Jakarta, CNBC Indonesia - Gangguan pengiriman di Selat Hormuz kembali menegaskan sungguh rapuhnya struktur pasar daya global. Meski sejumlah jalur pengganti tersedia, kapabilitas dan kesiapan infrastrukturnya dinilai belum cukup untuk sepenuhnya menggantikan peran vital jalur utama tersebut.
Selat Hormuz bukan sekadar lintasan perdagangan biasa. Ini adalah satu-satunya akses laut dari Teluk Arab ke perairan internasional.
Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) mencatat sekitar 20%-25% minyak nan diperdagangkan melalui laut dunia serta sekitar 20% gas alam cair (LNG) melintasi selat ini setiap hari. Konsentrasi arus daya nan tinggi membikin setiap gangguan langsung memicu gejolak nilai global.
Badan Energi Internasional (IEA) menyebut situasi saat ini sebagai salah satu gangguan pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah. Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, apalagi menyebutnya sebagai "krisis daya terbesar dalam sejarah," seperti dikutip Reuters. Lonjakan nilai minyak pun tak terhindarkan, seiring kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan berkepanjangan.
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah negara produsen mulai mengandalkan jalur alternatif. Berikut tujuh rute nan menjadi jagoan maupun tetap dalam tahap pengembangan:
1. Pipa East-West (Arab Saudi)
Pipa sepanjang 1.200 km ini bisa mengalirkan hingga 7 juta barel per hari (bph) minyak mentah dari wilayah timur Arab Saudi ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
2. Pipa Habshan-Fujairah (Uni Emirat Arab)
Dikenal sebagai Abu Dhabi Crude Oil Pipeline (ADCOP), jalur ini menghubungkan ladang minyak darat ke pelabuhan Fujairah di Teluk Oman, di luar Selat Hormuz.
3. Pipa Kirkuk-Ceyhan (Irak-Turki)
Rute utama ekspor minyak Irak bagian utara nan mengalirkan minyak dari Kirkuk ke pelabuhan Ceyhan di Turki melalui wilayah Kurdistan.
4. Pipa Goreh-Jask (Iran)
Iran mempunyai pipa berkapasitas sekitar 1 juta bph nan mengalirkan minyak ke terminal Jask di Teluk Oman, memungkinkan ekspor tanpa melewati Hormuz.
5. Pipa Basra-Duqm (Irak-Oman)
Irak tengah mengkaji pembangunan jalur pipa dari Basra ke pelabuhan Duqm di Oman sebagai pengganti ekspor baru.
6. Pipa Basra-Aqaba (Irak-Yordania)
Proyek ini dirancang berkapasitas hingga 1 juta bph untuk mengalirkan minyak dari Basra ke pelabuhan Aqaba di Laut Merah.
7. Terusan Teluk-Laut Oman
Gagasan pembangunan terusan nan menghubungkan Teluk dengan Laut Oman, nan mirip Terusan Suez alias Panama, tetap dalam tahap konsep dan belum terealisasi.
Meski opsi pengganti terus bermunculan, analis menilai jalur-jalur tersebut belum bisa menandingi kapabilitas Selat Hormuz secara keseluruhan. Dengan peran strategisnya, setiap gangguan di selat ini bakal tetap menjadi aspek utama nan mengguncang pasar daya global.
(tfa/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·