Jakarta, CNBC Indonesia - Industri ritel dalam negeri tengah menghadapi dilema berat di tengah tekanan biaya nan terus meningkat. Di satu sisi, kenaikan nilai peralatan susah dihindari lantaran dorongan dari sisi hulu, imbas bahan baku nan mahal lantaran perang di Timur Tengah. Namun di sisi lain, pelaku upaya juga kudu menahan kenaikan agar tidak semakin menekan daya beli masyarakat, terutama saat memasuki periode low season nan panjang.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menyebut kondisi saat ini bukan hanya dialami Indonesia, tetapi juga banyak negara lain akibat dampak bentrok di Timur Tengah. Namun, tekanan di dalam negeri berpotensi lebih besar lantaran bertepatan dengan periode penjualan nan sedang lesu.
"Kondisi susah saat ini akibat dampak perang di Timur Tengah bukan hanya dialami oleh Indonesia saja, tetapi juga tentunya dialami oleh banyak negara lainnya. Dampak nan dialami oleh negara kita juga berpotensi mengalami tekanan lebih besar lantaran waktunya berbarengan dengan dimulainya periode 'low season' sebagaimana biasanya nan terjadi di Indonesia, ialah pasca-Ramadan dan Lebaran nan adalah merupakan puncak (peak season) penjualan ritel," kata Alphonzus kepada CNBC Indonesia, Rabu (15/4/2026).
Ia menjelaskan, low season tahun ini apalagi diperkirakan berjalan lebih lama dari biasanya lantaran Ramadan dan Lebaran jatuh lebih awal, ialah pada triwulan pertama. Artinya, pelaku upaya kudu menghadapi periode penjualan lemah sepanjang triwulan kedua hingga ketiga.
Di tengah kondisi tersebut, kenaikan nilai jual menjadi rumor nan tak terelakkan. Namun, Alphonzus menekankan pelaku industri ritel dan pusat shopping kudu menekan kenaikan seminimal mungkin agar kondisi pasar tidak semakin dalam.
"Kenaikan nilai jual memang tidak bisa dihindari tapi kudu diupayakan untuk ditekan seminimal mungkin, agar low season nan panjang ini tidak menjadi low season panjang dan dalam," tegasnya.
Tekanan serupa juga dirasakan pelaku ritel. Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengungkapkan, kenaikan nilai sudah terjadi di tingkat pabrik dan bahan baku, apalagi meluas ke beragam jenis produk.
"Ya memang bahan baku sudah (naik), pabrik-pabrik sudah memberikan kenaikan harga. Nggak hanya dari bahan baku tekstil, tapi kami dari ritel menerima kenaikan nilai dari elektronik, produk plastik, rumah tangga, sampai juga dengan perangkat listrik. Semua ada kenaikan, dikarenakan semua memerlukan plastik gitu kan," kata Budihardjo dihubungi terpisah.
Menurutnya, posisi ritel saat ini lebih banyak berada di hilir, sehingga ruang mobilitas untuk menahan nilai cukup terbatas. Meski begitu, pelaku upaya tetap berupaya melakukan negosiasi dengan produsen agar kenaikan tidak langsung dibebankan ke konsumen.
"Nah memang ini nan tidak bisa dihindari. Nah jika dalam perihal ini Hippindo menerapkan, kami mengapresiasi jika ada pabrik nan dapat memberikan nilai spesial dulu untuk ke konsumen. Sehingga kami tetap sempat untuk mengatur kenaikan nilai bertahap," ujarnya.
Ia mengatakan, strategi penyesuaian nilai secara berjenjang menjadi salah satu langkah agar konsumen tidak kaget di tengah kondisi daya beli nan belum sepenuhnya pulih.
"Itu posisi para retailer, buyer-buyer kami. Kami melakukan negosiasi, namun memang kami mengerti bahwa bahan baku ini bakal meningkatkan nilai barang, dan kami memberikan kesempatan seperti nilai unik orderan pertama untuk konsumen tidak kaget. Itu nan sedang kami negosiasikan sih," jelas Budihardjo.
Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) sekarang kian tertekan nilai bahan baku akibat bentrok Timur Tengah nan mengerek nilai minyak bumi hingga sekitar US$110 per barel.
"Harga paraxylene nan merupakan bahan baku utama polyester saat ini sudah berada di level US$1.300 per ton alias naik sekitar 40% dari 2 minggu nan lalu. Kenaikan nilai ini belum sepenuhnya sampai ke industri hilir," katanya, Selasa (7/4/2026).
"Domino effect nan disebabkan kenaikan nilai bahan baku tekstil bakal berkapak secara berjenjang hingga 3 minggu ke depan. Dalam 1 minggu ke depan, kenaikan nilai ini bakal terdistribusi ke produsen kain dan 2 minggu berikutnya bakal terdistribusi ke sektor busana jadi," sambung Redma.
Tak berakhir di situ, lanjutnya, penyesuaian nilai bakal bersambung ke sektor ritel. Tak dapat dihindari, bakal terjadi kenaikan nilai peralatan jadi di ritel.
"Diperkirakan kenaikan di sektor ritel bakal berada di sekitar 10%," ucap dia.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·