Jakarta, CNN Indonesia --
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (Sekjen PDIP) Hasto Kristiyanto mengingatkan bahwa support terhadap Palestina merupakan petunjuk konstitusi dan norma internasional dari Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955.
Hal tersebut disampaikan Hasto dalam aktivitas peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika 1955 di Sekolah Partai PDIP di Jakarta Selatan, pada Sabtu (18/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasto menegaskan keberpihakan pada Palestina bukanlah sikap politik emosional semata. Ia mengatakan pada 1955, pemimpin dari 29 negara telah menandatangani komunike politik nan secara spesifik mendukung kewenangan bangsa Arab atas Palestina.
Komitmen itulah nan kemudian menjadi tonggak sejarah ketika bangsa Asia-Afrika berani berasosiasi menyuarakan keadilan tanpa kombinasi tangan kekuatan Barat.
"Sangat jelas disebutkan adanya ketegangan di Timur Tengah akibat masalah Palestina adalah ancaman bagi perdamaian dunia. KAA menyerukan penyelenggaraan resolusi PBB dan penyelesaian damai," ujarnya.
Lebih lanjut, Hasto menilai posisi Indonesia kudu tetap teguh sebagai teladan dalam memihak kemanusiaan dan menolak segala corak pengisapan antar bangsa.
Ia lantas menyoroti kondisi geopolitik dunia nan saat ini condong mengarah ke kekerasan. Menurutnya, tanpa pegangan sejarah nan kuat, diplomasi Indonesia bakal terlihat gamang.
Oleh karenanya, PDIP terus mendorong narasi pembebasan bagi bangsa-bangsa tertindas sebagai inti dari politik luar negeri bebas aktif.
Hasto menambahkan pemikiran geopolitik Presiden pertama Soekarno ialah Progressive Geopolitical Co-existence sangatlah relevan untuk meredam bentrok dunia hari ini.
Konsep ini, kata dia, menekankan pada koeksistensi tenteram namun tetap progresif dalam memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh dunia. Hasto kemudian mendorong agar sejarah nan ada dapat menjadi dasar dalam perumusan kebijakan luar negeri.
Dalam kesempatan nan sama, Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah mengatakan Bung Karno dalam KAA juga telah menegaskan bahwa kemerdekaan dan perdamaian adalah dua perihal tak terpisahkan.
"Perdamaian adalah prasyarat bagi kemerdekaan, karena tanpa perdamaian, kemerdekaan bakal kehilangan makna dan nilainya," tuturnya.
Basarah mengingatkan saat ini kolonialisme belum sepenuhnya berakhir, melainkan beralih bentuk menjadi neo-kolonialisme dalam corak kekuasaan ekonomi, ketergantungan teknologi, dan tekanan geopolitik.
Kondisi itu, kata dia, tercermin lewat krisis dunia seperti bentrok bersenjata, rivalitas AS-Tiongkok, perang Rusia-Ukraina, agresi militer AS-Israel terhadap Iran, penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, hingga blokade AS terhadap Kuba.
"Runtuhnya kolonialisme lama tidak berfaedah berakhirnya imperialisme. Imperialisme bakal terus berganti wajah, berganti strategi, dan berganti instrumen," pungkasnya.
(tfq/bac)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·