Ilustrasi(Dok Istimewa)
Sebanyak 348 karya santri dari ratusan pondok pesantren di seluruh Indonesia resmi memasuki tahap penilaian pada gelaran Lomba Santrivision 2026. Perhelatan kejuaraan tingkat nasional nan pertama kali diselenggarakan pada tahun ini, diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama RI. Selain menjadi salah satu rangkaian agenda seremoni Hari Santri Nasional (HSN) 2026, arena ini diselenggarakan sebagai langkah konkret dalam mengukuhkan visi strategis ketua Kementerian Agama RI di era transformasi digital.
Meski tahapan pendaftaran berjalan relatif singkat—yakni sejak dibuka pada 23 September lalu—tingkat partisipasi dan respons Pesantren di beragam wilayah tercatat sangat tinggi. Antusiasme tersebut terlihat dari masuknya berkas pendaftaran pendelegasian dari Satuan Pendidikan Diniyah Formal (PDF), Muadalah, hingga Pesantren Salafiyah hingga pemisah akhir penutupan pendaftaran tadi malam, Kamis (15/10).
Direktur Pemberdayaan Pesantren, Yusi Damayanti, menyampaikan apresiasi mendalam atas komitmen para ketua Pesantren, pengasuh, serta para ustaz pembimbing dalam mendorong para santri agar berperan-serta aktif di arena Santrivision 2026.
"Kami sangat bangga dan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh ekosistem Pesantren di Indonesia. Tingginya partisipasi ini menjadi bukti nyata bahwa Pesantren mempunyai komitmen, kepedulian, dan perhatian nan sangat besar dalam merespons beragam tantangan dan rumor kontemporer nan dihadapi masyarakat," ujar Yusi Damayanti saat memberikan keterangan resmi di Ibu Kota Nusantara (IKN), Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, dalam rangka peninjauan letak dan penguatan koordinasi percepatan persiapan pendirian Pesantren Al-Ikhlas Kemenag RI, Jumat (16/10).
Di sela-sela agenda peninjauan di IKN tersebut, Yusi menegaskan bahwa penyelenggaraan Santrivision 2026 dirancang untuk mempertegas Asta Protas Menteri Agama RI, K.H. Nasaruddin Umar, khususnya mengenai pemberdayaan pesantren, penguatan ekoteologi, dan mewujudkan pendidikan keagamaan nan unggul serta inovatif. Langkah ini sekaligus menjadi pengejawantahan pengarahan Direktur Jenderal Pesantren, Basnang Said, dalam menghadirkan program terobosan (quick wins) pada 100 hari kerja pertama pasca-pembentukan Ditjen Pesantren.
"Banyaknya buahpikiran dan pendapat segar nan ditawarkan para santri—mulai dari respons terhadap krisis lingkungan, ketahanan pangan, kemandirian energi, hingga etika kepintaran buatan (AI)—menunjukkan bahwa santri siap berkontribusi secara nyata. Gagasan-gagasan ini menjadi masukan strategis berbasis info empiris dalam mengawal arah kebijakan awal Ditjen Pesantren di bawah kepemimpinan Bapak Dirjen guna menopang visi besar Menteri Agama RI," ungkap Yusi menambahkan.
Mengusung tema "Santri Membaca Zaman: Kebudayaan, Inovasi, dan Narasi Masa Depan Pesantren", Lomba Santrivision 2026 terbagi ke dalam 3 (tiga) kategori utama, ialah Naskah, Kebijakan & Komunikasi Ilmiah (Paper & Policy); Audio-Visual, Seni Visual & Digital Media; serta Inovasi Digital & Teknologi Pesantren. Melalui tiga kategori tersebut, arena ini menjembatani kedalaman khazanah keilmuan Islam (turats) dengan metodologi riset ilmiah berbasis bukti (evidence-based policy) serta rekayasa teknologi digital.
Seluruh karya nan telah terdaftar saat ini memasuki tahap verifikasi manajemen dan penilaian substansi oleh majelis juri ahli. Setelah tahap penilaian awal, para peserta ditetapkan sebagai finalis di setiap kategori bakal diundang untuk mengikuti Coaching Clinic (Klinik Bimbingan) selama dua hari berbareng para master dan praktisi serta melibatkan alumni program danasiwa di bawah Kementerian Agama RI, guna memperdalam metodologi serta mematangkan eksekusi karya di tahap akhir. Selanjutnya, para finalis bakal menyampaikan presentasi karya di hadapan tim penilai untuk menentukan capaian terbaik di masing-masing kategori.
Rangkaian aktivitas Santrivision 2026 ini bakal bermuara pada Malam Bakti Santri untuk Negeri pada 30 Oktober 2026. Para pemenang terbaik dari seluruh kategori bakal diundang secara langsung untuk menerima penghargaan dan duit pembinaan nan diserahkan oleh Menteri Agama RI, K.H. Nasaruddin Umar. Pada momentum berhistoris tersebut, para pemenang kategori Policy Brief juga bakal menyerahkan arsip "Buku Putih Rekomendasi Santri" serta katalog produk penemuan secara langsung sebagai kontribusi akademis dan hormat nyata santri bagi bangsa. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·