5 Pernyataan JK soal 'Mati Syahid' hingga Ijazah Jokowi, Singgung Termul

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Jakarta -

Wakil Presiden (Wapres) ke-10 dan 12 RI, Jusuf Kalla (JK), menggelar konvensi pers menjawab sejumlah rumor nan belakangan menarik namanya. JK menjelaskan ceramahnya soal 'mati syahid' nan disampaikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) hingga rumor piagam Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi).

Untuk diketahui, potongan video pidato JK soal 'mati syahid' dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI). Laporan GAMKI teregistrasi dengan nomor LP/B/2547/IV/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA, tanggal 12 April 2026.

"Kami dari Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia tadi datang melaporkan Bapak Jusuf Kalla. Kehadiran kami juga mewakili sekitar 19 lembaga Kristen dan organisasi masyarakat," kata Ketua Umum GAMKI Sahat Martin Philip Sinurat, kepada wartawan, dikutip Senin (13/4).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam laporan tersebut, Sahat selaku pelapor melaporkan Jusuf Kalla mengenai dugaan penistaan kepercayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 300 dan/atau Pasal 301 dan/atau Pasal 263 dan/atau Pasal 264 dan/atau Pasal 243 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023. Sahat menyampaikan bahwa pidato Jusuf Kalla soal 'mati syahid' nan viral di media sosial menyakiti hati umat Kristen lantaran tidak sesuai dengan aliran Kristen.

Dirangkum detikcom, berikut sejumlah pernyataan JK menanggapi rumor nan dialamatkan ke dirinya baru-baru ini.

1. JK Bantah Nistakan Agama

JK menegaskan konteks pernyataannya mengenai bentrok di Poso dan Ambon, bukan untuk menyinggung umat Islam-Kristen. Ia menyoroti pernyataan satu-dua menit nan viral di media sosial.

"Cuma satu-dua menit saya bicara bentrok lantaran agama, itulah antara lain Ambon-Poso. Saya tidak bicara tentang dogma agama," kata JK dalam konvensi pers di area Brawijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).

JK menuturkan, saat itu dirinya sedang menjelaskan gimana bentrok bisa terjadi, termasuk bentrok berlatar agama. Ia menyebut, dalam bentrok di Ambon dan Poso, banyak pihak menggunakan legitimasi kepercayaan untuk membenarkan kekerasan.

Menurutnya, istilah 'syahid' nan dia gunakan disesuaikan dengan audiens pidato nan berada di lingkungan masjid. Ia juga membandingkan dengan istilah 'martir' dalam tradisi Kristen.

"Saya pakai kata syahid lantaran saya di masjid. Kalau saya pakai kata martir, jemaah tidak mengerti. Padahal maknanya nyaris sama, meninggal lantaran memihak agama," ujarnya.

2. Minta Publik Lihat Konteks Utuh

Meski demikian, JK menegaskan bahwa baik dalam aliran Islam maupun Kristen tidak ada pembenaran untuk tindakan kekerasan seperti nan terjadi dalam bentrok tersebut.

"Tidak ada aliran kepercayaan nan membenarkan saling membunuh. Itu nan saya sampaikan," tegasnya.

JK juga menggambarkan sungguh brutalnya bentrok di Ambon dan Poso, 25 tahun lampau itu. Ia menyebut ribuan orang tewas dan ratusan ribu lainnya mengungsi akibat kekerasan nan terjadi selama beberapa tahun.

"Sekitar 7.000 orang meninggal dalam tiga tahun. Itu akibat bentrok nan membawa-bawa agama," ucapnya.

Lebih lanjut, JK menekankan bahwa pernyataannya justru bermaksud mengingatkan agar kepercayaan tidak dijadikan perangkat konflik. Ia apalagi mengaku turun langsung ke wilayah bentrok untuk mendamaikan pihak-pihak nan bertikai.

"Saya datang ke sana untuk mendamaikan, bukan untuk memecah. Saya pertaruhkan jiwa saya," katanya.

JK pun meminta publik memandang secara utuh pernyataannya dan tidak terjebak pada potongan video nan beredar.

"Lihat konteksnya secara lengkap. Jangan dipotong-potong," ungkapnya.

3. Buka Peluang Tempuh Jalur Hukum

JK membuka kesempatan menempuh jalur norma mengenai tudingan penistaan kepercayaan nan diarahkan kepadanya seusai pidato di UGM. Meski begitu, JK menyebut langkah tersebut tetap dalam tahap kajian.

"Kasih tahu mereka semua, orang nan besar ngomongnya, apa nan dia lakukan pada saat ini semua? Kita bakal pertimbangkan, lantaran jika tidak dituntut, ini bakal terulang lagi. Hati-hati jika ngomong ke mana-mana," kata JK.

Ia menilai tudingan terhadap dirinya sebagai corak fitnah. Meski membuka kesempatan jalur hukum, JK mengaku tidak bakal tergesa-gesa melaporkan pihak-pihak tertentu.

Ia menyebut sudah banyak masyarakat nan berinisiatif melaporkan persoalan tersebut. "Banyak masyarakat nan mau mengadukan. Jadi saya lihat dulu perkembangannya," ucapnya.

JK juga mengaku lebih memilih menyerahkan persoalan tersebut kepada tim norma dan masyarakat, sembari berambisi pihak-pihak nan dianggap memfitnah dapat menyadari kesalahannya.

"Saya sendiri berambisi Tuhan mengampuni mereka," katanya.

4. JK Singgung Termul di Isu Ijazah Jokowi

Dalam momen ini JK juga mengeluarkan kekesalannya atas tuduhan Rismon Sianipar nan mengatakan dirinya mendanai kasus piagam Presiden ke-7 RI Jokowi. JK pun mengingatkan perannya di kembali pekerjaan Jokowi hingga menjadi Presiden.

Pernyataan ini disampaikan JK ketika dia ditanya perihal adanya laporan polisi mengenai video ceramahnya tentang 'mati syahid' di UGM. JK ditanya apakah dia merasa dipolitisasi alias tidak dengan adanya kasus ini.

Lalu, JK menjawab dengan mengatakan dirinya tidak mau berspekulasi. Namun, dia merasa masalah ini muncul setelah dia melaporkan Rismon Sianipar ke polisi mengenai tudingan mendanai kasus piagam Jokowi.

JK mengungkapkan dia beberapa kali dihubungi oleh Rismon dan Roy Suryo, namun selalu dia tolak, lantaran dia mau berada di posisi netral, mengingat kasus tudingan piagam tiruan Jokowi sedang ramai. Dia pun mengungkapkan kekesalannya tentang masalah piagam tiruan ini nan berkepanjangan sehingga menyeret sejumlah nama.

"Ini soal Rismon ini sudah melibatkan semua orang, dituduhlah saya, dituduh Puan, dituduh SBY, dituduh siapa. Itu pengalihan saja. Jadi saya marah kenapa? Apalagi saya dituduh kasih Rp 5 M, mana saya kasih Rp 5 M? Ketemu aja tidak tahu saya, kenal pun tidak. Ini buktinya WA-nya. Tidak saya bilang," kata JK saat bertemu pers.

JK pun bicara mengenai peran pentingnya dalam pekerjaan politik Jokowi. JK mengatakan dia adalah orang nan membawa Jokowi dari Solo ke Jakarta.

JK mengatakan dia nan menyodorkan nama Jokowi ke Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri di pemilihan kepala wilayah (Pilkada) DKI Jakarta. Bahkan, dia juga mengatakan Jokowi menjadi Presiden ke-7 RI lantaran dirinya.

"Kasih tahu semua itu termul-termul itu, Jokowi jadi presiden lantaran saya," tegas JK.

5. Minta Jokowi Buka Ijazah ke Publik

JK mengatakan Jokowi menjadi calon presiden saat itu juga lantaran dirinya nan menjadi calon wakil presidennya. Menurutnya, saat itu, Megawati tidak mau menandatangani pencalonan Jokowi jika bukan JK wakilnya.

"Nah dua tahun dia Gubernur, oke silakan, saya tidak campur, saya tidak pernah datang waktu Gubernur. Tiba-tiba jadi Presiden, saya bilanglah, 'Eh belum cukup pengalaman jangan, kelak rusak negeri ini', Ah tapi Ibu Mega kasih tahu saya, dia tidak mau teken jika saya tidak wakilnya," katanya.

Menurut JK, saat itu Megawati mau JK membimbing Jokowi. Ia menyebut tak meminta menjadi wakil Jokowi saat itu.

"'Kenapa Bu saya mesti wakil?', 'karena Pak JK nan paling berpengalaman, bimbinglah dia'. Aduh saya mau pulang kampung waktu itu mau pulang ke Makassar, Ibu Mega bilang 'jangan, Pak Yusuf dampingi. Saya tidak mau teken jika bukan Pak Yusuf'. Ya bukan saya minta, bukan. Ibu Mega nan minta sama saya agar dampingi lantaran beliau tidak berpengalaman. Mengerti? Jadi jangan coba. Minta maaf ya, kasih tahu semua itu buzzer-buzzer itu. Dia tidak jadi gubernur jika bukan saya, ngerti?" ujar JK.

Terkait polemik piagam palsu, JK pun meminta Jokowi membuka ijazahnya. Dia tidak mau masalah ini berlarut-larut.

"Sudahlah Pak Jokowi, sudahlah. Kasih lihat piagam saja. Itu saja. Timbul lagi, sensitif sekali itu ijazah. Kenapa sih? Dan saya percaya itu asli, kenapa tidak dikasih lihat? Kenapa tidak dikasih lihat? Membiarkan masyarakat berantem sendiri, saling memaki masyarakat dua tahun," imbuh JK.

(dwr/imk)


Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News