Budi menjelaskan, PM2,5—partikel udara nan dihasilkan dari pembakaran rimba dan lahan dengan ukuran kurang dari 2,5 mikrometer—sangat rawan lantaran bisa terhirup hingga ke rongga terdalam paru-paru. Paparannya kerap memicu keluhan medis nan bisa bertambah parah, mulai dari iritasi mata, tenggorokan gatal, sesak napas, hingga memperburuk kondisi penyakit paru kronis.
Oleh lantaran itu, katanya, masker menjadi pertahanan pertama nan paling mudah diakses masyarakat ketika langit mulai kelabu tertutup asap.
Pemerintah juga mendorong penduduk untuk rutin memeriksa indeks kualitas udara secara berdikari melalui beragam aplikasi resmi. Pemantauan ini krusial agar masyarakat dapat mengambil keputusan nan tepat sebelum beraktivitas di luar rumah.
Kemenkes mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan indikasi pernapasan ringan. Warga nan mulai mengalami sesak napas, batuk menetap, nyeri dada, hingga iritasi mata berat diimbau segera mencari pertolongan medis ke puskesmas alias rumah sakit terdekat sebelum kondisi memburuk.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·