Dari masa ke masa, rumor pelecehan seksual tetap menjadi trending topic nan tidak pernah lenyap di publik. Di beragam tempat umum seperti di jalanan, perusahaan, kantor, rumah sakit, apalagi sampai di lingkup kepolisian serta pendidikan pun sudah biasa menjadi area nyaman untuk melakukan tindakan biadab tersebut. Seakan-akan tubuh wanita diciptakan untuk menjadi objek permainan. Sepanjang sejarah manusia, laki-laki telah konsistensi mengendalikan perempuan. Syekh Muhammad Rasyid Ridha menyatakan bahwa sebelum Islam hadir, wanita selalu dilecehkan, direndahkan, dihina, dan diperbudak. Dan perihal ini terjadi pada setiap negara di dunia.
Kita flashback sejenak pada fase jahiliyah, khususnya di jazirah Arab. Pada masa pra-Islam, kaum wanita seperti tidak ada harganya. Mereka dijadikan sebagai perangkat pemuas syahwat, diperlakukan secara otoriter, apalagi bayi wanita nan baru lahir usianya tidak bakal mencapai satu hari. Para laki-laki memperlakukan wanita seumpama boneka lantaran mereka berpegang teguh terhadap norma-norma sosial patriarki.
Sebagai manusia nan berakal sehat, kita tumbuh dengan nasihat nan sama, ialah wanita wajib menjaga diri. Menjaga langkah menutup aurat, menjaga langkah berbicara, dan menjaga akhlak. Namun, di saat nan sama pula kita tidak sering mendengar nasihat nan setara ditujukan kepada laki-laki, ialah tentang menjaga niat, menjaga pandangan, dan menghormati pemisah tubuh orang lain. Kemudian, ketika penyimpangan seksual terjadi, arah pertanyaan kita pada akhirnya selalu merujuk kepada perempuan. Padahal sebenarnya, sejak awal kita lengah untuk kembali mengonstruksi sesuatu nan jauh lebih mendasar, ialah langkah manusia memandang dirinya di hadapan Tuhan.
Akidah dan Tauhid sebagai Edukasi Seksual
Sebagai makhluk nan dibekali logika pikiran dan nurani, manusia diamanahi untuk menjaga martabatnya. Guna mempertahankan nilai martabatnya nan sungguh mulia, Islam memberi beragam macam pedoman mengenai edukasi seksual. Dalam Al-Quran dan khususnya di dalam sabda serta kitab-kitab fikih, kita dapat menjumpai penjelasan tentang aturan-aturan kehidupan seksual bagi orang nan sudah baligh hingga usia tamyiz, alias usia mendekati baligh, antara usia 7–12 tahun.
Edukasi seksual semestinya sudah diajarkan sejak fase kanak-kanak pada usia tamyiz. Memang persoalan tersebut dianggap sesuatu nan tabu bagi masyarakat awam. Akan tetapi, Islam justru menganjurkan orang tua dan pembimbing untuk mengajarkan edukasi seksual kepada anak-anak jenjang sekolah dasar. Apabila edukasi seksual tidak disampaikan sejak dini, hasilnya kelak di usia SMP dan SMA mereka belum begitu mengerti mengenai batasan-batasan pergaulan dengan sesama jenis maupun musuh jenis.
Kemudian, nan menjadi persoalan juga adalah poin-poin nan diajarkan dalam pendidikan seksual hanya berkutat pada lingkup pengetahuan biologi dan sosial. Padahal poin prioritas nan wajib disampaikan adalah soal akidah, tauhid, dan akhlak. Ketika kita dihadapkan dengan pertanyaan klise seperti "Kenapa kasus penyimpangan seksual di akhir era ini semakin marak terjadi?" Lebih mirisnya lagi, penyimpangan tersebut menyusup di setiap diri seseorang, tidak mengenal usia.
Ada satu perihal krusial nan bisa menjawab pertanyaan tersebut. Jika kita mencermati situasi dari tahun ke tahun, akar masalahnya saat ini bukan sekadar pada dimensi sosial semata, melainkan juga pada dimensi spiritual nan tidak ditanamkan pada anak-anak. Seorang anak nan tumbuh dengan iktikad dan tauhid nan murni bakal menghasilkan akhlakul karimah.
Mereka tidak bakal bertanya "Apakah perbuatan ini boleh dilakukan alias tidak?", tetapi bertanya "Apakah perbuatan ini dilihat oleh Allah?" Sebab iktikad tidak sekadar kepercayaan di dalam hati. Ia kudu dibenarkan lampau diucapkan secara lisan dan diamalkan dalam corak perbuatan. Jika sudah begitu, jiwa seseorang bakal menjadi sangat mantap terhadap keimanan, sehingga tidak mudah goyah oleh keraguan ataupun prasangka buruk.
Apabila iktikad sudah lurus, dia bakal melahirkan bibit kepercayaan bahwa Allah itu bukan sekadar satu, tetapi Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui isi hati. Maka dari itu, gerak-gerik seseorang sekecil apa pun dan dikerjakan di mana pun, semuanya bakal dipertanggungjawabkan dan ada balasannya. Sebagian orang selama ini mendidik wanita agar senantiasa memelihara perhiasan tubuhnya dari dunia. Namun, di sisi lain, mereka lupa bahwa moral laki-laki jarang betul-betul dibangun dari akarnya.
Boleh jadi banyak orang nan luput bahwa Islam memerintahkan kaum laki-laki nan beragama untuk lebih dulu menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan untuk melindungi kesucian diri. Perintah ini sejalan dengan firman Allah Swt. nan berbunyi:
قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ ٣٠
Artinya: “Katakanlah kepada laki-laki nan beriman, hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa nan mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30)
Frasa ghaddul bashar tidak berfaedah memandang wanita sembari menundukkan kepala ke bawah, melainkan tidak memandang dengan syahwat. Dari dulu kita sibuk melindungi tubuh perempuan, tetapi tidak sadar bahwa terdapat perkara nan lebih serius lagi, ialah menjaga langkah pandang laki-laki. Tanggung jawab moral tidak hanya dibebankan kepada satu pihak. Orang tua, guru, serta lingkungan sekitar kudu turut bekerja-sama untuk membimbing anak laki-laki dan wanita agar saling memelihara akidah, menjaga langkah pandang dan berbicara, serta menutup aurat.
Karena ironisnya, aurat sudah dijaga, tetapi iktikad dibiarkan dangkal. Alhasil, bakal menumbuhkan perspektif nan keliru dan adab nan menyeleweng dari koridor syariat. Sebagaimana beragam jenis kasus pelecehan seksual baik bentuk maupun verbal di seluruh seantero dunia. Apalagi di era serba digital ini, tindakan pelanggaran norma tersebut dapat dilakukan dengan mudah di media sosial tanpa perlu menyembunyikan diri.
Sejatinya, semua orang tua dan pembimbing di sekolah tidak bermaksud salah, hanya mau nan terbaik bagi anak-anak. Mungkin wawasan pengetahuan iktikad dan tauhid dari para orang tua, guru, dan apalagi kita sendiri nan tetap minimalis. Oleh lantaran itu, kita semua perlu menambah asupan pengetahuan mengenai dengan kajian pengetahuan pendidikan kepercayaan walaupun usia terus menua. Sebab andaikan kita memutuskan untuk berakhir belajar, kepada siapakah anak-anak generasi di masa depan bakal memetik nilai-nilai teladan kehidupan? Seperti pada aspek kehidupan hablumminannas, alias bersosialisasi dengan orang nan lebih tua, lebih muda, dan dengan musuh jenis.
Dengan demikian, dapat diambil benang merah bahwa pola asuh nan sepantasnya kita ajarkan dalam edukasi seksual bukan hanya gimana langkah memandang dan berpakaian, tetapi gimana agar anak selalu merasa disaksikan Allah Swt. di setiap tingkah laku nan dia kerjakan. Tatkala iktikad dan tauhid betul-betul menyala di hati, otomatis baik-buruknya adab bakal tampak sesuai besarnya kapabilitas keagamaan hamba kepada Allah Swt. Dan akhirnya manusia tidak butuh diawasi untuk selalu istiqamah melakukan benar.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·