Listrik padam hingga 48 jam memicu kerusuhan di Gambia. Warga turun ke jalan dan menuntut presiden lengser, sementara polisi membubarkan massa.
Warga turun ke jalan dalam tindakan demonstrasi menentang pemadaman listrik dan air di Banjul, Gambia, Selasa (8/9/2026). Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa nan berkumpul sepanjang malam di sejumlah lokasi, termasuk di dekat kediaman resmi Presiden Adama Barrow. Demonstrasi tersebut dipicu kemarahan masyarakat akibat krisis pasokan listrik nan berkepanjangan di negara Afrika Barat itu. (REUTERS/Malick Njie)
Di ibu kota Banjul dan sekitarnya, massa membakar ban dan memasang barikade di jalan sembari meneriakkan "Barrow kudu lengser!". Sejumlah penduduk melaporkan pemadaman listrik berjalan hingga 48 jam. Aksi serupa juga terjadi di Farato, dengan pengunjuk rasa berkumpul di luar kediaman Wakil Presiden Mohammed B.S. Jallow dan merusak spanduk di instansi partai berkuasa National People's Party. (REUTERS/Malick Njie)
Krisis listrik tersebut terjadi menjelang pemilihan presiden nan dijadwalkan pada Desember, saat Barrow berupaya meraih masa kedudukan ketiga. Juru bicara kepolisian tidak menanggapi permintaan komentar pada Selasa (8/9/2026). (REUTERS/Malick Njie)
Perusahaan listrik nasional National Water and Electricity Company Ltd (NAWEC) mengatakan lonjakan permintaan listrik akibat suhu udara tinggi serta kejadian teknis pada salah satu unit pembangkit utama menyebabkan gangguan pasokan. Kondisi tersebut memaksa perusahaan menerapkan pemadaman bergilir di sejumlah wilayah. (REUTERS/Malick Njie)
"Tidak ada listrik di mana-mana. Tidak ada listrik. Orang-orang terus mengeluhkan masalah listrik ini," ujar Ousainu Jammeh, penduduk area Westfield di Banjul. Ia mengatakan berasosiasi dengan demonstran setelah gas air mata jatuh di rumahnya. (REUTERS/Malick Njie)
Barrow dijadwalkan mengunjungi akomodasi NAWEC pada Selasa pagi dan menyampaikan pidato kepada rakyat pada pukul 20.00 waktu setempat. Setelah tindakan mereda menjelang fajar, sejumlah pemuda memadamkan api dan menyingkirkan barikade. Arus lampau lintas di Banjul kembali normal pada Selasa pagi. (REUTERS/Malick Njie)
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·