Asosiasi Maskapai Penerbangan Indonesia (Indonesia National Air Carriers Association/INACA) memperkirakan gangguan operasional penerbangan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dapat menimbulkan potensi kerugian sekitar Rp 10 miliar hingga Rp 19 miliar per hari bagi maskapai.
Sekretaris Jenderal INACA, Bayu Sutanto, mengatakan perkiraan kerugian ini khususnya bagi maskapai nan mempunyai rute dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta (CGK) dan Bandara Radin Inten II Lampung (TKG).
"Asumsi erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini menyebabkan VAA (Volcanic Ash Advisory) di FIR Jakarta, dengan sebaran abu ke arah Timur Laut, berakibat ke koridor CGK dan TKG," katanya kepada kumparan, Senin (7/9).
Bayu menjelaskan, terdapat tiga skenario sesuai dengan Volcanic Ash Advisory Centres (VAAC) Darwin dan NOTAM, ialah pembatalan penerbangan (cancel), penundaan (delay), dan pengalihan (divert).
"Kerugian maskapai saat IROP (operasi tidak teratur) abu vulkanik itu double, pendapatan lenyap dan biaya naik," ungkap Bayu.
INACA memperkirakan, pembatalan 30-50 penerbangan dengan tingkat keterisian penumpang sekitar 80 persen dapat menyebabkan hilangnya pendapatan maskapai sekitar Rp 8-15 miliar per hari.
Sementara itu, tambahan biaya bahan bakar, awak pesawat, hingga parkir pesawat diperkirakan mencapai Rp 1,5-3 miliar, dan biaya kompensasi dan jasa penumpang, seperti makanan, akomodasi, maupun pengembalian biaya tiket, diperkirakan mencapai Rp 500 juta-1,2 miliar per hari.
Dengan demikian, Bayu menghitung perkiraan kerugian maskapai dari adanya gangguan penerbangan akibat paparan abu vulkanik mencapai Rp 10-19 miliar per hari.
"Jika berjalan 1 minggu, Rp 70-130 miliar, ini belum termasuk reputasi dan hilangnya booking di masa depan," jelas Bayu.
Tingkat Keterlambatan dan Pembatalan
INACA memperkirakan, dalam kondisi status Siaga dengan tingkat peringatan abu vulkanik (VAAC) Orange, sekitar 15-25 persen penerbangan dari CGK dan 40-60 persen penerbangan dari TGK berpotensi mengalami keterlambatan alias pembatalan dalam sehari.
Hal ini menimbulkan pengaruh domino nan berujung pada kerugian maskapai nan lebih besar. Komponen kerugian terbesar bagi maskapai, pertama ialah hilangnya pendapatan lantaran pembatalan, dengan porsi 30-50 persen.
Kemudian kompensasi penumpang sesuai dengan patokan PM 89/2015, penumpang mendapatkan biaya makan dan komunikasi jika delay 4 jam, lampau pengembalian biaya dan tukar rute/hotel jika ada pembatalan.
Lalu gangguan jadwal, di mana penundaan satu penerbangan di CGK bisa merembet kepada 3-4 rute selanjutnya. Serta nan terakhir adalah komponen perawatan, di mana maskapai perlu mengeluarkan USD 20.000-50.000 per mesin setelah terbang di area abu vulkanik.
Bayu mengungkapkan, potensi kerugian tersebut bisa terus meluas, tergantung arah mata angin nan bakal menyebabkan lebih banyak airport ditutup, lama erupsi, hingga industri pariwisata wilayah terdampak menjadi terganggu.
Dampak Gangguan Jangka Pendek
Hanya saja, dia menilai dampaknya kepada industri penerbangan lebih luas berisiko sistemik, namun jangka pendek. Hal ini memandang CGK merupakan hub nan berujung pada gangguan terhadap 40 persen jaringan domestik.
Selain itu, kejadian erupsi Gunung Anak Krakatau terjadi di kuartal III 2026, nan sudah termasuk dalam musim tinggi (peak season) pariwisata. Dampak dari aspek ekonomi juga merembet kepada penerbangan kargo, sehingga terdapat potensi kenaikan biaya logistik.
Dengan seluruh kalkulasi tersebut, Bayu memperkirakan bahwa satu minggu gangguan operasional apalagi bisa menghapus untung maskapai dalam satu bulan, apalagi di tengah proses pemulihan pasca COVID-19 nan tetap berlangsung.
"Dampak saat ini tetap 'manageable' di level IROP. Tapi jika erupsi dan sebaran abu lebih dari 5 hari, maka akibat ekonomi bisa tembus Rp 100 miliar dan mulai menggerus sasaran Q3/Q4 maskapai. Kuncinya ada di kecepatan info VAAC dan elastisitas rute dari Airnav," tandas Bayu.
31 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·