Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA Yogyakarta) mengenalkan Lodong Sisa Dapur (LOSIDA) sebagai pengganti pengolahan sampah organik dari rumah. Sebanyak 50 unit LOSIDA dipasang di Padukuhan Karang Tengah dan Salakan, Kalurahan Nogotirto, Gamping, Sleman, Rabu (16/9).
Pemasangan tersebut melibatkan 250 mahasiswa baru nan menjadi perwakilan peserta Masa Ta’aruf (MATAF) UNISA Yogyakarta. Mereka dibagi menjadi 50 golongan dan diterjunkan ke permukiman sekitar kampus untuk mengenal masyarakat serta persoalan di sekitarnya, salah satunya pengelolaan sampah rumah tangga.
Wakil Rektor III UNISA Yogyakarta Mufdlilah mengatakan aktivitas tersebut menjadi langkah awal untuk membangun kepedulian mahasiswa terhadap pengelolaan sampah.
“Ini mau menjadi pemula bagi mereka (untuk) mulai peduli. Mereka kudu disadarkan bahwa sampah itu perlu dikelola, sampah itu kudu dimanfaatkan, sampah itu bukan peralatan nan sisa tetapi bisa dimanfaatkan,” kata Mufdlilah.
Dalam penerapannya, setiap golongan nan terdiri atas lima mahasiswa membawa satu LOSIDA untuk dipasang berbareng warga. Melalui aktivitas tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari pengelolaan sampah, tetapi juga memandang langsung persoalan nan dihadapi masyarakat di sekitar kampus.
LOSIDA menggunakan pipa paralon nan sebagian ditanam ke dalam tanah. Bagian bawah pipa diberi lubang, sedangkan bagian atas digunakan untuk memasukkan sampah organik rumah tangga.
Sisa dapur seperti kupasan bawang, sisa sayuran, buah, makanan, hingga daun kering dapat dimasukkan ke dalam LOSIDA. Sampah tersebut kemudian dibiarkan terurai secara alami di dalam tanah hingga menjadi kompos. Pipa ditutup untuk mengurangi aroma dan mencegah lalat masuk.
Mahasiswa UNISA Yogyakarta, Mutiara Nurhan, menjelaskan bahan nan dapat diolah menggunakan LOSIDA berasal dari sampah organik nan mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita ambil dari bahan-bahan sisa dapur. Seperti kupasan bawang alias mungkin sisa makanan, sisa sayuran, sisa buah-buahan. Bisa juga pakai daun-daun kering di sekitar kita,” ujarnya.
Inovasi pengolahan sampah menggunakan LOSIDA telah dijalankan UNISA Yogyakarta selama sekitar empat tahun. Kegiatan tersebut juga telah melibatkan mahasiswa untuk turun langsung ke masyarakat pada tahun sebelumnya. Tahun ini, keterlibatan mahasiswa kembali dilakukan dengan menyasar Padukuhan Karang Tengah dan Salakan di Nogotirto.
Ketua RT Padukuhan Karang Tengah, Surahmin, mengatakan sampah organik tetap menjadi salah satu persoalan nan belum sepenuhnya terselesaikan.
“Pada saat ini masalah sampah itu menjadi masalah nan belum bisa terpecahkan. Salah satunya adalah sampah organik,” katanya.
Ia berambisi program LOSIDA dapat dilakukan secara berkepanjangan dan tidak berakhir setelah pemasangan. Menurut Surahmin, pemantauan dalam beberapa bulan berikutnya diperlukan agar penduduk dapat menggunakan hingga mengembangkan LOSIDA secara mandiri.
“Kami mengharapkan untuk kelak bisa berkesinambungan. Artinya tidak hanya memasang (LOSIDA) pada saat ini, tapi kelak dalam jangka dua alias tiga bulan untuk kita minta untuk tengok, untuk dikaruhke sehingga kelak mudah-mudahan penduduk itu bisa mengembangkan sendiri LOSIDA tersebut,” ujarnya.
43 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·