413 Rumah Sakit dan 830 Puskesmas Disiagakan Hadapi Dampak Abu Vulkanik

Sedang Trending 1 jam yang lalu
413 Rumah Sakit dan 830 Puskesmas Disiagakan Hadapi Dampak Abu Vulkanik Anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Lampung Selatan membagikan masker kepada pengendara sepeda motor di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Senin (7/9/2026). Pembagian masker tersebut untuk melindungi pernapasan penduduk dari paparan ab(ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/tom)

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) meningkatkan kesiapsiagaan kesehatan menyusul akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau nan pada wilayah Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Berdasarkan pemantauan Kemenkes, wilayah terdampak abu vulkanik mencakup sekitar 23,36 juta jiwa. Kemenkes terus memantau kondisi kesehatan masyarakat, kualitas udara, serta kesiapan akomodasi pelayanan kesehatan di wilayah terdampak.

“Kami memastikan sistem pelayanan kesehatan tetap siap menghadapi akibat erupsi, terutama gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik. Pemantauan dilakukan secara berkala dan kami meminta akomodasi pelayanan kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus gangguan pernapasan,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, Selasa (8/9).

Lebih lanjut, Aji mengatakan Kemenkes telah menyiagakan 413 rumah sakit dan 830 puskesmas di 20 kabupaten/kota terdampak, termasuk menyiapkan pos pelayanan kesehatan, rumah sakit rujukan, tenaga kesehatan, dan ambulans.

Selain itu, Kemenkes menyiagakan Public Safety Center (PSC) 119 dan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) di kabupaten/kota sebagai bagian dari respons kedaruratan kesehatan. 

Bantuan logistik kesehatan juga telah dimobilisasi, antara lain lebih dari 100.000 masker N95 dan masker medis, ribuan kacamata goggle, obat-obatan dan perangkat kesehatan secara cuma-cuma ke wilayah terdampak paling parag di Lampung, Banten, Jawa Barat dan DKI Jakarta, lanjut Aji.

Abu vulkanik dapat menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan. Partikel lembut seperti PM2,5 dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan memicu inflamasi serta gangguan kardiopulmonal.

Kelompok nan perlu mendapat perhatian unik meliputi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, penderita asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), serta pekerja nan banyak beraktivitas di luar ruangan.

ISPA

Kemenkes mencatat adanya kecenderungan peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama di Banten, Lampung, dan Jawa Barat. Namun, untuk pneumonia belum ditemukan pola peningkatan nan seragam di seluruh wilayah terdampak.

“Abu vulkanik dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit. Karena itu, masyarakat perlu mengurangi paparan, terutama golongan rentan. Apabila mengalami batuk, sesak napas, iritasi mata, alias keluhan kesehatan setelah terpapar abu, segera mencari pertolongan ke akomodasi pelayanan kesehatan,” ujar Aji.

Kemenkes berbareng lintas sektor juga terus melakukan pemantauan kualitas udara di wilayah terdampak. Data ISPU per 6 September 2026 pukul 12.16 WIB menunjukkan sejumlah wilayah berada pada kategori sedang hingga tidak sehat, dengan PM2,5 menjadi salah satu parameter kritis.

Hasil pemantauan juga menunjukkan kondisi kualitas udara nan bervariasi di sejumlah akomodasi transportasi. Di Pelabuhan Bakauheni, seluruh titik pengukuran PM2,5 tetap berada dalam pemisah aman, namun PM10 di seluruh titik melampaui baku mutu sehingga diperlukan pemantauan lebih lanjut

Kemenkes mengimbau masyarakat mengikuti info dan pengarahan resmi dari pemerintah, termasuk PVMBG, BMKG, BNPB, dan BPBD.

Masyarakat dianjurkan tetap berada di dalam ruangan ketika terjadi paparan abu vulkanik, menutup pintu dan jendela, serta menghindari aktivitas nan membikin abu kembali beterbangan.

Apabila kudu beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dianjurkan menggunakan masker N95, KN95, KF94, FFP2, alias nan setara. Masker medis dapat digunakan sebagai perlindungan sementara jika jenis tersebut belum tersedia.

Masyarakat juga disarankan menggunakan pelindung mata alias goggles, tidak mengucek mata nan terkena abu, mengenakan busana tertutup, serta membersihkan tubuh dan mengganti busana setelah beraktivitas di luar ruangan.

“Yang paling krusial adalah masyarakat tidak panik, tetap mengikuti info resmi, mengurangi paparan abu, dan segera memeriksakan diri andaikan mengalami keluhan kesehatan. Kemenkes berbareng pemerintah wilayah dan lintas sektor bakal terus memantau perkembangan situasi dan memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan,” jelas Aji.

Kemenkes juga telah menerbitkan Surat Edaran Kesiapsiagaan dan Perlindungan Kesehatan Masyarakat terhadap Dampak Erupsi dan Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Nomor KL.01.02/A/17765/2026, nan mengatur penguatan kesiapsiagaan akomodasi pelayanan kesehatan, surveilans kesehatan dan pelaporan, edukasi masyarakat, serta koordinasi lintas sektor. (H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia