Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari merespons sorotan mengenai pernyataan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengenai kejadian "inflasi pengamat".
Ia menegaskan pemerintah tidak anti kritik, namun menekankan pentingnya penggunaan info nan jeli dalam menyampaikan pendapat.
"Nggak, nggak antikritik. nan ditekankan itu harusnya adalah soal penggunaan info nan tepat dan jeli dalam memberikan pendapat," ujar Qodari di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/4).
"Pakai data, pakai teori — itu sebetulnya nan ditekankan jika saya melihatnya," lanjutnya.
Berlaku untuk Semua, Terutama Pengamat Berlatar Akademik
Qodari menambahkan, prinsip penggunaan info bertindak untuk semua pihak — namun terutama bagi kalangan pengamat nan umumnya mempunyai latar belakang akademik.
"Menurut saya itu bertindak untuk siapa saja, tapi terutama pengamat, lantaran pengamat itu biasanya berasal dari latar belakang akademik," katanya.
Pernyataan Qodari merespons pernyataan Teddy Indra Wijaya nan menyoroti kejadian "inflasi pengamat" di tengah maraknya opini publik dari beragam kalangan.
Teddy menilai jumlah pengamat saat ini meningkat pesat, namun tidak semuanya mempunyai latar belakang maupun info nan relevan. Ia mencontohkan munculnya pengamat di beragam bagian — mulai dari pangan hingga militer — nan dinilai tidak sesuai dengan keahliannya.
"Sekarang ini ada kejadian nan namanya inflasi pengamat. Banyak sekali pengamat — ada pengamat beras tapi latar belakangnya bukan di situ, ada pengamat militer, ada pengamat luar negeri. Dan pengamat-pengamat itu datanya tidak sesuai fakta, datanya keliru," ujar Teddy di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (10/4).
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·