3 Gebrakan Besar Trenggono: dari Garam, Kapal, Sampai Kampung Nelayan

Sedang Trending 20 jam yang lalu
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di bawah Sakti Wahyu Trenggono membikin sejumlah gebrakan di sektor kelautan dan perikanan. Ini dilakukan agar sektor kelautan dan perikanan bisa menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.

Ada 3 gebrakan besar nan sedang dilakukan Trenggono, ialah membangun tambak garam raksasa di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur untuk mewujudkan swasembada garam, modernisasi kapal, hingga pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Tambak Garam Raksasa K-SIGN di Rote Ndao, NTT

Pemerintah sudah menargetkan untuk menyetop total impor garam baik industri maupun konsumsi pada 2029 mendatang. Langkah berani ini diambil karena pemerintah sudah membangun tambak garam raksasa di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (KSIGN) di kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur tahap pertama seluas 616 hektare sudah rampung pengerjaannya. Menurut rencana, KSIGN Rote Ndao bakal panen perdana pada November 2026 mendatang.

"KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) tengah melakukan uji coba produksi pada lahan seluas 616 hektare nan telah selesai dibangun dengan sasaran panen perdana pada November 2026 ini," kata Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (BAKOM) Muhammad Qodari, di Kantor BAKOM, Rabu (2/9/2026).

Qodari menjelaskan total wilayah sentra industri garam nan bakal dikembangkan mencakup 10.764 hektare di NTT. Sebesar 2.000 hektare dibangun melalui skema kerja sama pemanfaatan wilayah masyarakat berbareng pemerintah, sementara 8.000 hektare area lainnya dipenuhi dengan skema investasi langsung dari investor.

Dari program ini, pemerintah juga menargetkan peningkatan produksi garam nasional secara berjenjang menjadi 2,5 juta ton di tahun 2026, dari baseline 1 juta ton. Hingga terus bertambah 3,5 juta ton di tahun 2027 dan 5 juta ton 2029. Pemerintah pun menargetkan swasembada garam pada tahun 2029 mendatang, dalam makna tidak lagi melakukan impor.

"Sejalan dengan itu volume impor garam ditargetkan turun dari baseline sekitar 2,6 juta ton menjadi 2 juta ton pada 2026. 1 juta ton pada 2027, hingga mencapai nol pada tahun 2029," kata Qodari.

KKP mempunyai sentra produksi garam baru ialah K-SIGN di Rote Ndao, NTT. Tambak raksasa ini mempunyai tingkat kemurnian NaCl mencapai 97%. Dengan standar tersebut, garam Rote Ndao dinilai layak digunakan untuk kebutuhan industri meski akomodasi pabrik pemurnian belum seluruhnya dibangun.

K-SIGN dirancang sebagai akomodasi industri garam modern, bukan hanya membangun kolam dan prasarana fisik, tetapi memastikan proses produksi bisa menghasilkan garam dengan standar industri sejak awal. Untuk tahap awal, produksi garam industri di K-SIGN bakal dilakukan langsung dari tambak dengan pengendalian kualitas. Sementara itu, akomodasi lanjutan seperti washing plant hingga refinery tetap disiapkan dalam pengembangan kawasan.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. (CNBC Indonesia TV)Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. (CNBC Indonesia TV) Foto: (CNBC Indonesia TV)

Modernisasi Kapal Nelayan

Pemerintah menyiapkan program modernisasi kapal ikan. Rencananya pemerintah mau meembangun kapal ikan modern mencapai 4.582 unit secara berjenjang hingga 2029.

Qodari mengatakan pada tahun 2026 ini pemerintah menargetkan pembangunan sebanyak 50 unit kapal berukiran 30 Gross Tonnage (GT). Kategori kapal nan bakal dibangun meliputi 11 kategori umum dengan total 43 ragam kriteria GT dari 10 - 2.500 GT. Seperti Pukat Cincin, Gillnet, Handline, Rawai, Jaring Hela Ikan dan Udang, Liftnet, Bubu, Kapal Pengangkut, Kapal Processing, serta kapal pendukung operasi.

Adapun nilai investasi nan dibutuhkan untuk pembangunan 4.582 kapal dari 2026 - 2029 itu mencapai Rp125,5 triliun.

"Pembangunan kapal ikan modern ini memerlukan investasi sekitar Rp125,5 triliun. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melibatkan industri galangan kapal dalam negeri dalam pembangunan," kata Qodari.

Menurut Qodari, pembangunan kapal ini diharapkan dapat menggerakan ekonomi domestik, membuka lapangan kerja, serta mendorong alih teknologi dari luar ke dalam negeri.

Dia berambisi program ini bisa menghasilkan penyerapan tenaga kerja hingga 89.000 orang nan ditempatkan sebagai operator kapal, admin, hingga pengurus arsip kapal. Dari jumlah itu 55 orang di antaranya bakal memenuhi kebutuhan kru kapal seperti nahkoda, perwira, kepala bilik mesin, dan anak buah kapal.

Dari program ini pemerintah juga menargetkan peningkatan produksi perikanan tangkap hingga 2,3 juta ton per tahun, peningkatan pendapatan nelayan sebesar Rp20,7 triliun, peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor sumber daya alam perikanan sebesar Rp1,8 triliun.

Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP)

KKP punya program besar untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat pesisir melalui pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Program ini menjadi bagian dari strategi penerapan ekonomi biru nan menggabungkan aspek produksi, sosial, dan lingkungan.

KNMP didukung akomodasi rantai dingin (cold storage), logistik, hingga bengkel kapal. Ada juga pabrik es, dermaga tambatan kapal, sentra kuliner, SPBU kapal, hingga taman tempat wisata.

Program ini tidak hanya menyasar peningkatan produksi, tetapi juga pembentukan pusat-pusat ekonomi baru di wilayah pesisir. KKP menargetkan pembangunan 1.389 lokasi, dan dalam waktu dekat bakal diresmikan 100 titik letak dengan akibat produksi nan signifikan.

Melalui pendekatan baru, pemerintah mau mengubah wajah ekonomi pesisir menjadi lebih produktif dan mandiri.

Konsep pengembangan kampung nelayan juga tidak berkarakter seragam. Setiap wilayah bakal disesuaikan dengan karakter lokal dan daya dukung lingkungan. Pendekatan tematik menjadi kunci agar pembangunan tidak merusak ekosistem nan ada.

Melalui strategi ini, pemerintah berambisi tercipta ekosistem ekonomi baru nan lebih inklusif dan berkepanjangan di wilayah pesisir Indonesia.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono optimistis pembangunan ekosistem perikanan terpadu tersebut tak hanya meningkatkan kesejahteraan nelayan, tetapi juga memperkuat ekonomi pesisir. Bahkan, dari 1.369 Kampung Nelayan Merah Putih saja pemerintah memperkirakan produksi ikan bisa mencapai sekitar 2,8 juta ton per tahun, sebelum sasaran pembangunan 5.000 kampung nelayan pada 2029 direalisasikan.

"Nanti ke depan, kita harapkan dengan adanya manajer Kampung Nelayan ini nan mengelola dan seterusnya, di situ bakal kita install lagi, mereka tentunya kita harapkan, kelak kita bakal install namanya itu mini processing. Seperti kayak dia langsung divakum, dipacking dan seterusnya kayak gitu," ujar Trenggono dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia.

(wur/wur) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News