2026 Asia-Pasific Regional Learning Forum Dorong Aksi Kolektif Pengembangan Anak Usia Dini 

Sedang Trending 1 hari yang lalu
2026 Asia-Pasific Regional Learning Forum Dorong Aksi Kolektif Pengembangan Anak Usia Dini  Kiri ke kanan_ Head of Policy & Advocacy Tanoto Foundation, Eddy Henry; Direktur SEAMEO CECCEP, Prof. Vina Adriany; Executive Director ARNEC, Evelyn Santiago, ARNEC; Koordinator Koalisi Nasional PAUD-HI, Dr. Irma Yuliantina; Head of ECED Tanoto Foundation(Dok. Tanoto Foundation)

SEKITAR 150 perwakilan pemerintah, master pengembangan anak usia dini, peneliti, praktisi, mitra pembangunan, dan organisasi filantropi dari seluruh area Asia-Pasifik berkumpul di Jakarta dalam aktivitas 2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development, nan berjalan pada 20 hingga 22 Oktober.

Forum ini diselenggarakan oleh Asia-Pacific Regional Network for Early Childhood (ARNEC) bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Tanoto Foundation, Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (SEAMEO CECCEP), serta Koalisi Nasional PAUD-HI. 

Mengusung tema “From Knowledge to Collective Action: Strengthening Climate-Responsive and Well-Financed ECD Systems in Asia-Pacific”, aktivitas ini mempertemukan perwakilan dari Indonesia dan 15 negara lainnya, ialah Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Kamboja, India, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Thailand, Timor-Leste, dan Vietnam.

Pertemuan ini mendorong perbincangan dan kerjasama regional untuk memperkuat sistem pengembangan anak usia awal melalui pertukaran pengalaman, pembelajaran bersama, dan perumusan langkah-langkah konkret. 

Diskusi berfokus pada dua prioritas utama, ialah penguatan sistem pengembangan anak usia awal nan responsif terhadap perubahan suasana serta mobilisasi pendanaan nan memadai, adil, dan berkelanjutan.

Kedua prioritas ini menjadi landasan krusial untuk memastikan setiap anak memperoleh akses terhadap jasa pengasuhan dan pendidikan anak usia dini nan berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.

Dalam sambutannya pada pembukaan Forum, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia, Suharti menyampaikan Kementerian sedang berupaya membangun koalisi nan kuat untuk anak-anak Indonesia. 

“Salah satu inisiatif kebijakan utama nan saat ini sedang dikembangkan adalah penerapan wajib belajar satu tahun pendidikan anak usia awal (PAUD), nan selaras dengan prioritas nasional Wajib Belajar 13 Tahun. Program prioritas kementerian juga mencakup revitalisasi sekolah dan satuan PAUD untuk memastikan tersedianya lingkungan belajar nan kondusif dan memadai, serta ekspansi Program Indonesia Pintar (PIP) agar dapat menjangkau anak-anak di tingkat prasekolah,” kata Suharti.

Sementara itu,  Executive Director ARNEC, Evelyn Santiago, menegaskan bahwa Kawasan Asia-Pasifik sangat rentan terhadap perubahan iklim. “Negara-negara di area ini secara konsisten menempati ranking teratas dalam Climate Risk Index. Sejak 2019, ARNEC telah menyuarakan kesadaran tentang akibat perubahan suasana terhadap anak usia dini, dan Regional Learning Forum ini merupakan bagian dari pembelaan jangka panjang tersebut,” sebut Evelyn.

“Dengan mempertemukan pemerintah nasional, peneliti, mitra pembangunan, lembaga filantropi, guru, dan praktisi pengembangan anak usia dini, kami berambisi dapat mengubah pengetahuan dan pengalaman nan telah dimiliki menjadi tindakan kolektif nan lebih kuat untuk membangun sistem pengembangan anak usia awal nan tangguh, responsif terhadap iklim, dan didukung dengan pendanaan berkelanjutan,” ujar Evelyn.

Fokus Iklim dan Pendanaan Berkelanjutan

Selama tiga hari, Forum ini membahas beragam aspek penguatan sistem pengembangan anak usia dini. Hari pertama berfokus pada pengembangan PAUD nan responsif terhadap suasana dan upaya melindungi anak dari akibat mengenai iklim, termasuk melalui jasa nan sesuai dengan kebutuhan mereka. 

Hari kedua membahas pendanaan berkelanjutan, khususnya strategi untuk mempertahankan dan memperkuat investasi pada anak usia dini, serta pertukaran pengalaman antara perwakilan pemerintah dalam memobilisasi dan memanfaatkan sumber daya secara efektif. 
Kemudian, hari ketiga mengangkat rumor masa depan pendidikan anak usia awal melalui obrolan tentang kepintaran buatan dan teknologi digital, serta pentingnya memberikan ruang bagi bunyi dan perspektif anak.  

Forum ini juga bakal mengangkat kampanye Act for Early Years, sebuah aktivitas dunia nan menyerukan akses terhadap jasa pengembangan anak usia dini, pengasuhan, dan pendidikan prasekolah nan berbobot bagi semua anak wanita dan laki-laki. Melalui kampanye ini, Forum turut mendorong para peserta untuk menandatangani ‘Minifesto’, sebuah seruan untuk meningkatkan perhatian dan investasi dalam pengembangan anak usia dini. Dukungan dari pejabat pemerintah dan peserta Forum bakal dikonfirmasi setelah sesi mengenai berlangsung.

Pada kesempatan nan sama, Head of Policy & Advocacy, Tanoto Foundation, Eddy Henry mengatakan bahwa investasi pada anak usia awal memerlukan kerjasama nan berkelanjutan. “Filantropi dapat melengkapi upaya pemerintah dengan mendukung penyediaan bukti, inovasi, dan kapabilitas kelembagaan nan diperlukan untuk menerjemahkan pendekatan nan terbukti efektif menjadi perbaikan nan berkelanjutan. Kami menyambut baik kesempatan untuk belajar berbareng pemerintah dan para mitra di Asia Pasifik dalam forum ini,” ujar Eddy Henry.

Investasi Masa Depan dan Strategi 2026–2030

Sementara, Widyaprada Ahli Utama Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia, Harris Iskandar menyoroti pentingnya pendanaan nan berkepanjangan dan tanggung jawab bersama. “Memastikan akses nan merata terhadap pendidikan anak usia awal nan berbobot memerlukan pendanaan berkepanjangan dan tanggung jawab bersama. Pendanaan untuk anak usia awal semestinya dilihat bukan sebagai sebuah pengeluaran tapi sebagai sebuah investasi bagi suatu negara,” ujar Harris.

Direktur SEAMEO CECCEP, Prof. Vina Adriany, pada forum ini juga memaparkan sejumlah prioritas untuk memperkuat sistem pengasuhan dan pendidikan anak usia awal (PAUD) di Asia Tenggara. Prioritas tersebut mencerminkan kontribusi SEAMEO CECCEP dalam mendorong penerapan ‘ASEAN–SEAMEO Joint Roadmap on ECCE’ melalui penelitian dan pengembangan, penguatan kapasitas, serta kemitraan regional. 

Memperkuat sistem pengasuhan dan pendidikan anak usia awal tidak hanya memerlukan peningkatan kualitas layanan, tetapi juga penyelesaian tantangan struktural nan mempengaruhi keberlanjutan dan pemerataan akses. Pendanaan perlu didukung oleh kerangka norma nan kuat, menjangkau anak-anak dan masyarakat secara merata, serta berkepanjangan tanpa berjuntai pada support donor jangka pendek.

“Pada saat nan sama, rumor perubahan suasana perlu diintegrasikan ke dalam pendidikan anak usia awal melalui pendekatan pembelajaran nan sesuai dengan tahap perkembangan anak, sehingga mereka dapat memahami tantangan lingkungan dan upaya pencegahannya,” jelas Prof. Vina.

Menyoroti keterkaitan kedua rumor tersebut,  Koordinator Koalisi Nasional PAUD-HI, Irma Yuliantina, mengatakan bahwa seiring meningkatnya akibat mengenai iklim, sistem PAUD nan didanai secara memadai dan handal menjadi semakin krusial untuk memastikan jasa esensial bagi anak usia awal tetap melangkah sebelum, selama, dan setelah krisis. “Oleh lantaran itu, penguatan investasi di bagian PAUD sangat krusial bukan hanya bagi perkembangan dan kesejahteraan anak, tetapi juga untuk membangun sistem nan bisa melindungi anak usia awal dengan lebih baik di tengah perubahan iklim,” ungkap Irma.

Dalam Forum ini, ARNEC juga meluncurkan strategi baru untuk periode 2026–2030 nan disusun dengan konsultasi berbareng mitra di tingkat global, regional, dan nasional. Strategi ini bakal menjadi pedoman bagi ARNEC dalam bekerja sama dengan organisasi pengembangan anak usia awal di area Asia-Pasifik.

“Negara-negara di area Asia-Pasifik berada pada titik krusial dan tidak bisa terus mengandalkan pendekatan nan sama seperti sebelumnya. Melalui pembelajaran bersama, dialog, dan kemitraan, ARNEC berbareng para mitranya mau mendorong tindakan nyata nan terkoordinasi agar semakin banyak anak usia awal di area ini dapat tumbuh dan berkembang secara optimal,” tutup Evelyn Santiago. (H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑