Sebanyak 11 pasangan menikah dalam aktivitas Nikah Bareng Keren di Kantor Urusan Agama (KUA) Sewon, Bantul, Kamis (27/8). Setiap pasangan mendapat satu tangki air sebagai bagian dari mahar nan kemudian didonasikan untuk membantu penduduk terdampak kekeringan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Prosesi ijab kabul dilakukan secara bergantian di atas mobil tangki air di laman KUA Sewon. Konsep tersebut merupakan bagian dari tema “Water for Life: Satu Cinta, Satu Indonesia” nan digelar Forum Ta’aruf Indonesia (Fortais).
Ketua Fortais Indonesia Ryan Budi Nuryanto mengatakan konsep tersebut dibuat berbeda dari aktivitas nikah bareng sebelumnya. Selain memfasilitasi pernikahan, panitia memasukkan unsur sosial melalui mahar berupa air bersih.
“Karena tagline kali ini kepedulian terhadap musibah di NTT, Kalimantan, dan kekeringan, format nikah bareng kami buat tidak seperti biasanya. Panitia menyediakan mahar berupa seperangkat perangkat salat, cincin kawin, dan satu tangki air,” kata Ryan saat dihubungi Pandangan Jogja, Jumat (28/8).
Tangki air diberikan kepada pengantin laki-laki sebagai bagian dari mahar dalam prosesi akad. Setelah janji selesai, pengantin wanita mengikrarkan untuk menyedekahkan tangki tersebut melalui Palang Merah Indonesia (PMI) agar disalurkan kepada masyarakat nan memerlukan di wilayah kekeringan DIY.
“Setelah prosesi ijab kabul selesai, para pengantin wanita satu per satu mengikrarkan dan menyedekahkan satu tangki air itu kepada PMI untuk diberikan kepada masyarakat di wilayah kekeringan di DIY,” ujarnya.
Dari aktivitas tersebut, panitia mengumpulkan total sekitar 25 tangki air. Setiap tangki berkapasitas 5.000 liter sehingga total support mencapai 125 ribu liter air bersih. Sebanyak 10 tangki disalurkan ke Gunungkidul, sedangkan 15 tangki lainnya disalurkan di Kabupaten Bantul.
Selain support air bersih, aktivitas tersebut juga membuka bantuan bagi korban musibah di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kalimantan. Donasi dihimpun melalui PMI Bantul dengan sistem berbeda dari support air bersih.
“Untuk support musibah ke NTT dan Kalimantan, kontribusinya berupa bantuan melalui PMI Bantul. Para pengantin dan tamu undangan bisa langsung scan dan mentransfer donasi,” ujarnya.
Ryan mengatakan pengedaran air dilakukan setelah pengantin mengikrarkan bantuan dalam prosesi pernikahan.
“Siang hari setelah prosesi janji nikah selesai, langsung disalurkan. Kalau belum ada pengikraran dari pengantin, kami tidak berani menyalurkannya,” katanya.
Salah satu pasangan nan mengikuti prosesi tersebut adalah Agus Triansyah, 23, dan Ayuk Anita Sari, 27. Keduanya berjumpa melalui program Golek Garwo dan mendaftarkan diri ke KUA hanya tiga hari setelah mengikuti aktivitas tersebut.
“Alhamdulillah, kami senang bisa menikah di momentum Agustusan dan sekaligus mendonasikan satu tangki air bersih untuk wilayah kekeringan. Ini menjadi corak rasa syukur atas pernikahan kami dan semoga bisa membantu masyarakat nan sedang kesulitan air,” kata Agus.
Pasangan lainnya, Andreas Heriyanto, 44, dan Wiwit Murniati, 43, datang dari Bekasi, Jawa Barat. Keduanya mengaku kudu mempersiapkan sejumlah persyaratan pernikahan dalam waktu singkat sebelum mengikuti akad.
“Tidak terbayang bisa menikah seunik ini dan gratis. Kami sempat pontang-panting mengurus persyaratan selama seminggu, tetapi akhirnya alhamdulillah sah,” ujar Andreas.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·