Coba Anda ingat-ingat kembali, Apa dari sekolah nan paling membekas hingga saat ini?
Rumus-rumus matematika alias fisika nan dulu dihafalkan mati-matian? Pola kalimat bahasa nan sekarang nyaris terlupa? nama dan tanggal sejarah bangsa nan hanya muncul saat ujian??
Atau saat seorang kawan bilang, "Kamu pintar, jangan pernah berakhir bertanya". Atau sebaliknya: saat kawan lain mengejek kita lantaran bertanya. Pernahkan kalian tau bahwa dari situlah sebenarnya sekolah dimulai.
Bukan dari gedung, kurikulum, alias ujian. Tapi dari satu pertanyaan mendasar: apakah sekolah membikin kita merdeka alias justru membikin kita semakin alim tanpa berpikir?
Sebuah berita bohong bisa viral dalam hitungan jam. Tapi untuk klarifikasinya butuh tiga hari dan dibaca hanya oleh segelintir orang. Ini bukan lantaran kita bodoh. Ini lantaran kita malas berfikir. Cek kebenaran itu melelahkan. Share lebih mudah. Dan sekolah nan semestinya melatih otot berpikir kita, seringkali hanya melatih otot menghafal.
Coba renungkan,
Berapa banyak buletin nan Anda baca hari ini nan betul-betul Anda cek sumbernya? Atau Anda langsung percaya lantaran judulnya menarik? Kebiasaan menerima mentah-mentah ini dibentuk oleh sistem pendidikan nan terlalu lama menghargai jawaban betul daripada pertanyaan kritis. Di sekolah, anak nan bertanya "mengapa" terlalu sering justru dianggap mengganggu. Sedangkan anak nan hanya mendengar dan mencatat dianggap pintar. Maka tumbuhlah generasi nan alim mendengar, tapi lumpuh bertanya.
Otak kita memang dirancang irit energi. Tapi sekolah semestinya melatih otak untuk tidak selalu mengambil jalan pintas. Sayangnya, sistem ujian nan padat dan sasaran kurikulum nan kejar tayang membikin siswa tidak punya waktu untuk merenung. Mereka dilatih untuk sigap menjawab, bukan untuk teliti memeriksa.
Anak usia empat tahun bisa bertanya "mengapa" puluhan kali dalam sehari. Tapi anak usia lima belas tahun tidak banyak bertanya. Bukan lantaran pertanyaannya habis, tapi lantaran mereka belajar bahwa bertanya tidak menghasilkan nilai bagus. Padahal, rasa mau tahu adalah mesin utama kemajuan manusia. Ketika mesin itu mati, nan tersisa hanyalah robot-robot penghafal.
Lihatlah komentar di medsos. Jarang ada debat nan sehat. nan ada hanyalah saling ejek, hujat, dan klaim paling benar. Kita tidak terbiasa menyusun argumen dengan data. Kita tidak diajari langkah berbeda pendapat tanpa membenci. Padahal, di Akademia Plato dulu, debat adalah makanan sehari-hari. Berbeda pendapat itu wajar. nan tidak wajar adalah tidak mau mendengar.
Ini nan paling menyakitkan. Setiap lima tahun kita kecewa. Tapi setiap lima tahun pula kita memilih lagi orang nan sama alias jenis nan sama. Mengapa? Karena kita tidak punya perangkat untuk menilai kualitas calon pemimpin. Kita hanya punya sentimen: suku, agama, popularitas, alias janji manis. Padahal Plato sudah mengingatkan 2.400 tahun lampau bahwa pemimpin nan tidak berfilsafat (tidak suka belajar) hanya bakal menjadi tiran.
Jadi jangan salahkan hoaks, jangan salahkan politikus, jangan salahkan medsos. Salahkan pendidikan kita nan kandas membentuk manusia nan merdeka pikirannya.
Tahun 399 Sebelum Masehi, Athena sedang panas. Socrates, filsuf tua nan suka bertanya di pasar-pasar, diadili. Anda tahu kesalahannya? Dia dituduh merusak pemuda dengan pertanyaan-pertanyaan kritisnya. Plato, siswa kesayangan Socrates, menyaksikan gurunya meminum racun. Hatinya hancur sekaligus marah.
Saat itu dirinya yakin, bahwa negara nan baik tidak bakal membunuh orang bijak. Jadi dengan kekecewaan terhadap negaranya dia meninggalkan Athena. Ia berkelana 12 tahun, belajar ke beragam negara. Namun kemudian dia membikin sebuah keputusan nan dianggap gila pada zamannya, dia kembali ke negaranya dan mendirikan sekolah. Ia menamainya AKADEMIA tempat di rimba keramat dewi kebijaksanaan, Athena.
Di akademia tidak ada ujian, tidak ada ranking, ang ada hanyalah diskusi, jalan santuy sembari berdebat, dan belajar matematika (bukan agar pandai berhitung, tapi agar terbiasa dengan logika). Tujuan akademia satu, ialah mencetak "raja filsuf" pemimpin nan lebih cinta kebenaran daripada kekuasaan. Setidaknya, mencetak penduduk negara nan tidak bisa dibohongi oleh siapa pun.
Indonesia butuh Akademianya sendiri. Bukan Akademia dalam corak gedung. Tapi dalam semangat: ruang di mana orang tidak takut bertanya, tidak puas dengan omongan, dan haus bakal kebenaran. Sekolah mengajarkan logika, bukan hafalan. Matematika di Akademia bukan untuk jadi tukang hitung. Matematika adalah latihan berpikir runtut. Begitu pula pelajaran lain, sejarah bukan mahfuz tahun, tapi latihan memahami sebab-akibat. Bahasa Indonesia bukan mahfuz puisi, tapi latihan menyusun argumen. Jika sekolah hanya mengajarkan hafalan, kita hanya mencetak mesin rekam, bukan manusia merdeka.
Di Akademia, Plato dan murid-muridnya sering berdiskusi: apa itu keadilan? Apa itu keberanian? Apa itu persahabatan? Diskusi ini krusial lantaran kehidupan bermasyarakat selalu penuh dengan dilema moral. Di Indonesia, pelajaran kebangsaan seringkali hanya mahfuz pasal undang-undang. Padahal nan dibutuhkan adalah keahlian berpikir: jika jadi pemimpin, apa nan bakal saya lakukan? Jika ada ketidakadilan, gimana saya bersikap? Sekolah kudu menjadi tempat anak-anak belajar menjadi manusia nan berperilaku baik, bukan sekadar manusia nan tahu aturan.
Sekolah kudu menyenangkan. Banyak siswa sekarang merasa malas masuk sekolah lantaran jenuh. Plato dan murid-muridnya belajar sembari melangkah di hutan. Mereka duduk di bawah pohon, berbincang santai. Tidak ada papan tulis, tidak ada bel, tidak ada seragam kaku. Sekolah tidak kudu selalu tegang. Anak-anak tidak bakal tidak suka sekolah jika sekolah bisa menjadi ruang nan kondusif untuk bertanya, berdebat, dan apalagi membikin kesalahan. Kesalahan adalah bagian dari belajar. Di sekolah kita sekarang, kesalahan malah dihukum dengan nilai merah.
Saya tahu apa nan mungkin Anda pikirkan. Zaman sekarang belajar bisa dari mana saja. Internet ada. YouTube ada. ChatGPT bisa menjawab segalanya. Buat apa repot-repot sekolah? Itu benar. Informasi memang melimpah. Tapi ada nan tidak bisa diberikan oleh YouTube.
Guru nan bisa menuntun, bukan sekadar memberi tahu. Guru nan bisa membaca ekspresi kita, tahu kapan kita bingung, dan bisa menjelaskan dengan langkah nan berbeda sampai kita mengerti. Teman nan bisa diajak diskusi, berdebat sehat, saling mengoreksi, dan bersama-sama mencari jawaban. Belajar sendirian di depan layar tidak pernah bisa menggantikan kegembiraan saat sebuah buahpikiran baru lahir dari perdebatan seru.
Disiplin untuk terus belajar meski sedang malas. Sekolah memberikan struktur. Jadwal, tenggat, dan tanggung jawab kepada kawan sekelompok semua itu melatih kita untuk tidak menunda-nunda. Belajar dari rumah butuh kemandirian super, dan tidak semua orang memilikinya.
Plato tahu ini. Akademia bukan hanya tentang akses ke pengetahuan. Tapi tentang komunitas. Manusia belajar lebih baik ketika dia tidak sendirian. Sekolah adalah argumen kita berkumpul, berganti pikiran, dan saling mengingatkan. Jadi jangan tinggalkan sekolah hanya lantaran ada internet. Justru gunakan sekolah untuk belajar menyeleksi info nan melimpah itu. Gunakan sekolah untuk bertanya, Ini hoaks alias fakta? Gunakan sekolah untuk belajar membedakan argumen nan logis bukan sekadar omongan bombastis.
Plato meninggal pada tahun 347 SM. Akademia nan dia dirikan memperkuat nyaris 900 tahun apalagi setelah dia tiada. Mengapa? Karena buahpikiran bahwa manusia perlu belajar untuk merdeka tidak pernah mati. Sekarang, mari kita renungkan sejenak. Apa artinya merdeka?Apakah merdeka bebas dari penjajah? Itu sudah kita raih tahun 1945. Tapi apakah kita sudah betul-betul merdeka?
Coba jawab jujur:
Merdekakah kita jika setiap pagi kita diserbu buletin bohong, framing, propaganda dan kita dengan mudah mempercayainya?
Merdekakah kita jika kita memilih pemimpin hanya lantaran dia pandai bicara, tanpa mengecek rekam jejaknya?
Merdekakah kita jika kita tidak berani berbeda pendapat dengan kawan sendiri lantaran takut di-bully?
Merdekakah kita jika kita hanya menjadi penonton pasif atas ketidakadilan di sekitar kita?
Kemerdekaan tanpa kemerdekaan berpikir hanyalah kemerdekaan setengah-setengah. Badan boleh bebas, tapi pikiran dalam penjara. Dan penjara paling sadis adalah penjara nan tidak terlihat ketika kita tidak menyadari bahwa kita tidak bebas berpikir. Sekolah, sekolah nan benar, adalah kuncinya.
Memang betul sekolah bukan agunan Anda bakal kaya. Sekolah bukan agunan Anda bakal sukses. Tapi sekolah adalah agunan bahwa Anda tidak bakal mudah DIPERMAINKAN oleh siapa pun.
Karena orang nan terbiasa berpikir kritis tidak mudah diombang-ambingkan janji manis.
Karena orang nan terbiasa bertanya tidak mudah percaya pada hoaks.
Karena orang nan terbiasa berdebat secara sehat tidak bakal membenci hanya lantaran berbeda pendapat.
Maka, jika Anda tetap bersekolah, berterimakasihlah. Dan jangan sia-siakan satu hari pun. Setiap kali pembimbing menjelaskan, tanyakan, Mengapa? Setiap kali membaca buku, pikirkan, Apakah ini benar? Setiap kali memandang ketidakadilan, bersuaralah.
Jika Anda sudah tidak bersekolah, jangan berakhir belajar. Plato tidak pernah berakhir belajar hingga akhir hayatnya. Bacalah buku. Ikuti diskusi. Dengarkan perspektif pandang nan berbeda dengan Anda. Berdebatlah dengan sopan. Jangan biarkan otot berpikir Anda berkarat.
Akademia itu bukan gedung. Akademia adalah semangat. Dan semangat itu bisa hidup di mana saja di ruang kelas, di perpustakaan desa, di warung kopi sembari baca buku, apalagi di kepala Anda saat ini, ketika Anda memilih untuk membaca tulisan ini sampai selesai. Sekolah, dalam makna nan sesungguhnya, tidak pernah usai.
Selamat merdeka.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·