3 Skenario Gencatan Senjata AS-Iran: 'Bos' Selat Hormuz-Damai Permanen

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertempuran antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai memasuki tahap pembicaraan gencatan senjata. Pada malam tanggal 7 April, diumumkan bahwa Washington dan Teheran telah menyetujui gencatan senjata selama dua minggu, nan tak lama kemudian dikonfirmasi oleh Israel untuk ikut berasosiasi dalam kesepakatan tersebut.

Selama dua minggu ke depan, negosiasi menuju kesepakatan tenteram permanen dijadwalkan bakal segera digelar dengan Pakistan bertindak sebagai mediator utama. Analis info dan praktisi publik asal Rusia, Sergey Poletaev, menilai bahwa situasi ini merupakan skenario nan sudah diprediksi sebagai hasil paling mungkin sejak awal bentrok pecah di Timur Tengah.

Berikut 3 kajian Poletaev sebagaimana dikutip dari tulisan opininya di Russia Today, Jumat (10/4/2026):

Skenario 1: Gencatan Senjata Berkepanjangan

Dalam analisisnya, Poletaev berasumsi bahwa jarak permusuhan ini bisa berjalan selama berbulan-bulan alias apalagi bertahun-tahun lantaran gencatan senjata dapat terus diperpanjang meski kesepakatan tenteram umum belum terwujud. Jika perihal ini terjadi, prioritas utama bagi negara-negara Arab adalah membangun generasi baru pertahanan udara dengan cetak biru nan mengandalkan pencegat massal murah baik dari darat seperti Pantsir Rusia maupun dari udara.

Poletaev menjelaskan bahwa prioritas kedua adalah diversifikasi logistik dengan membangun pipa baru ke Laut Merah untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz nan dikuasai Iran. Namun, bagi negara seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Irak, pipa lintas Semenanjung Arab justru bakal menciptakan ketergantungan baru pada kekuatan regional lainnya, ialah Arab Saudi, komplit dengan biaya transit nan menyertainya.

Masalah utamanya, menurut Poletaev, pengetahuan permukaan bumi Teluk membikin perlindungan penuh menjadi mustahil lantaran setiap jalur pelayaran berada dalam jangkauan Iran, di mana prasarana vital di sepanjang pantai terekspos seperti sasaran di tempat latihan tembak. Ia menilai negara-negara Arab kemungkinan besar bakal memilih untuk bayar demi keamanan jalur pelayaran tersebut.

"Pada akhirnya, mereka tidak terlalu peduli siapa nan menyediakan payung keamanan itu. Mereka dulu bayar AS; sekarang mereka bakal bayar Iran. Harganya apalagi tidak terlalu mahal-kabarnya sekitar US$ 2 juta per supertanker, nan hanya 2-3% dari nilai minyak di dalamnya. Dan pada akhirnya, pembeli jugalah nan bakal menanggung biayanya," ujar Poletaev.

Poletaev menambahkan bahwa di bumi Timur, keahlian membebankan upeti kepada tetangga adalah tanda penguasa nan bijaksana, sebuah prinsip nan dipahami baik oleh Iran maupun bumi Arab. Ironisnya, AS dan Israel justru membantu mewujudkan tatanan regional baru nan sesuai dengan logika politik lokal tersebut.

"Sekarang Washington dan Yerusalem Barat bakal menghadapi perjuangan panjang dan berat untuk membangun kembali pengaruh mereka-dan setiap langkah nan mereka ambil bakal dipandang dengan skeptisisme oleh negara-negara Arab: gimana jika semuanya acak-acakan lagi? Serigala alfa telah kehilangan sasarannya," kata Poletaev.

Skenario 2: Eskalasi Baru nan Kembali Memanas

Skenario kedua nan dipaparkan Poletaev adalah kemungkinan perang kembali berkobar dalam dua minggu dengan intensitas nan lebih besar, terutama jika negosiator Iran kembali menjadi sasaran serangan. Meski begitu, dia memandang perihal ini relatif tidak mungkin terjadi lantaran AS dan Israel saat ini kekurangan jalur nan jelas untuk mengalahkan Iran secara telak melalui cara-cara konvensional.

Menurut Poletaev, tanpa menggunakan skenario nuklir, koalisi hanya mempunyai dua opsi utama, di mana opsi pertama adalah kampanye pengeboman strategis intensif untuk menghancurkan Iran. Namun, perihal ini sangat berisiko lantaran pesawat pengebom strategis seperti B-52 justru bakal sangat rentan terhadap sistem pertahanan udara Iran nan terbukti tetap tangguh.

Sementara itu, Poletaev menyoroti keahlian rudal Iran nan tidak hanya memperkuat tetapi menunjukkan tanda-tanda pemulihan, ditambah kegagalan AS dalam mengganggu prasarana peluncuran drone Iran. Hal ini berfaedah pengeboman skala besar berisiko memicu serangan jawaban nan merusak monarki minyak Arab, memperdalam syok minyak global, dan mendorong bumi menuju krisis finansial.

"Israel juga bakal terekspos. Menurut laporan JPMorgan nan mengutip Jewish Institute for National Security of America, tingkat keberhasilan serangan Iran ke wilayah Israel telah melonjak-dari 3% pada awal perang menjadi 27% pada akhir Maret dan awal April-sebagian besar disebabkan oleh kelelahan dan habisnya stok pertahanan udara Israel," ungkap Poletaev.

Opsi kedua berupa operasi darat skala besar di garis pantai alias pulau-pulau nan dikendalikan Iran juga dinilaiPoletaev mengandung akibat tinggi dengan korban jiwa nan tak terelakkan tanpa untung nan signifikan. Baginya, invasi penuh nan bermaksud untuk perubahan rezim di Iran merupakan sesuatu nan tidak layak dilakukan saat ini.

"Semua ini tidak berfaedah eskalasi mustahil terjadi. Ini berfaedah bahwa sebelum melakukan eskalasi, kepemimpinan AS dan Israel kudu memecahkan persamaan nan sama nan mereka hadapi di awal perang-tetapi sekarang dengan jauh lebih sedikit ketidaktahuan. Ketahanan Iran, keahlian militernya, dan sejauh mana isolasi internasional terhadap AS-Israel sekarang jauh lebih jelas," tutur Poletaev.

Poletaev juga memperingatkan bahwa jika pelayaran melalui Selat Hormuz dilanjutkan dan kemudian terganggu lagi oleh tindakan AS alias Israel, maka mereka bakal dipandang secara luas sebagai pihak nan bertanggung jawab atas pemicu krisis ekonomi global.

Skenario 3: Bentrokan Level Rendah di Bawah Kendali Iran

Skenario terakhir nan dianggap Poletaev sebagai nan paling mungkin terjadi adalah ragam dari skenario pertama, di mana Iran menuduh Israel melanggar gencatan senjata dan menakut-nakuti bakal membalas dendam. Jika lampau lintas melalui Selat Hormuz terus bersambung tanpa gangguan besar, pola ketegangan nan berjalan terus-menerus dan pertukaran serangan sporadis bakal menjadi normal baru.

Dalam situasi ini, Poletaev memprediksi Israel bakal melakukan serangan, dan Iran bakal membalas dengan menutup selat untuk sementara waktu alias meluncurkan serangan jawaban sendiri. Hal ini menurutnya bakal membikin wilayah Timur Tengah menjadi kurang stabil, namun bumi internasional bakal condong mengabaikannya selama arus daya tetap mengalir.

"Setelah beberapa minggu alias bulan, buletin semacam ini bakal memudar ke latar belakang-menjadi akibat tingkat rendah nan konstan. Wilayah tersebut menjadi kurang stabil, tetapi seluruh bumi sebagian besar bakal mengangkat bahu-selama minyak dan sumber daya lainnya terus mengalir keluar dari Teluk Persia," pungkas Poletaev.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News