Dalam banyak hubungan, seperti pertemanan, keluarga, hingga hubungan romantis, wanita sering kali diasosiasikan sebagai sosok nan lebih pengertian, sabar, dan rela mengalah.
Di satu sisi, perihal ini terlihat sebagai kekuatan emosional yang membikin hubungan terasa hangat. Tapi di sisi lain, tanpa disadari, kebiasaan ini juga bisa mengarah pada pola people-pleasing, ialah selalu menempatkan orang lain di atas diri sendiri.
Fenomena ini rupanya bukan sekadar asumsi, Ladies. Studi dunia nan dipublikasikan dalam jurnal Personality and Individual Differences pada 2023 menunjukkan bahwa wanita condong mempunyai tingkat agreeableness dan empati nan lebih tinggi dibanding laki-laki. Karakter ini membikin wanita lebih peka terhadap kebutuhan orang lain, sekaligus lebih terdorong untuk menjaga hubungan tetap harmonis.
Dalam keseharian, people-pleasing bisa muncul dalam corak nan terlihat sederhana. Misalnya, susah mengatakan “tidak”, memilih tak bersuara saat tidak setuju, alias merasa bertanggung jawab atas emosi orang lain. Hal-hal ini sering dianggap sebagai corak kepedulian, padahal jika terjadi terus-menerus, bisa membikin seseorang kehilangan ruang untuk dirinya sendiri.
Menurut Natalie Lue, master hubungan asal Inggris, people-pleasing terjadi ketika seseorang menekan kebutuhan dan perasaannya sendiri demi mendapatkan penerimaan alias menghindari konflik.
“Kita menekan kebutuhan dan emosi diri sendiri untuk menempatkan orang lain di atas kita, agar mendapat penerimaan alias menghindari konflik,” jelasnya. Pola ini sering kali terbentuk secara perlahan, apalagi tanpa disadari.
Jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa berakibat pada kesehatan mental. Rasa lelah, tertekan, hingga kehilangan batas diri menjadi perihal nan cukup umum dialami oleh people pleaser.
Mereka condong terus memberi, apalagi ketika tidak mendapatkan timbal kembali nan setara. Dalam jangka panjang, perihal ini bisa memengaruhi langkah seseorang memandang dirinya sendiri dan hubungan nan dijalani.
Namun, krusial untuk dipahami bahwa menjadi pribadi nan peduli bukanlah sesuatu nan salah. Empati nan tinggi, keahlian membaca situasi sosial, serta kemauan untuk menjaga hubungan tetap baik adalah kualitas nan berharga. Banyak hubungan nan justru terasa lebih hangat lantaran adanya sifat-sifat ini.
Jadi, people-pleasing tidak selalu kudu dihilangkan, tapi perlu dikelola dengan lebih sehat. Belajar mengenali kebutuhan diri sendiri, berani menetapkan batasan, dan memahami bahwa tidak semua perihal adalah tanggung jawab kita bisa menjadi langkah awal. Dengan begitu, Anda tetap bisa menjadi pribadi nan hangat tanpa kudu kehilangan diri sendiri.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·