Jakarta, CNBC Indonesia - Tingkat persetujuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merosot ke titik terendah pada masa kedudukan keduanya. Penurunan ini dipicu meningkatnya kekecewaan publik terhadap kondisi ekonomi dan penanganan bentrok dengan Iran.
Berdasarkan jajak pendapat terbaru NBC News Decision Desk nan didukung SurveyMonkey, secara keseluruhan, hanya 37% penduduk Amerika nan menyatakan puas terhadap keahlian Trump, sementara 63% tidak setuju, termasuk 50% nan menyatakan sangat tidak setuju. Angka ini menjadi level terendah sepanjang periode kedua kepemimpinannya.
"Dua pertiga penduduk Amerika tidak menyetujui penanganan inflasi oleh presiden," demikian hasil survei tersebut, dikutip Selasa (21/4/2026). Selain itu, kebanyakan responden juga menolak pendekatan Trump terhadap bentrok Iran.
Dukungan dari pedoman Partai Republik pun mulai menunjukkan retakan. Meski tetap relatif tinggi, tingkat persetujuan di kalangan Republikan turun menjadi 83%, alias melemah 4 poin dibanding awal tahun. Bahkan, tingkat persetujuan nan sangat kuat dari golongan ini turun dari 58% menjadi 52%.
Survei juga menunjukkan sentimen pesimistis nan meningkat. Hanya sepertiga penduduk Amerika nan menilai negara berada di jalur nan benar, sementara dua pertiga lainnya menilai sebaliknya, menjadi pandangan paling suram sejak Trump kembali menjabat.
Ekonomi Jadi Biang Utama
Isu ekonomi menjadi perhatian utama penduduk Amerika. Sebanyak 29% responden menyebut ekonomi sebagai rumor paling krusial saat ini, diikuti ancaman terhadap kerakyatan (24%), jasa kesehatan (12%), serta kejahatan dan keamanan (10%).
Dari beragam rumor ekonomi, inflasi dan kenaikan biaya hidup menjadi keluhan terbesar, dipilih oleh 45% responden. Hanya 32% penduduk nan menyetujui penanganan inflasi oleh Trump, sementara 68% tidak setuju.
Mayoritas apalagi menyatakan ketidakpuasan kuat. Sebanyak 52% responden mengatakan sangat tidak setuju terhadap kebijakan Trump dalam mengatasi kenaikan harga.
"Persentase penduduk nan sangat tidak setuju meningkat signifikan dibandingkan musim panas lalu," tulis laporan survei tersebut.
Dampaknya terasa langsung ke kondisi finansial masyarakat. Sekitar 40% penduduk Amerika mengaku kondisi finansial mereka lebih jelek dibandingkan setahun lalu, sementara hanya 19% nan merasa lebih baik.
Kenaikan nilai daya turut memperparah tekanan. Hampir dua pertiga responden menyebut nilai bensin sebagai masalah bagi family mereka, dengan 29% menganggapnya sebagai masalah serius.
Penolakan Terhadap Perang Iran
Ketidakpuasan juga terlihat dalam kebijakan luar negeri. Sekitar dua pertiga penduduk Amerika tidak menyetujui penanganan Trump terhadap bentrok dengan Iran, sementara hanya sepertiga nan mendukung.
Pandangan ini tidak banyak berubah apalagi setelah Trump mengumumkan gencatan senjata sementara pada 7 April. Dukungan terhadap kebijakan perang tetap stagnan di kisaran sepertiga populasi.
Mayoritas penduduk juga menolak eskalasi militer lebih lanjut. Sebanyak 61% responden menilai AS semestinya tidak mengambil tindakan militer tambahan di Iran.
Penolakan lebih kuat datang dari generasi muda. Sebanyak 74% penduduk berumur di bawah 30 tahun menolak kelanjutan tindakan militer.
Imigrasi Menjadi Sedikit Terang
Di tengah tekanan, Trump tetap mendapat sedikit angin segar dari rumor imigrasi. Tingkat persetujuan terhadap kebijakan perbatasan dan imigrasi naik menjadi 44%, meningkat 4 poin dibanding awal tahun.
Namun demikian, kebanyakan publik (56%) tetap menyatakan tidak puas.
Sementara itu, upaya reformasi patokan pemilu juga mendapat support luas. Sekitar 75% penduduk Amerika mendukung tanggungjawab menunjukkan identitas berpotret untuk memilih, dan 61% di antaranya mau syarat tersebut mencakup bukti kewarganegaraan.
Hasil jajak pendapat ini menyoroti tantangan besar nan dihadapi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu. Kekecewaan terhadap ekonomi dan kebijakan luar negeri menjadi aspek utama nan berpotensi menggerus support pemilih, meskipun Trump sebelumnya berjanji bakal menekan inflasi dan menghindari keterlibatan dalam bentrok global.
(tfa/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·