Praktik perjokian penyelenggaraan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 di 3 kampus negeri di Surabaya, terbongkar. Mereka menggunakan modus mengganti identitas peserta.
Ketiga kampus tersebut ialah Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPNVJT), Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Di UPNVJT, seorang peserta terindikasi menggunakan identitas nan tidak sesuai saat mengikuti ujian sesi pertama pada Selasa (21/4).
Peserta itu memilih program studi kedokteran di Universitas Brawijaya dan Universitas Jember dengan letak ujian di UPNVJT.
Hal ini terkuak setelah pengawas memandang gelagat salah satu peserta nan tampak gelisah.
Setelah diperiksa, ditemukan ketidaksesuaian antara identitas resmi dengan orang nan mengikuti tes. Atas temuan itu panitia langsung melaporkan ke panitia pusat UTBK.
"Kami sudah mencatat dalam buletin aktivitas dan melaporkannya ke pusat. Saat ini tetap kami proses secara internal," kata Staf Humas UPNVJT, Nizwan Amin saat dikonfirmasi, Rabu (22/4).
Lalu, praktik kecurangan UTBK 2026 itu juga diduga ditemukan di Unair Surabaya. Panitia menemukan adanya keterkaitan info foto peserta nan pernah mengikuti tes pada tahun 2025.
Namun, pihak kampus menyampaikan bahwa peserta itu tidak datang saat ujian berjalan pada Selasa (21/4) kemarin.
"Fotonya terindikasi sama dengan peserta tahun 2025 sehingga sudah kami waspadai. Namun, nan berkepentingan tidak datang di Unair," ujar Ketua Pusat Hubungan Masyarakat dan Protokol Unair, Pulung Siswantara.
Pulung menyampaikan, penyelenggaraan UTBK di Unair sejauh ini melangkah lancar tanpa ada temuan pelanggaran lain.
"Secara keseluruhan melangkah sesuai aturan. Tidak ada pelanggaran lain, hanya nan kami waspadai dari info panitia pusat tersebut," katanya.
Kemudian, di Unesa Surabaya terungkap perjokian UTBK dengan modus nan sama, ialah memanipulasi identitas foto peserta.
Peserta nan terlibat mendaftar pada program studi kedokteran di Universitas Negeri Malang.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, mengatakan terduga pelaku menggunakan identitas milik orang lain namun mengganti fotonya di arsip resmi.
"Modusnya menggunakan identitas nan dijoki. Namanya tetap nama peserta asli, tetapi fotonya diganti dengan orang nan mengerjakan ujian," ucap Martadi.
Praktik itu terbongkar setelah panitia mencocokkan info lintas tahun. Dari penelusuran itu, ditemukan kejanggalan foto nan sama persis tapi digunakan pada identitas berbeda.
"Data ini kami bandingkan dengan tahun lalu, fotonya sama, tetapi namanya berbeda. Dari situ kami mulai curiga," ujarnya.
Panitia lampau melakukan verifikasi lanjutan termasuk ke sekolah asal peserta. Hasilnya, foto pada dokumennya tidak sesuai dengan identitas asli.
Terduga telaku sempat mengikuti tes sebelum akhirnya diamankan untuk dimintai keterangan pada Selasa (21/4).
"Sekarang sedang diproses di kepolisian. Sementara ini ditangani di Polsek untuk pendalaman lebih lanjut," ucap dia.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·