Kasus di Gunung Ungaran, Dokter Ungkap Alasan Balita Rawan Kena Hipotermia

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Pemandangan Gunung Ungaran dari Desa Promasan. Foto: Muhammad Naufal/kumparan

Sebuah video seorang anak balita berumur 1,5 tahun mengalami hipotermia saat diajak kedua orang tuanya mendaki Gunung Ungaran, Jawa Tengah viral di media sosial. Untungnya, anak tersebut sukses diselamatkan berkah mobilitas sigap Tim SAR Semarang.

Saat kejadian, balita asal Tembalang, Semarang itu diketahui mendaki berbareng ayah dan ibunya. Mereka sukses mencapai puncak sekitar pukul 14.00 WIB.

Balita tersebut terus menangis dan menunjukkan tanda-tanda kedinginan ekstrem.

Ilustrasi bayi kedinginan. Foto: Shutter Stock

Lantas, seberapa ancaman bayi alias balita diajak mendaki gunung dan gimana dampaknya terhadap si bayi? Ini penjelasan dokter.

dr. Muhammad Iqbal El Mubarak, SpB menegaskan balita sangat rentan mengalami hipotermia saat berada di area pegunungan, terutama pada letak dengan suhu dingin, lembap, dan berada di ketinggian tertentu.

Ia menyoroti kasus balita nan mengalami hipotermia saat pendakian di Gunung Ungaran. Menurutnya, akibat hipotermia pada balita jauh lebih tinggi dibanding orang dewasa.

“Naik gunung saja sudah punya potensi hipotermia. Apalagi balita dibawa ke tempat tinggi dan lembap, tentu risikonya bisa dua kali lipat,” ujarnya saat dihubungi kumparan pada Senin (13/4).

Ilustrasi bayi kedinginan. Foto: Shutter Stock

Iqbal menjelaskan, balita dan bayi mempunyai daya tahan tubuh nan belum sempurna sehingga lebih mudah terserang gangguan kesehatan. Selain suhu dingin, kondisi pegunungan juga berisiko memicu jangkitan saluran pernapasan atas (ISPA), alergi akibat serbuk tumbuhan, serta dehidrasi.

“Kulit bayi lebih tipis dibanding orang dewasa, sehingga udara dingin lebih mudah masuk ke tubuh. Kebutuhan cairan mereka juga lebih tinggi,” lanjutnya.

Ia menilai balita usia 1,5 tahun belum ideal diajak mendaki gunung, terlebih ke area dengan ketinggian lebih dari 1.500 meter di atas permukaan laut.

“Belum saatnya dia naik gunung seperti itu. Risiko hipotermianya bisa tiga sampai empat kali lebih besar,” jelasnya.

Tanda Hipotermia pada Bayi

Gunung Ungaran di Semarang, Jawa Tengah. Foto: W2kid/Shutterstock

Menurut Iqbal, salah satu tanda hipotermia pada bayi adalah menangis terus-menerus. Jika tangisan tetap keras dan melengking, kondisi umumnya tetap stabil. Namun jika bunyi tangisan melemah, perihal itu perlu diwaspadai sebagai tanda kondisi memburuk.

Ia menambahkan, penanganan sigap sangat krusial untuk mencegah akibat fatal. Balita nan mengalami hipotermia kudu segera dihangatkan, dibungkus dengan pelindung seperti aluminium foil alias selimut hangat, diberikan ASI alias cairan hangat, lampau segera dibawa turun ke letak nan lebih hangat.

“Kalau hipotermia berat bisa mengganggu listrik jantung dan berisiko menyebabkan kematian jika terlambat ditangani,” ujarnya.

instagram embed

Terkait usia kondusif anak untuk dikenalkan pada aktivitas alam bebas, Iqbal menyarankan anak sebaiknya sudah bisa berjalan, makan dan minum sendiri, serta bisa menyampaikan keluhan dengan jelas.

“Minimal saat anak sudah lebih mandiri, misalnya usia sekolah dasar awal. Jadi jika ada masalah, anak bisa memberi kode dengan jelas, bukan hanya menangis,” katanya.

Ia juga mengingatkan orang tua agar tidak membawa anak ke letak dengan ketinggian di atas 2.000 mdpl, memilih jalur wisata nan mudah dievakuasi, mempunyai akses kendaraan, akomodasi kesehatan, serta kondisi cuaca nan bersahabat.

Selain itu, perlengkapan anak kudu lebih komplit dibanding orang dewasa, termasuk jaket hangat, makanan bergizi, dan asupan cairan nan cukup selama perjalanan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan