Menkes Soal Bahaya Campak: 1 Pasien Bisa Menulari hingga 18 Orang

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan paparan saat mengikuti rapat kerja berbareng Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/2/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan tingginya tingkat penularan penyakit campak, nan disebut sebagai salah satu penyakit menular paling sigap menyebar di dunia.

Ia menyebut, satu orang penderita balang dapat menularkan virus tersebut hingga ke 18 orang lainnya.

“Jadi memang balang ini virusnya sudah lama. Dan merupakan penyakit menular nan penularannya paling tinggi. Kita ngomongnya reproduction rate-nya. Jadi jika COVID dulu di awal-awal satu orang nularin tiga, nularin empat. Waktu Omicron bisa delapan gitu, ya. Nah, balang ini satu orang bisa nularin sampai 18, ya,” ujar Budi dalam rapat berbareng Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/4).

“Katanya sih rata-rata 15. Jadi ini penyakit nan di seluruh dunia, penyakit menular nan paling menular, ya, paling menular,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, meski tingkat penularannya sangat tinggi, balang umumnya tidak mematikan secara langsung. Namun, komplikasi nan ditimbulkan dapat berakibat fatal.

“Dia obatnya juga sudah ada, maksudnya treatment-nya sudah ada, efektif, dan biasanya enggak mematikan. Dia mematikan lantaran ada pengaruh sampingnya. Biasanya bisa jangkitan di paru alias jangkitan juga di otak gitu, ya. Jadi meninggalnya lantaran pengaruh samping dari penyakit ini sendiri. Sama seperti COVID juga meninggalnya lantaran pengaruh samping dari antibodinya kita terhadap virus itu,” jelasnya.

Budi menambahkan, seperti penyakit menular lainnya, balang sebenarnya dapat dikendalikan melalui vaksinasi. Ia menilai munculnya pandemi alias lonjakan kasus biasanya berangkaian dengan rendahnya cakupan imunisasi.

“Nah, dia sudah ada vaksinnya. Sama seperti COVID. Jadi nyaris semua penyakit menular, begitu sudah ada vaksinnya, harusnya bisa ditangani. Jadi jika ada outbreak-outbreak, itu sudah nyaris pasti lantaran vaksinasinya enggak melangkah dengan baik. Nah, itu nan kita alami juga di balang ini, ya,” kata Budi.

“Jadi sekali lagi, ini adalah penyakit penular nan sudah lama. Ini penyakit menular nan paling tinggi penularannya. Kemudian sebenarnya tidak apa istilahnya? Tidak semematikan penyakit seperti Ebola alias even tuberkulosis. Dan penyebab kematiannya adalah lantaran pengaruh sampingnya. Karena pengaruh sampingnya,” sambung dia.

Selain aspek vaksinasi, Budi juga menyoroti pola musiman dalam penyebaran balang nan berangkaian dengan mobilitas masyarakat, khususnya anak-anak.

“Kita juga lihat jika dari info di dunia, balang itu kok lucu, seakan ada musimannya. Jadi jika kelak kita bicara dengue, dengue itu betul-betul ada musiman tergantung dari El Nino. Kalau El Nino naik, dia naik. Jadi musiman. Nah, balang kelihatannya juga seperti itu,” jelasnya.

Menurutnya, peningkatan kasus balang pada awal tahun lebih dipengaruhi oleh aktivitas sosial, terutama saat anak-anak kembali bersekolah.

“Jadi di seluruh bumi di awal tahun selalu tinggi. Jadi saya sempat tanya-tanya apakah ada akibat musim alias cuaca. Ternyata tidak. Itu dampaknya lantaran mobilitas. Jadi di seluruh bumi itu awal tahun biasanya anak-anak sekolah, mulai sekolah. Nah, di situlah penularan terjadi. Karena penularannya cepat, ya,” kata Budi.

Ia juga menambahkan, di negara dengan musim dingin, penyebaran balang condong lebih tinggi lantaran masyarakat lebih sering berada di dalam ruangan dengan jarak nan dekat.

“Itu juga nan terjadi di awal tahun ini. Tapi kita lihat memang selalu naik. Dan tingginya justru di wilayah negara dingin. Karena jika di Januari juga, lantaran dingin, orang jadi ngumpulnya dekat-dekatan gitu,” ujar Budi.

“Kalau di kita kan lebih main di luar, enggak hanya ngumpul di satu ruangan tertentu. Sehingga pada saat dekat-dekat musim dingin, biasanya terjadi kenaikan juga dari campak, ya. Jadi ini lebih kepada mobilitas kenapa terjadi penularan ini, gitu, ya,” pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan