7,22 Juta Warga Indonesia Masih Nganggur per Mei 2026

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
7,22 Juta Warga Indonesia Masih Nganggur per Mei 2026 Para pencari kerja berdempetan saat memilih lowongan sejumlah perusahaan di arena Jakarta Job Fest 2025 di Gedung Pertemuan Pertamina, Cempaka Putih Tengah, Jakarta Pusat, Selasa (30/9/2025).(MI/Usman Iskandar)

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 7,22 juta orang di Indonesia tetap menganggur pada Mei 2026. Jumlah tersebut setara dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,65%, turun 0,03 poin persentase dibandingkan Februari 2026 nan sebesar 4,68%. Penurunan ini menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja nan terus membaik, meski jumlah penganggur tetap berada di atas tujuh juta orang.

"Pada Mei 2026, terdapat sebanyak 7,22 juta penganggur alias setara dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,65%," ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, dalam konvensi pers BPS, Rabu (5/8).

Edy menjelaskan, dari setiap 100 masyarakat usia kerja alias berumur 15 tahun ke atas, sekitar 71 orang telah menjadi angkatan kerja alias aktif di pasar kerja, baik bekerja maupun sedang mencari pekerjaan. Sementara itu, TPT sebesar 4,65% menunjukkan bahwa sekitar lima dari setiap 100 orang nan termasuk angkatan kerja tetap belum memperoleh pekerjaan.

"Dari seluruh masyarakat usia kerja, sekitar 71 dari 100 orang merupakan angkatan kerja alias sudah aktif di pasar kerja. Sementara sekitar lima dari setiap 100 orang angkatan kerja tetap merupakan pengangguran," jelas Edy.

Secara rinci, BPS mencatat jumlah angkatan kerja pada Mei 2026 mencapai 155,41 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 148,19 juta orang bekerja, sementara 7,22 juta orang tetap menganggur. Dibandingkan Februari 2026, jumlah masyarakat nan bekerja bertambah 522 ribu orang, sedangkan jumlah pengangguran berkurang 24 ribu orang.

Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan porsi 28,75%, disusul perdagangan besar dan satuan sebesar 17,80%, serta industri pengolahan sebesar 13,53%. Adapun peningkatan jumlah tenaga kerja terbesar terjadi pada sektor akomodasi dan makan minum nan bertambah 195 ribu orang, transportasi dan pergudangan 121 ribu orang, serta aktivitas jasa lainnya sebanyak 110 ribu orang.

Berdasarkan status pekerjaan, persentase pekerja umum pada Mei 2026 meningkat menjadi 40,70% dari sebelumnya 40,58% pada Februari 2026. Jumlah pekerja umum juga naik menjadi 60,31 juta orang.

"Sementara itu, jumlah pekerja informal mengalami kenaikan menjadi 87,88 juta orang," kata Edy.

BPS juga menjelaskan bahwa seseorang nan bekerja minimal satu jam dalam seminggu sudah dikategorikan sebagai masyarakat bekerja sesuai standar International Labour Organization (ILO). Berdasarkan jam kerja, masyarakat bekerja dibagi menjadi tiga kelompok, ialah pekerja penuh nan bekerja minimal 35 jam per minggu, pekerja paruh waktu nan bekerja kurang dari 35 jam tanpa mencari pekerjaan tambahan, serta separuh pengangguran nan bekerja kurang dari 35 jam namun tetap mencari alias bersedia menerima pekerjaan tambahan.

Pada Mei 2026, pekerja penuh mendominasi dengan porsi 66,80% alias sekitar 98,98 juta orang. Sementara itu, pekerja paruh waktu mencapai 25,93% alias 38,42 juta orang, sedangkan separuh pengangguran tercatat sebesar 7,28% alias sekitar 10,79 juta orang. (P-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia