4 Fakta Abu Vulkanik Anak Krakatau Akhirnya Jauhi Indonesia

Sedang Trending 6 hari yang lalu
Jakarta -

Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau sekarang telah menjauhi Indonesia. Kualitas udara pun kembali membaik.

Sebagaimana diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat memprakirakan sebaran abu bergerak menjauhi wilayah Indonesia per Selasa (8/9) pukul 04.00 WIB.

"Sebaran abu vulkanik GAK diprakirakan bergerak menjauhi wilayah Indonesia," demikian keterangan resmi BMKG, Selasa (8/9).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan info PVMBG dan VAAC Darwin serta kajian gambaran RGB Himawari-9 pada 8 September 2026 pukul 04.00 WB, teridentifikasi sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau dari permukaan hingga ketinggian 6.000 ft (1,8 km) teramati ke arah Selatan-Barat Daya, mencakup Samudera Hindia Barat Laut Banten.


1. Bergerak Menjauhi Anak Krakatau

Pada kondisi terkini, BMKG menyebut abu vulkanik terpantau bergerak menjauhi puncak Gunung Anak Krakatau.

BMKG mengatakan tetap terdapat sebaran abu vulkanik nan menurunkan kualitas udara dan jarak pandang, serta pada ketinggian tertentu dapat mengganggu aktivitas penerbangan.

"Masyarakat di wilayah nan terdampak memastikan info resmi dari BMKG, PVMBG, dan lembaga mengenai serta memperhatikan kondisi udara serta jarak pandang," kata BMKG.

2. Volume Abu Menurun

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan pihaknya telah menjalankan pengetesan paper test secara berkala di beberapa titik untuk melengkapi pemantauan gambaran satelit dan info meteorologi penerbangan. Hasilnya, delapan airport nan sempat ditutup sudah dibuka lagi setelah paper test menunjukkan hasil negatif abu vulkanik.

"Hasil pengamatan paper test per pukul 06.00 WIB menyatakan bahwa delapan airport nan sebelumnya ditutup operasionalnya dinyatakan negatif dari paparan abu vulkanik. BMKG tetap memantau pergerakan abu secara real-time agar seluruh penerbangan melangkah aman," kata Faisal seperti dikutip dari situs resmi BMKG, Selasa (8/9).

3. Bandara Kembali Buka

Bandara nan kembali beraksi itu adalah Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Husein Sastranegara, Bandara Budiarto Curug, Bandara Pondok Cabe, Bandara Taufiq Kiemas, Bandara Radin Inten II, serta Bandara Salakanagara Tanjung Lesung.

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan pihaknya juga memantau abu vulkanik secara umum berada pada ketinggian hingga 7.000 kaki (2,13 km). Dia mengatakan abu vulkanik sekarang bergerak ke arah selatan-barat daya mencakup sebagian Banten bagian barat laut, Samudra Hindia barat laut Banten. Abu vulkanik bergerak dengan kecepatan hingga 18,5 km/jam pada 8 September 2026 pukul 09.00 WIB.

"Pantauan cuaca di sekitar GAK (Gunung Anak Krakatau) dan perairan Selat Sunda condong cerah hingga cerah berawan dari pagi hingga malam hari," ujar Andri.

Berikutnya, Plh Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan pemantauan melalui 20 tsunami gauge dan HF Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung tidak menunjukkan anomali gelombang muka air laut. BMKG menyatakan probabilitas terjadinya tsunami berada pada kategori rendah. BMKG memperkirakan tinggi gelombang untuk 7 hari ke depan di wilayah sekitar Selat Sunda berkisar antara 0,5-3 meter.

BMKG, nan merujuk pada info terbaru PVMBG pukul 07.49 WIB, teramati adanya erupsi baru di Anak Krakatau dengan amplitudo maksimum 48 mm dan lama 19 detik nan masuk dalam kategori erupsi strombolian alias erupsi kecil. BMKG juga memantau gangguan geomagnetik dan sambaran petir akibat aktivitas Anak Krakatau melalui sensor magnet bumi dan lightning detector.

Hasilnya, BMKG mencatat adanya aktivitas gangguan geomagnetik mini dan sambaran petir vulkanik mulai pukul 21.00 hingga pukul 23.00 WIB kemarin malam. Aktivitas itu menunjukkan penurunan intensitas dibandingkan hari-hari sebelumnya.

4. Melakukan OMC

BMKG berbareng Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Perhubungan, dan pihak mengenai juga melanjutkan operasi modifikasi cuaca (OMC) nan telah dilakukan sejak 7 September 2026. Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan tim OMC menerapkan metode penyemaian awan hujan serta penyemprotan watermist menggunakan dua unit pesawat Cessna Caravan dari Posko Bandara Pondok Cabe dan Halim Perdanakusuma.

"Hingga saat ini, OMC telah melaksanakan lima sorti penerbangan, 1 sorti menggunakan bahan semai powder NaCl, 1 sorti liquid CaCl2 dan 3 sorti menggunakan spraying/watermist. Operasi bakal terus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi atmosfer dan sebaran abu vulkanik, sehingga konsentrasi abu di udara diharapkan terus berkurang dan kondisi atmosfer berangsur lebih bersih," jelas Seto.

BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada dan tenang terhadap akibat erupsi Anak Krakatau. Masyarakat di wilayah nan terpapar sebaran abu vulkanik diimbau memperhatikan kondisi kesehatan dengan membatasi aktivitas di luar rumah. Warga nan beraktivitas di luar rumah diimbau selalu mengenakan masker serta kacamata.

(rdp/rfs)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News