperbaiki jaringan nan rusak.
3. Rambut, Kuku, dan Kulit Bermasalah
Jaringan integumen seperti kulit, rambut, dan kuku sebagian besar terdiri dari protein (keratin, kolagen, dan elastin). Defisiensi protein dapat menyebabkan rambut menjadi tipis, rapuh, dan mudah rontok. Kulit mungkin tampak sangat kering, bersisik, alias mengalami depigmentasi, sementara kuku menjadi mudah patah.
4. Sering Mengalami Infeksi
Sistem kekebalan tubuh sangat berjuntai pada protein untuk membentuk antibodi. Lansia nan kekurangan protein condong lebih sering jatuh sakit, seperti terkena flu alias jangkitan saluran kemih, dan memerlukan waktu lebih lama untuk pulih dari penyakit tersebut.
5. Pembengkakan (Edema)
Dalam kasus defisiensi protein nan cukup berat, dapat terjadi edema alias penumpukan cairan. Hal ini biasanya terlihat pada bagian kaki, pergelangan kaki, alias perut. Ini terjadi lantaran rendahnya kadar albumin (protein dalam darah) nan berfaedah menjaga keseimbangan cairan di dalam pembuluh darah.
6. Perubahan Suasana Hati dan Kabut Otak
Protein menyediakan masam amino nan diperlukan untuk memproduksi neurotransmiter di otak. Kekurangan protein dapat memicu indikasi depresi, kekhawatiran berlebih, alias kesulitan berkonsentrasi (brain fog) pada lansia.
7. Nafsu Makan Meningkat secara Spesifik
Terkadang, tubuh merespons kekurangan protein dengan memicu rasa lapar nan terus-menerus. Lansia mungkin merasa mau terus makan, terutama mencari makanan nan gurih, sebagai upaya alami tubuh untuk mencari asupan protein nan hilang.
Mengapa Lansia Membutuhkan Lebih Banyak Protein?
Berbeda dengan orang dewasa muda, tubuh lansia menjadi kurang efisien dalam memproses protein (resitensi anabolik). Oleh lantaran itu, mereka sebenarnya memerlukan asupan protein nan lebih tinggi per kilogram berat badan dibandingkan orang dewasa muda untuk mempertahankan massa otot nan sama.
Secara umum, master kesehatan menyarankan lansia mengonsumsi sekitar 1,2 hingga 1,5 gram protein per kilogram berat badan setiap hari. Sebagai contoh, lansia dengan berat 60 kg memerlukan sekitar 72-90 gram protein per hari.
Strategi Memenuhi Kebutuhan Protein Harian
Untuk mengatasi alias mencegah kekurangan protein, berikut adalah langkah praktis nan bisa dilakukan:
- Distribusi Protein: Jangan menumpuk asupan protein hanya di makan malam. Bagilah asupan protein secara merata pada sarapan, makan siang, dan makan malam (sekitar 25-30 gram per waktu makan).
- Pilih Sumber Berkualitas: Utamakan protein hewani seperti telur, ikan, ayam tanpa kulit, dan susu rendah lemak lantaran mempunyai profil masam amino lengkap.
- Protein Nabati: Lengkapi dengan tempe, tahu, kacang-kacangan, dan edamame untuk ragam nutrisi dan serat.
- Tekstur Makanan: Jika lansia mengalami kesulitan mengunyah, sajikan protein dalam corak cincang halus, sup, alias smoothies protein.
Kapan Harus Menghubungi Dokter?
Jika Anda memandang tanda-tanda di atas disertai dengan penurunan berat badan nan drastis tanpa karena nan jelas, segera konsultasikan dengan master alias mahir gizi. Dokter mungkin bakal melakukan tes darah untuk memeriksa kadar albumin dan total protein guna memberikan rekomendasi suplemen nutrisi medis jika diperlukan. (H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·