Trump Tuding Iran Kolaps Secara Finansial

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato nan disiarkan televisi mengenai bentrok Timur Tengah dari Cross Hall, White House (1/4/2026). Foto: Alex Brandon / POOL / AFP

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu (22/4) menyatakan Iran mengalami "kolaps finansial" setelah sebelumnya dia menyatakan Selat Hormuz diblokade total oleh militer AS.

Pernyataan terbaru ini mempertegas eskalasi ketegangan di tengah perpanjangan gencatan senjata nan diumumkan Trump pada Selasa (21/4) malam.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut tekanan ekonomi sekarang menghantam langsung Iran hingga membikin negara itu kehilangan pemasukan besar setiap hari mencapai USD 500 juta alias setara Rp 8,5 triliun.

"Iran sedang kolaps secara finansial! Mereka mau Selat Hormuz segera dibuka-kehausan uang! Kehilangan 500 juta dolar per hari," tulis Trump.

Ia apalagi menyatakan kondisi internal Iran mulai terguncang akibat krisis tersebut.

"Militer dan polisi mengeluh lantaran tidak dibayar. SOS!!!" lanjutnya.

Postingan Truth Donald Trump mengenai Iran sedang mengalami krisis keuangan. Foto: Truth/ Donald Trump

Tiga jam sebelumnya, lewat platform nan sama, Trump juga menyatakan Selat Hormuz telah "diblokade total" oleh AS setelah negosiasi tenteram kandas mencapai kesepakatan.

"Iran tidak mau Selat Hormuz ditutup, mereka mau tetap terbuka agar bisa menghasilkan 500 juta dolar per hari," tulisnya.

Ia menilai sikap Iran nan terkesan mendukung penutupan hanyalah upaya menjaga gambaran di tengah tekanan.

"Mereka hanya mau ‘menjaga muka’ lantaran saya sudah memblokadenya sepenuhnya," ujarnya.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sempat membalas dengan nada keras dan menilai langkah AS sebagai pelanggaran serius.

"Memblokade pelabuhan Iran adalah tindakan perang dan merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata," tulis Araghchi di X.

X post embed

Ia juga menyoroti kejadian terhadap kapal jual beli Touska nan disitas militer AS sebagai eskalasi nan lebih berbahaya.

"Menyerang kapal komersial dan menahan awaknya adalah pelanggaran nan lebih besar," lanjutnya.

Sebelumnya, Iran memilih tak bersuara atas perpanjangan gencatan senjata nan diumumkan Washington dan disebut tengah mengambil langkah hati-hati sembari menunggu kepastian arah negosiasi.

Situasi di Selat Hormuz, jalur vital daya dunia, tetap belum stabil, dengan lampau lintas kapal nan tetap terganggu dan ketegangan berpotensi meningkat sewaktu-waktu.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan