
Harga BBM nonsubsidi resmi naik per 10 Juni 2026. (Foto: Okezone.com/Pertamina)
JAKARTA - Harga BBM nonsubsidi resmi naik per 10 Juni 2026. Kenaikan nilai BBM diberlakukan untuk jenis Pertamax 92 dan Pertamax Green 95 setelah sebelumnya, pada Mei 2026, pemerintah telah menyesuaikan nilai Pertamax Turbo.
Dalam keputusan tersebut, nilai Pertamax 92 naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter alias meningkat 32,1 persen. Sementara itu, nilai Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter alias meningkat 31,8 persen.
Menurut Ekonom Great Institute, Adrian Nalendra Perwira, penyesuaian nilai tersebut merupakan langkah korektif nan diperlukan untuk mencegah tekanan fiskal nan lebih dalam. Jauh sebelumnya, melalui kajian publik pada April 2026, pihaknya telah mengingatkan bahwa kombinasi tingginya nilai minyak bumi dan pelemahan nilai tukar rupiah bakal mempersempit ruang fiskal pemerintah.
Oleh lantaran itu, keputusan tersebut perlu dipahami sebagai pilihan kebijakan nan tidak mudah, tetapi semakin susah dihindari setelah nilai minyak memperkuat jauh di atas dugaan APBN dan nilai tukar rupiah terus berada dalam tekanan.
"Kami memandang keputusan ini sebagai koreksi nan diperlukan. Menahan nilai Pertamax selama lebih dari tiga bulan di tengah ICP Mei nan berada di USD106,56 per barel, jauh melampaui dugaan APBN sebesar USD70 per barel, serta rupiah nan menembus Rp18.000 per dolar AS, bukanlah kebijakan nan berkelanjutan. Biayanya berisiko beranjak ke neraca Pertamina, menekan arus kas badan usaha, alias pada akhirnya menciptakan tekanan tambahan terhadap postur fiskal," ujar Adrian, Jumat (12/6/2026).
Adrian mencatat, setelah kenaikan tersebut, nilai jual Pertamax tetap berada di bawah perkiraan nilai keekonomian nan berkisar Rp17.000 hingga Rp18.000 per liter pada Mei 2026. Di sisi lain, keputusan mempertahankan nilai Pertalite di Rp10.000 per liter dan Biosolar di Rp6.800 per liter juga patut diapresiasi sebagai alas bagi golongan masyarakat berpendapatan rendah dan pengguna transportasi nan lebih rentan terhadap kenaikan nilai energi.
Namun, Adrian mengingatkan bahwa pemerintah perlu memastikan kebijakan tersebut tidak berakhir pada penyesuaian nilai semata, melainkan diikuti dengan pengelolaan akibat terhadap inflasi, daya beli masyarakat, serta potensi migrasi konsumsi dari Pertamax ke Pertalite. Kenaikan nilai nan besar dan mendadak dapat menimbulkan tekanan psikologis bagi konsumen, terutama golongan pekerja perkotaan, pengguna sepeda motor, dan pelaku upaya mini nan selama ini menggunakan Pertamax untuk aktivitas harian.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·