1.476 Akademisi TEP Dibekali Kemampuan Narasi Digital Berbasis Empati

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta -

Kementerian Transmigrasi membekali 1.476 akademisi nan tergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 tentang pentingnya komunikasi publik berbasis empati. Pasalnya, penguatan area transmigrasi tidak hanya memerlukan pemetaan info teknis di lapangan, tetapi juga penyampaian narasi publik nan kuat dan menyentuh guna menggali potensi 53 area transmigrasi.

Sesi pembekalan komunikasi publik nan digelar di Jakarta Senin (29/7) ini menjadi krusial untuk menggeser paradigma komunikasi lama nan berkarakter satu arah menjadi hubungan nan setara dan inklusif. Lewat perspektif pandang praktisi lintas bidang, ialah wartawan Marissa Anita, content creator dr. Nadhira Afifa, serta pendiri Suara Berkelas Bilal Faranov, para peserta dibekali keahlian teknis dan etika dalam menyusun narasi digital nan jujur, berdampak, dan terpercaya.

Pemahaman komunikasi berbasis empati ini diharap berakibat langsung pada langkah peserta TEP 2026 berinteraksi dengan masyarakat lokal. Peserta diajak membangun kepercayaan (trust) dengan mengedepankan rasa hormat terhadap kearifan lokal melalui tutur kata nan santun, sehingga masyarakat menerima kehadiran TEP sebagai mitra tumbuh bersama, bukan sekadar penilai dari luar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada pembekalan ini juga disampaikan pentingnya penyampaian narasi nan tajam menggunakan pendekatan kalimat aktif serta info riil nan dikemas secara jujur (genuine). Dengan begitu, potensi wilayah dapat tersampaikan secara hidup tanpa kudu berjuntai pada produksi visual nan mewah.

"Tapi menurut saya nan paling pertama itu adalah bicaralah ke masyarakat setempat layaknya gimana kita mau diperlakukan. Jadi ketika bertanya ke mereka untuk menjawab rasa penasaran kita, baiknya lakukanlah dengan santun dan empatik," ujar Jurnalis Marissa Anita dalam keterangan tertulis, Minggu (9/8/2026).

Dalam sesi nan sama, dr. Nadhira Afifa menegaskan kepada peserta TEP 2026 konsistensi dan kebermanfaatan isi konten jauh lebih utama dibandingkan sekadar mengejar nomor penonton (views).

"Sebenarnya nan krusial adalah konsisten. Balik lagi, tujuan kontennya apa. Ketika tujuannya memang mau sharing info dan sesuatu nan genuine nan teman-teman percaya pasti ada value-nya untuk audience lampau rupanya viewers-nya dikit alias nggak ada nan komen, jangan patah semangat alias berakhir dulu," ujar content creator dr. Nadhira Afifa.

Melalui pembekalan ini, Tim Ekspedisi Patriot 2026 diharapkan bisa mengolah realitas lapangan menjadi narasi digital nan menginspirasi publik luas. Dampak akhirnya, kisah-kisah berbasis empati ini dapat memicu perhatian publik sekaligus menghasilkan rekomendasi strategis guna mempercepat transformasi area transmigrasi.

(akd/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News