Penjualan minyak mentah Arab Saudi ke China diperkirakan bakal turun drastis hingga separuh pada bulan depan, seiring perang di Iran nan mengganggu arus pasokan daya dunia dan mendorong nilai minyak naik.
Menurut para trader nan mengetahui perihal ini, eksportir minyak terbesar bumi tersebut hanya bakal mengirim sekitar 20 juta barel minyak ke pengguna di China untuk pengiriman Mei. Angka ini turun tajam dibandingkan sekitar 40 juta barel nan dialokasikan untuk April.
“Pengiriman minyak Saudi ke China diperkirakan hanya sekitar 20 juta barel untuk Mei,” ujar para trader nan enggan disebutkan namanya lantaran tidak berkuasa berbincang secara publik dikutip dari Bloomberg, Selasa (14/4).
Penurunan ini terjadi setelah Saudi Aramco meningkatkan nilai jual resmi (official selling price) minyaknya ke level tertinggi sepanjang sejarah. Kenaikan nilai dipicu oleh perang Iran nan menyebabkan penutupan efektif Selat Hormuz, jalur krusial bagi pengedaran daya global.
Meski Arab Saudi tetap mempunyai jalur ekspor pengganti melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah, kapasitasnya terbatas dan tidak bisa sepenuhnya menggantikan jalur utama di Teluk Persia.
Perang di Iran sekarang telah memasuki bulan kedua tanpa tanda mereda. Upaya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan juga kandas mencapai kesepakatan. Dalam eskalasi terbaru, Presiden Donald Trump apalagi menakut-nakuti bakal memblokade Selat Hormuz.
“Presiden Donald Trump menakut-nakuti bakal memblokade Selat Hormuz, sehingga seluruh lampau lintas kapal menuju dan keluar dari pelabuhan Iran bakal terhenti mulai pukul 10 pagi waktu Washington pada Senin,” demikian pernyataan mengenai perkembangan tersebut.
Saat ini, pelabuhan Yanbu hanya bisa mengekspor sekitar 5 juta barel per hari, jauh di bawah kapabilitas pengiriman sebelum perang nan mencapai 7,2 juta barel per hari, nan sebagian besar melalui akomodasi di Teluk Persia.
Para trader juga menyebut kilang-kilang di Asia hanya ditawari jenis minyak Arab Light melalui jalur Laut Merah.
Sementara itu, nilai referensi minyak Dubai dan Oman nan digunakan untuk menentukan nilai minyak Saudi menjadi semakin tidak stabil akibat terbatasnya pasokan di tengah bentrok nan berkepanjangan.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·