Sementara itu, Wali Kota Kupang Christian Widodo menegaskan kesiapan penuh Pemkot Kupang untuk beralih bentuk dan menjawab tantangan tersebut.
"Kami sadar, membangun sistem pengelolaan sampah bukan pekerjaan instan. Tapi kami punya komitmen kuat. Kami mulai dari nol, membangun roadmap nan jelas, dari hulu ke hilir," kata dia.
Christian menjelaskan, Kota Kupang saat ini memproduksi sekitar 267 ton sampah per hari. Untuk itu, pemkot telah merancang sistem pengelolaan berbasis wilayah, dengan sasaran setiap kecamatan mempunyai Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), sehingga hanya residu nan dibuang ke tempat TPA.
"Kami tidak mau lagi hanya memindahkan sampah dari satu titik ke titik lain. Harus ada pengolahan. Target kami, hanya 15 persen residu nan masuk ke TPA," kata dia.
Selain itu, lanjut Christian, beragam penemuan juga telah dilakukan, mulai dari pembentukan Satgas Penanganan Sampah, pengaturan jam buang sampah, penyediaan ratusan kontainer, hingga lomba kebersihan antar kelurahan dengan insentif program senilai hingga Rp1 miliar.
Namun demikian, dia mengakui, tantangan terbesar tetap terletak pada kesadaran dan partisipasi masyarakat.
"Mengubah kebiasaan itu tidak mudah. Tapi kami tidak bakal berhenti. Edukasi terus kami lakukan, dari sekolah, gereja, hingga tingkat RT," jelas Christian.
Pertemuan tersebut ditutup dengan kesepakatan untuk memperkuat koordinasi dan pendampingan berkelanjutan, termasuk pemantauan progres secara berkala.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·