Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.(Antara)
MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah saat ini menjalankan strategi ekonomi dalam “mode bertahan (survival mode) di tengah ketidakpastian global. Dalam kondisi tersebut, seluruh sumber daya negara bakal dioptimalkan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap melangkah maksimal, tidak lagi dengan pendekatan standar alias business as usual
“Saya mau jelaskan, di kepala Presiden, kita sekarang berada dalam kondisi survival, jadi bukan business as usual," ujarnya dalam Simposium PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) berjudul Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi melalui Pembangunan Infrastruktur di Jakarta, Rabu (22/4).
Menurut Purbaya, pemerintah juga melakukan pembenahan menyeluruh dalam tata kelola, termasuk memastikan pengelolaan sumber daya alam memberikan imbal hasil optimal bagi negara. Langkah ini menjadi kesungguhan pemerintah agar potensi besar nan dimiliki Indonesia tidak terbuang sia-sia tanpa faedah maksimal bagi perekonomian nasional.
"Saya tekankan di sini, kita dalam mode survival. Semua kudu dijalankan semaksimal mungkin. Tidak ada lagi main-main," tegasnya.
Ia menjelaskan, arah kebijakan Presiden mencakup sejumlah program prioritas, terutama pembangunan infrastruktur, penguatan ketahanan energi, dan pengembangan ekonomi daerah. Selain itu, pemerintah juga mendorong realokasi anggaran serta industrial upgrading guna meningkatkan nilai tambah industri, termasuk melalui pengembangan sektor kimia dan hilirisasi berbasis ekspor.
Dalam konteks ketahanan energi, pemerintah berupaya memperluas sumber pasokan agar tidak berjuntai pada satu alias dua titik saja. Diversifikasi ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah akibat gangguan global.
“Kalau ini semua jalan, investasi masuk, lapangan kerja juga bakal terbuka,” kata bendaharawan negara.
Dari sisi fundamental, dia menilai ekonomi Indonesia tetap cukup kuat. Stabilitas fiskal, kredibilitas kebijakan, serta besarnya kontribusi permintaan domestik menjadi penopang utama.
Ia menuturkan sekitar 90% perekonomian nasional digerakkan oleh konsumsi dalam negeri, sehingga menjaga daya beli masyarakat menjadi kunci. Ia mencontohkan pada krisis dunia 2009, Indonesia tetap bisa tumbuh 4,6 persen saat banyak negara terkontraksi.
“Jadi, Indonesia sebetulnya jago. Cuma, kurang berani mengakui kejagoannya,” ujarnya.
Purbaya optimistis, dengan kebijakan nan tepat dan konsisten, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat melampaui 5%. Ia menilai capaian pertumbuhan sebelumnya nan sempat mencapai 5,39% serta defisit fiskal nan terjaga di kisaran 2,8% menunjukkan ruang perbaikan tetap terbuka.
Di tengah kondisi dunia nan tetap dibayangi bentrok geopolitik, fragmentasi rantai pasok, dan suku kembang tinggi dalam waktu lama (higher for longer), Indonesia dinilai tetap mempunyai prospek positif.
Ia menambahkan, dengan inflasi nan tetap terkendali dan defisit APBN dijaga sekitar 3% terhadap PDB, fondasi ekonomi nasional tetap solid. Dengan upaya percepatan reformasi dan penguatan sektor produktif, pertumbuhan apalagi berpotensi didorong menuju level nan lebih tinggi.
“Jadi, ke depan harusnya (ekonomi) kita bisa tumbuh lebih tinggi dari 5%,” pungkasnya. (Ins)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·