Pesta Media 2026 Bahas Strategi Liputan Lingkungan agar Lebih Berdampak

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Pesta Media 2026 membahas strategi liputan rumor lingkungan agar lebih berakibat di tengah kompleksitas krisis iklim. Foto: Dok. Pesta Media 2026

Pembahasan mengenai strategi liputan rumor lingkungan agar lebih berakibat di tengah kompleksitas krisis suasana dan tantangan pembangunan berkepanjangan menjadi salah satu rumor nan dibahas dalam Pesta Media 2026 nan diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.

Isu tersebut dibahas dalam obrolan “Dari Pemberitaan ke Aksi Nyata: Bagaimana Membuat Liputan Lingkungan Lebih Berdampak” nan digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (12/4), dengan support Institute for Essential Services Reform (IESR).

Peneliti Remotivi, Muhamad Heychael, menyebut pendekatan liputan nan terlalu teknis dan berfokus pada info ilmiah membikin rumor suasana terasa jauh dari publik.

“Liputan lingkungan perlu lebih human-centric, agar akibat strukturalnya bisa dirasakan dan dipahami publik,” Muhamad Heychael.

Peneliti Remotivi, Muhamad Heychael (tengah). Foto: Dok. Pesta Media 2026

Ia menjelaskan, salah satu strategi nan perlu diterapkan adalah mengedepankan perspektif angan dibanding ketakutan. “Kalau orang hanya dihadapkan pada ketakutan tanpa solusi, mereka condong apatis. Sebaliknya, angan membikin orang merasa bisa melakukan sesuatu,” kata dia.

Selain itu, media perlu membangun jejaring dengan organisasi dan organisasi masyarakat sipil agar rumor tidak berakhir di pemberitaan, tetapi bersambung menjadi gerakan. Komunikasi berbasis nilai seperti keluarga, nasionalisme, dan keadilan juga dinilai lebih efektif menjangkau publik.

Perwakilan Pulitzer Center, Intan Febriani, menambahkan bahwa liputan lingkungan nan berakibat adalah nan mempunyai “umur panjang” dan terus hidup di ruang publik melalui beragam bentuk.

Ia menekankan pentingnya kerjasama lintas sektor, mulai dari jurnalis, akademisi, hingga masyarakat sipil, untuk memperluas jangkauan dan akibat liputan.

Namun, dia mengingatkan bahwa akibat tidak selalu berfaedah perubahan kebijakan dalam waktu singkat. “Pada akhirnya, angan kita memang perubahan kebijakan. Tapi itu proses panjang nan memerlukan kerjasama banyak pihak,” ujarnya.

Sekretaris Utama Kementerian Lingkungan Hidup, Rosa Vivien. Foto: Dok. Pesta Media 2026

Dari sisi pemerintah, Sekretaris Utama Kementerian Lingkungan Hidup, Rosa Vivien, menyebut liputan media membantu negara menelusuri persoalan di lapangan.

“Liputan media sangat membantu kami menelusuri apa nan terjadi di masyarakat. Jumlah petugas kami terbatas, sekitar 2.500 orang untuk seluruh Indonesia,” kata Vivien.

Diskusi juga menyinggung kondisi di Bali nan menghadapi tekanan lingkungan di tengah pertumbuhan pariwisata. Pada 2025, timbulan sampah mencapai 3,4 ribu ton per hari, namun baru sekitar 29 persen nan sukses dikelola.

Kepala BRIDA Bali, Ketut Wica. Foto: Dok. Pesta Media 2026

Kepala BRIDA Bali, Ketut Wica, menegaskan pembangunan kudu dilihat sebagai sistem nan saling terhubung antar sektor. “Ini menunjukkan bahwa agenda rendah karbon di Bali dibangun melalui fondasi kebijakan nan lebih sistematis,” tegasnya.

Ia menambahkan, salah satu inisiatif nan didorong adalah pengembangan transisi daya di Nusa Penida sebagai model percontohan sistem daya bersih berbasis tenaga surya nan didukung persediaan diesel dan penyimpanan energi.

Temuan kajian juga menunjukkan potensi nilai ekonomi karbon dari pembangkit listrik di wilayah tersebut, termasuk kesempatan penerimaan dari pungutan karbon nan dapat mendukung pembiayaan daya bersih dan program pariwisata berkelanjutan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan