7.259 Gempa Picu Ketakutan Warga NTT

Sedang Trending 7 jam yang lalu
7.259 Gempa Picu Ketakutan Warga NTT Rangkaian gempa nan mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak 15 Agustus telah mencapai 7.259 kali hingga Selasa (25/8).(Dok. BMKG)

Rangkaian gempa nan mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak 15 Agustus telah mencapai 7.259 kali hingga Selasa (25/8). Tingginya aktivitas gempa susulan membikin penduduk ketakutan dan memilih mengungsi, apalagi sebagian di antaranya meninggalkan rumah akibat rumor bakal terjadi gempa nan lebih besar hingga tsunami.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto, mengatakan, banyaknya penduduk nan mengungsi tidak sepenuhnya disebabkan kerusakan akibat gempa. Faktor ketakutan terhadap gempa susulan justru menjadi salah satu penyebab utama.

"Jadi sebetulnya jumlah pengungsi nan kelak nan banyak ini bukan lantaran terdampak gempa secara langsung, tetapi lantaran gempa susulannya banyak, mereka ketakutan dan juga ada beberapa rumor dari media sosial nan menyatakan bahwa bakal ada gempa susulan nan lebih besar, apalagi ada tsunami," kata Suharyanto kepada Presiden Prabowo Subianto, Rabu (26/8).

Menurut Suharyanto, dari ribuan gempa nan tercatat sejak 15 Agustus, sebanyak 143 gempa susulan dirasakan langsung oleh masyarakat. Meski aktivitas kegempaan tetap terjadi, tidak ada lagi gempa dengan kekuatan di atas 7,7.

Suharyanto menyebut episentrum gempa berada di sebelah utara Nagekeo. Dampak gempa meluas ke tujuh kabupaten, ialah Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, Ende, dan Sikka. Sementara Flores Timur tidak terdampak gempa, tetapi wilayah tersebut menghadapi erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.

Besarnya akibat musibah tercermin dari jumlah korban. BNPB mencatat 105 orang meninggal dunia, 1.678 orang luka-luka, dan 179.037 orang mengungsi. Kerusakan juga terjadi pada 81.436 unit rumah serta 1.951 akomodasi umum.

Dua wilayah nan mengalami akibat paling parah adalah Manggarai dan Manggarai Timur. Nagekeo berada di posisi ketiga dalam tingkat akibat kerusakan.

Suharyanto menjelaskan, dari 105 korban meninggal dunia, 48 orang merupakan korban nan terdampak langsung gempa. Sebanyak 57 korban lainnya berasal dari hasil operasi SAR dan penanganan di akomodasi kesehatan, termasuk korban trauma, lansia, dan anak-anak nan tidak sukses diselamatkan.

Pemerintah sekarang menghadapi tantangan lain, ialah meyakinkan masyarakat bahwa situasi dapat ditangani sekaligus menangkal info nan memicu kepanikan. BNPB berbareng seluruh unsur pemerintah terus memberikan penjelasan kepada penduduk mengenai kondisi kegempaan.

Pengungsian juga tidak sepenuhnya terpusat. Sebagian penduduk memilih memperkuat di titik-titik pengungsian berdikari nan lokasinya jauh dari pusat pengedaran bantuan. Kondisi tersebut membikin pemerintah kudu memperluas jangkauan penyaluran logistik.

"Kendala kami logistik itu kudu bisa sampai ke titik nan terjauh. Nah itulah makanya kami kudu pakai sepeda motor, pakai pasukan jalan kaki," ujar Suharyanto.

Untuk menjangkau letak terpencil, pemerintah mengerahkan 50 truk dari Labuan Bajo dan 40 truk dari Maumere. Sebanyak 200 sepeda motor digunakan untuk membawa sembako menuju titik pengungsian nan susah dijangkau kendaraan besar.

Dari sisi logistik, Suharyanto memastikan kebutuhan dasar masyarakat selama masa tanggap darurat tetap aman. Bantuan datang dari kementerian dan lembaga, TNI/Polri, pemerintah daerah, hingga pihak swasta.

Sebanyak 2.032 ton logistik telah masuk melalui Halim Perdanakusuma dan 1.539 ton di antaranya telah didistribusikan. Pengiriman juga dilakukan melalui jalur udara dan laut, termasuk 34 sortie TNI AU nan membawa 445 ton serta 61 sortie penerbangan komersial dengan 915 ton bantuan.

Sementara itu, jasa kesehatan terus dipulihkan. Sebanyak 122 tenda telah didirikan di depan puskesmas untuk mengantisipasi kekhawatiran penduduk dan tenaga kesehatan terhadap gedung akibat gempa susulan. Dua kapal rumah sakit dan dua rumah sakit lapangan juga telah dikerahkan untuk memperkuat pelayanan medis.

Pemerintah juga menyatakan jaringan listrik telah pulih 100 persen, sementara telekomunikasi relatif pulih sepenuhnya. Pasokan BBM pun mulai normal setelah tidak lagi terjadi antrean.

Dengan kondisi prasarana utama nan berangsur pulih, Suharyanto mengatakan tantangan terbesar saat ini adalah ketakutan masyarakat dan pengedaran support hingga ke titik pengungsian nan tersebar.

"Yang kesulitan kami nan dari kecamatan, dari desa menuju orangnya itu aja butuh waktu agar kita jalan kaki, naik motor seperti itu Bapak Presiden," kata Suharyanto. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia