
Ilustrasi.
JAKARTA – Riba adalah praktik ekonomi nan diharamkan Islam lantaran bertentangan dengan keadilan, kemanusiaan, dan kesejahteraan sosial. Pemahaman riba krusial di era modern agar transaksi seperti jual beli, sewa, alias peminjaman biaya sesuai syariat.
Abu Ja’far Muhammad dalam kitab Tafsir At-Thabari mendefinisikan riba sebagai adanya surplus (ziyadah) alias tambahan dalam proses transaksi berupa hutang piutang nan diambil oleh pemilik modal lantaran dia memberikan tambahan waktu kepada orang nan berhutang dengan menunda pelunasan utangnya.
Tambahan nan diperoleh dalam riba sering dianggap tidak berbeda dengan untung nan dihasilkan dari aktivitas jual beli. Namun, Allah SWT telah membedakan antara riba dengan aktivitas jual beli, sebagaimana disampaikan dalam surat Al-Baqarah ayat 275:
اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمَ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّ ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰوا ۘ وَأَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا ۗ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ ۗ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّٰهِ ۗ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۚ هُمْ فِيهَا خَالِدُوْنَ
Artinya: “Orang-orang nan menyantap riba tidak dapat berdiri selain seperti orang kesurupan setan... Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·