
350 Pekerja Kena PHK Imbas PT Xacti Indonesia di Depok Tutup, 9.000 Buruh Terancam (Foto: Freepik)
JAKARTA - Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) mulai terjadi. Sebanyak 350 pekerja kena PHK imbas PT Xacti Indonesia di Depok, Jawa Barat tutup.
"PT Xacti Indonesia nan dulunya adalah PT Sanyo Indonesia telah menutup total operasionalnya dengan melakukan PHK terhadap 350 orang tenaga kerja lantaran sudah tidak bisa lagi bersaing," kata Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden Partai Buruh Said Iqbal dalam bertemu pers secara virtual, Senin (25/5/2026).
Kini gelombang PHK massal tidak lagi hanya menyasar satu titik, melainkan merambah ke beragam provinsi dan lintas sektor, mulai dari elektronik, tekstil, hingga otomotif.
Said Iqbal mengungkapkan bahwa kejadian ini merupakan gambaran nyata dari rapuhnya ketahanan industri domestik terhadap gejolak eksternal. Kondisi industri manufaktur saat ini berada dalam tekanan dahsyat akibat ketidakpastian pasar dunia nan tak kunjung mereda. Situasi ini memaksa sejumlah perusahaan mengambil langkah ekstrem berupa efisiensi dan berujung penutupan total alias pailit.
Meski demikian, Iqbal memastikan bahwa proses pembelaan terhadap tenaga kerja PT Xacti telah mencapai kesepakatan. Berdasarkan laporan personil di lapangan, para pekerja nan terdampak mendapatkan kompensasi berupa pesangon sebesar dua kali ketentuan undang-undang ketenagakerjaan, termasuk duit penghargaan masa kerja dan duit penggantian hak.
Namun, potret buram ketenagakerjaan ini tidak berakhir di Depok. Di Jawa Barat lainnya, tepatnya di Karawang, tercatat total 1.323 orang terkena PHK dengan beragam latar belakang, mulai dari penutupan perusahaan (295 orang), langkah efisiensi (294 orang), hingga argumen disharmoni manajemen.
Kelesuan ekonomi ini juga menjalar ke wilayah Banten, khususnya di Serang dan Tangerang. Sektor sepatu dan tekstil menjadi nan paling terdampak. Perusahaan-perusahaan seperti PT Sinhwa Bis, PT Lung Cheong, dan PT PWI tercatat telah merumahkan ratusan karyawannya.
Bahkan, raksasa produsen sepatu PT Nikomas Gemilang mulai melakukan efisiensi dengan mem-PHK 279 orang karyawannya pada bulan Mei ini.
Penurunan daya beli masyarakat menjadi hantaman tersendiri bagi sektor otomotif nan sangat berjuntai pada bahan baku impor. Hal ini terlihat jelas dari lesunya permintaan kendaraan di pasar domestik nan memicu penutupan unit upaya di daerah.
"Di Sidoarjo, CV Asri nan bergerak di bagian showroom mobil dan perbengkelan sudah mem-PHK 200 orang lantaran tidak kuat memperkuat akibat permintaan mobil nan rendah, nan dipicu kenaikan nilai jual imbas melemahnya Rupiah terhadap Dolar," jelasnya.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·