4.545 Rumah Terlayani Jargas, PGN Dorong Gas Bumi Jadi Penggerak Ekonomi Sleman

Sedang Trending 13 menit yang lalu
Petugas saat instalasi jaringan gas bumi. Foto: Dok. Pertamina

Pemanfaatan jaringan gas bumi (jargas) di Sleman, Yogyakarta, terus berkembang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan daya rumah tangga, tetapi juga mendukung aktivitas upaya masyarakat. Hingga 2026, jaringan gas bumi nan dikelola PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) telah melayani 4.545 pengguna rumah tangga, 6 pengguna kecil, serta 4 pengguna komersial/industri di wilayah Sleman.

Pengembangan jargas tersebut menjadi bagian dari upaya PGN menghadirkan daya nan praktis, efisien, dan andal sekaligus mendorong pemanfaatan gas bumi untuk aktivitas produktif masyarakat.

Salah satu pengguna komersial PGN di Yogyakarta adalah RM Padang Payakumbuah nan telah menggunakan gas bumi sejak November 2024. Bagi restoran nan memerlukan daya secara konsisten untuk operasional dapur setiap hari, kepastian pasokan menjadi salah satu aspek krusial dalam menjaga kelancaran usaha. Penyediaan gas bumi untuk restoran ini tidak lepas dari andil anak perusahaan PGN ialah PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas).

“Dua faedah krusial nan kami rasakan dari penggunaan gas bumi adalah keamanan dan kepastian pasokan. Keduanya sangat krusial bagi upaya kuliner lantaran kebutuhan bahan bakar berjalan setiap hari, termasuk ketika aktivitas dapur sedang tinggi seperti saat libur panjang,” ujar Manajemen RM Padang Payakumbuah Yogyakarta, Adi Saputra.

RM Padang Payakumbuah Yogyakarta saat ini menggunakan gas bumi sekitar 1.900–2.000 meter kubik per bulan. Penggunaan gas bumi tersebut memberikan efisiensi biaya bahan bakar sekitar 30 persen. Sebelumnya, pengeluaran bahan bakar restoran dapat mencapai sekitar Rp 40 juta per bulan, sedangkan setelah menggunakan gas bumi menjadi sekitar Rp 25–30 juta per bulan.

Manfaat serupa juga dirasakan pelaku upaya kuliner lainnya. Nasi Goreng Pak Wit, misalnya, telah beranjak menggunakan gas bumi dalam setahun terakhir. Menurut Elin, pemilik Nasi Goreng Pak Wit, biaya bahan bakar nan sebelumnya sekitar Rp 1,5 juta per bulan sekarang menjadi sekitar Rp 600 ribu per bulan setelah menggunakan gas bumi.

Pertumbuhan pemanfaatan jargas untuk sektor produktif tersebut menunjukkan bahwa prasarana gas bumi tidak hanya berkedudukan sebagai sumber daya bagi rumah tangga, tetapi juga dapat mendukung efisiensi operasional dan produktivitas pelaku usaha.

“PGN terus mengoptimalkan pemanfaatan jaringan gas bumi nan telah tersedia dengan mempertimbangkan kebutuhan pengguna dan aspek keekonomian. Kami mau memastikan prasarana nan sudah dibangun dapat memberikan faedah seluas-luasnya, baik bagi rumah tangga maupun aktivitas upaya masyarakat,” jelas Area Head PGN Semarang, Sugianto Eko Cahyono.

Selain memastikan kesiapan pasokan, PGN juga memberikan perhatian terhadap aspek keamanan dan keandalan layanan. Pelanggan mendapatkan support monitoring instalasi serta jasa penanganan gangguan selama 24 jam. Setiap laporan nan masuk bakal segera ditindaklanjuti oleh tim penanganan gangguan sesuai prosedur nan berlaku.

Dari sisi keselamatan penggunaan, gas bumi disalurkan dengan tekanan rendah sehingga potensi akibat dampak tekanan gas dapat diminimalkan. Gas bumi juga mempunyai massa jenis lebih ringan dibandingkan udara sehingga condong bergerak ke atas ketika terlepas ke udara. Oleh lantaran itu, ventilasi nan memadai menjadi salah satu aspek krusial untuk mencegah akumulasi gas di dalam ruangan andaikan terjadi kebocoran.

Petugas PGN saat uji coba jaringan gas bumi. Foto: Dok. Pertamina

Dengan cakupan pengguna nan terus berkembang, PGN memandang jargas sebagai salah satu prasarana strategis untuk memperluas pemanfaatan gas bumi sekaligus mendukung pertumbuhan aktivitas ekonomi di daerah. Ke depan, pemanfaatan jaringan nan telah tersedia bakal terus dioptimalkan dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, keekonomian, serta kesiapan infrastruktur.

“Bagi kami, keberadaan jargas bukan hanya mengenai tersedianya daya di rumah pelanggan. Ketika gas bumi juga dapat dimanfaatkan oleh restoran, UMKM, dan pelaku upaya lainnya, faedah infrastrukturnya menjadi lebih luas lantaran ikut mendukung aktivitas ekonomi masyarakat,” tutup Sugianto.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan