Krisis Pangan Memburuk, Jutaan Warga Sudan Makan Sekali Sehari

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Seorang wanita Sudan nan mengungsi saat membikin teh di tenda darurat setelah melarikan diri dari kota Al-Fashir di Darfur, di Tawila, Sudan, 29 Oktober 2025. Foto: REUTERS/Mohamed Jamal

Jutaan penduduk Sudan sekarang memperkuat hidup dengan hanya satu kali makan per hari di tengah krisis pangan nan kian memburuk.

Perang nan memasuki tahun ketiga mendorong negara itu semakin dekat ke lembah kelaparan massal.

Laporan nan dirilis Senin (12/4) oleh sejumlah LSM internasional menyebut, di wilayah paling terdampak seperti Darfur Utara dan Kordofan Selatan, banyak family apalagi tidak makan sama sekali dalam beberapa hari.

"Di dua wilayah nan paling parah terdampak konflik, jutaan family hanya bisa mengakses satu kali makan per hari," demikian isi laporan tersebut, dilansir Reuters.

"Sering kali, mereka melewatkan makan selama berhari-hari," lanjut laporan itu, seraya menambahkan banyak penduduk terpaksa mengonsumsi daun hingga pakan ternak untuk memperkuat hidup.

Konflik antara militer Sudan dan golongan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) telah menyebabkan jutaan orang mengungsi serta memperparah krisis kemanusiaan terbesar di bumi saat ini.

Warga Sudan nan mengungsi dari El-Fasher ke tempat penampungan sementaranya di kamp Um Yanqur, nan terletak di tepi barat daya Tawila, di wilayah Darfur barat Sudan, Senin (3/11/2025). Foto: AFP

Menurut info rencana kemanusiaan 2026, sekitar 61,7% populasi Sudan alias 28,9 juta orang sekarang berada dalam kondisi rawan pangan akut. Bahkan pada Februari, pemantau ketahanan pangan dunia mencatat periode kelaparan akut telah terlampaui di sejumlah wilayah, dengan tingkat malnutrisi anak nyaris dua kali lipat dari pemisah darurat.

Meski demikian, pemerintah Sudan membantah adanya kelaparan massal, sementara RSF juga menolak bertanggung jawab atas kondisi di wilayah nan mereka kuasai.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya melaporkan beragam kekejaman dan kekerasan bernuansa etnis nan meluas. Bahkan, pada November lalu, kondisi kelaparan resmi terkonfirmasi di beberapa wilayah seperti Al-Fashir dan Kadugli.

Seorang petugas medis menunggu di sebuah klinik darurat sementara penduduk Sudan nan mengungsi berkumpul setelah melarikan diri dari kota Al-Fashir di Darfur, di Tawila, Sudan, 29 Oktober 2025. Foto: REUTERS/Mohamed Jamal

Laporan ini juga menyoroti gimana perang menghancurkan sektor pertanian, mulai dari ladang hingga pasar, serta penggunaan kelaparan sebagai "senjata perang".

Dapur umum nan menjadi tumpuan penduduk sekarang kewalahan, sementara pemotongan biaya support internasional semakin membatasi keahlian lembaga kemanusiaan.

Perempuan dan anak-anak gadis menjadi golongan paling rentan, dengan akibat tinggi mengalami kekerasan saat mencari makanan alias air. Rumah tangga nan dipimpin wanita apalagi tiga kali lebih berisiko mengalami krisis pangan dibandingkan nan dipimpin laki-laki.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan