Tiga pucuk ketua Badan Gizi Nasional (BGN) berganti usai Dadan Hindayana, Sony Sonjaya, dan Lodewyk Pusung diberhentikan lantaran terjerat kasus hingga ditetapkan tersangka oleh Kejaksaan Agung (Kejagung). BGN nan sekarang dipimpin oleh Nanik S Deyang beserta wakilnya Agustina Arumsari dan Mayjen Trenggono langsung tancap gas membikin gebrakan mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dirangkum detikcom, Sabtu (6/6/2026), Nanik S Deyang langsung membikin gebrakan usai resmi menjabat sebagai Kepala BGN. Ia langsung mengubah strategi hingga konsentrasi program MBG.
Berikut ini hal-hal baru nan diubah oleh Kepala BGN nan baru:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Moratorium Dapur Baru
Salah satu strategi baru nan dilakukan BGN ialah dengan melakukan efisiensi anggaran MBG. Nanik pun memutuskan untuk menghentikan sementara pendaftaran dapur baru untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Hal utama nan telah kami telaah dan kami siapkan rencana kerjanya adalah menuju pada efisiensi anggaran," kata Kepala BGN Nanik S. Deyang dalam konvensi pers di gedung BGN, Jakarta, Kamis (4/6).
Nanik menjelaskan terdapat empat langkah utama nan disiapkan BGN untuk memperbaiki penyelenggaraan program MBG. Pertama, refocusing penerima faedah agar program lebih tepat sasaran. Kedua, penghentian sementara pendaftaran dan pembangunan dapur baru.
"Dalam rangka efisiensi anggaran maka perihal nan kami lakukan adalah pertama refocusing penerima manfaat. Dua, moratorium dapur titik-titik baru," ujarnya.
Langkah ketiga adalah membenahi dapur-dapur nan telah beraksi agar sesuai standar, termasuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Langkah keempat adalah memperluas penyelenggaraan MBG di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) dengan skema nan lebih efisien dan tak sepenuhnya berjuntai pada APBN.
Terkait moratorium dapur baru, Nanik mengatakan BGN bakal terlebih dulu merapikan dan mengevaluasi dapur nan sudah beroperasi. Saat ini, jumlah dapur MBG nan aktif telah mencapai lebih dari 27 ribu unit.
"Nah saat ini sudah ada sekitar 27 ribu lebih dapur nan operasional. Kami bakal beresin dulu ini. Misalnya di satu kecamatan ini cukup kok enam saja. Sudah, enam saja. Jadi moratorium," katanya.
Ia mengatakan kebijakan tersebut juga diambil lantaran sebaran dapur MBG belum merata. Banyak dapur terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan aglomerasi, sementara sejumlah wilayah 3T belum terlayani secara optimal.
"Jujur sekarang nan numpuk ini di aglomerasi, nan 3T belum kesentuh. Jadi Pak Presiden pesannya kami kudu ke 3T dulu," ujarnya.
Kualitas Jadi Prioritas
Kemudian, Nanik S. Deyang mengatakan pihaknya saat ini tidak lagi konsentrasi mengejar sasaran 82,9 juta penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun ini. Dia mengatakan prioritas utama saat ini adalah memastikan kualitas penyelenggaraan program.
"Nah, jadi gini dampaknya, kemarin kami bertiga dipanggil Presiden dan kami sudah menyampaikan ke beliau, tahun 2026 ini minta Bapak kami tidak mengejar kuantitas. Kami bakal perbaiki kualitas, sehingga bisa jadi kami tidak bakal mengejar ke 82 juta. Tapi gimana dapur-dapur ini sehat, memberikan makan nan bergizi," kata Nanik.
Nanik menjelaskan, konsentrasi baru BGN adalah membenahi dapur MBG nan sudah beraksi agar memenuhi standar kesehatan dan kualitas makanan. Dapur nan tidak memenuhi standar bakal dievaluasi dan dapat dikenai suspensi sementara.
Selain itu, BGN juga bakal memperkuat training sumber daya manusia (SDM) di dapur MBG agar pelayanan lebih baik dan makanan nan disajikan betul-betul bergizi.
Fokus Ibu Hamil dan Balita
Selanjutnya, Nanik mengatakan MBG juga bakal lebih difokuskan untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Ia melakukan itu berasas masukan dari para ahli.
"Kita fokuskan adalah ke 3T dan terutama untuk 3B," ujarnya.
Ia menjelaskan, berasas masukan para master gizi dan master anak, intervensi gizi paling krusial dilakukan sejak masa kehamilan hingga anak berumur sekitar 9 tahun alias setara usia sekolah dasar.
"Bahwa mereka itu mengatakan bahwa intervensi gizi itu paling bagus adalah saat mulai kandungan bulan pertama sampai usia 9 tahun alias sampai SD. Nah, kita nan kejar ke sana," kata Nanik.
Sekolah Mampu Tak Lagi Jadi Prioritas
Lebih lanjut, Nanik bakal mengevaluasi sasaran penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ke depan, sekolah-sekolah nan dinilai berasal dari golongan bisa berpotensi tak lagi menjadi prioritas.
"Nah, lampau refocusing. Misalnya kelak bakal kita juga jika ada sekolah-sekolah nan mahal gitu kan kita tanya apakah tetap perlu MBG? Nah ini nan kita alihkan ke 3T," kata Nanik.
Menurut Nanik, penataan ulang sasaran penerima dilakukan agar program MBG lebih tepat sasaran dan dapat menjangkau golongan nan betul-betul membutuhkan. Sebab itu, BGN bakal memprioritaskan wilayah 3T nan selama ini tetap belum terlayani secara optimal.
"Jadi bisa aja sebetulnya penerima manfaatnya bertambah, tapi tambahannya ini sebetulnya mengurangi dari nan tidak konsentrasi mungkin selama ini," ujarnya.
Di sisi lain, Nanik mengungkapkan banyak dapur MBG saat ini terkonsentrasi di wilayah aglomerasi dan perkotaan. Sementara itu, sejumlah wilayah 3T justru belum tersentuh secara optimal oleh program tersebut.
"Jujur sekarang nan numpuk ini di aglomerasi, nan 3T belum kesentuh. Jadi Pak Presiden pesannya kami kudu ke 3T dulu," imbuhnya.
(maa/maa)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·